Diamnya Istriku

Diamnya Istriku
Bab 32 Revan Siaga


__ADS_3

Pekikan dari Khansa membuat Revan dan yang lainnya tersadar, bahkan Andin meneteskan air mata dengan penuh haru serta bahagia.


Setelah Dokter berpamitan, Revan memeluk Khansa dan Andin bersamaan, karena memang Khansa sedang memeluk Bunda nya.


Mereka tersenyum bahagia, tak bisa di pungkiri bahwa ini adalah kebahagian yang brgitu berlipat di dalam ke hidupan Revan.


Ibu yang melihat nya tersenyum bahagia, sudah sejak lama ia merindukan senyuman tulus dari sang Putra yang memang jarang terlihat.


Aku bahagia melihatmu begini, Nak. Semoga saja kalian bahagia selalu dan di jauhkan dari segala marabahaya yang akan datang.


*


Setelah drama penuh haru selesai, Revan semakin posesif dan membatasi semua pergerakan dari Andin yang akan membuatnya kelelahan.


Bahkan, Khansa pun ikut serta apa yang di lakukan oleh Revan dan sangat menyetujui nya.


Andin? Ia hanya bisa pasrah dan menurut saja. Karena semua itu memang demi kebaikannya sendiri dan sang calon babby.


Seperti saat ini, Andin masih rebahan dan bermanja pada Revan yang memang sudah sangat ia rindukan.


Khansa sendiri pergi ke bawah dan bermain bersama dengan sang Nenek, ia membiarkan Bunda nya istirahat bersama dengan sang Ayah.


"Nenek, aku tadi melihat Ayah Candra yang sedang berdebat dengan satpam sekolah"


Hah.


"Bagaimana bisa, Nak? Mau apa dia, kalau mau ketemu tidak perlu berdebat"


Khansa menatap Nenek nya berkaca-kaca, ia lalu membuang nafas perlahan.

__ADS_1


"Aku sempat mendengar bahwa Ayah akan membawa ku dengan dalih menjemput, bahkan dia berbicara bahwa dia di suruh Bunda"


"Namun, Pak satpam tak percaya dan menghubungi Ayah Revan"


Ibu memeluk sang Cucu dengan hangat, dia tak tau apa yang saat ini Khansa pikirkan.


"Apa kamu ingin pergi bersama dengan Ayah Candra, kalau iya nanti Nenek bicara pada Bunda"


"Tidak, aku tidak mau bertemu Ayah karena dia sudah jahat kepada Bunda. Dia bahkan sudah membuat Bunda menangis"


Khansa menolak nya dengan tegas, kekecewaan nya pada Candra begitu dalam dan juga melekat di pikiran kecil nya.


Namun, bukan berarti ia membenci atau dendam pada sang Ayah. Khansa hanya kecewa saja dan oleh sebab itu ia memilih menjauh dari Candra.


Setelah puas berbincang bersama dengan sang Nenek, Khansa memilih menemui kedua orangtua nya di kamar.


Tok


Tok


Ceklek.


Pintu terbuka, dan nampaklah Revan dengan wajah segar nya.


"Ayo masuk sayang"


Khansa mengangguk dengan senyuman indah di wajah nya, dia menghampiri sang Bunda yang sedang duduk di atas ranjang.


Khansa merangkak dan memeluk Bunda nya dengan erat, dia merebahkan kepala nya di paha sang Bunda.

__ADS_1


"Kenapa Kak?"


"Tadi Kakak melihat Ayah Candra di pos satpam sedang berdebat, dia ingin menjemput Kakak namun di larang oleh mereka"


Deg.


Andin menatap Revan, dan Revan menganggukan kepala nya dengan wajah yang sulit di artikan.


Kemudian Revan mendekat ke arah Andin dan juga Khansa, dia duduk di hadapan kedua wanita yang sangat ia sayangi itu


"Aku sudah urus semuanya, dia tidak akan bisa menjemput ataupun membawa Khansa dari manapun. Karena aku sudah menempatkan beberapa pengawal untuk Kakak"


Huh.


Cup.


"Nak, jika memang kamu ingin bertemu Ayah kandungmu kelak jangan sungkan untuk berbicara pada Bunda. Karena Bunda tidak akan melarangmu, hanya saja Bunda akan menemani mu sayang"


Khansa menganggukan kepala nya, dia memeluk pinggang sang Bunda dengan penuh kenyamanan.


Begitupun Revan, dia memeluk Andin dari samping dan mengecup kepala Khansa lembut.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2