
Sudah beberapa hari ini Candra dan Marisa tak bertegur sapa seperti pada biasanya.
Bahkan Marisa sendiri hanya bisa menghela nafas dengan perilaku yang cukup dingin dan juga cuek dari Candra.
"Mas, kenapa kamu cuek sama aku? Apa salahku, Mas?"
Candra menghentikan kunyahan makannya, ia menhela nafas dan menatap Marisa.
"Cobalah berubah dan bersikap dewasa, kamu sekarang sudah menikah dan akan menjadi seorang Ibu. Jangan apa-apa di ceritakan pada oranglain, termasuk pada orangtua mu"
"Aku berangkat dulu"
Marisa tidak bereaksi apapun, dia duduk dan mengepalkan tangan dengan cukup kuat.
Bahkan nafas nya cukup memburu karena menahan emosi dan amarah yang seakan akan membuludak.
"Ck, aku ini tidak biasa di ginikan dan aku ya aku bukan oranglain apalagi Mbak Andin"
Suara Marisa terdengar sangat serak, dia menahan amarah karena lagi dan lagi Candra membandingkannya dengan oranglain walaupun tidak secara langsung.
Dengan perasaan dongkol yang sangat kentara, Marisa masuk ke dalam kamar dan mengambil tas serta ponselnya. Dia memutuskan untuk pergi ke Mall jalan-jalan dan shoping sepuasnya.
🐰
Marisa melangkahkan kaki jenjang nya ke arah toko tas yang sudah menjadi langganannya, dia melihat-lihat dan membeli satu yang menarik atensi netra mata nya.
Hingga dari toko ke toko dia singgahi dan membeli beberapa yang dia mau dan keperluan untuk dirinya serta sang babby dalam perut, tak lupa ia juga membeli untuk sang Suami.
Mood nya kembali bagus, Marisa yang sudah lelah pun memilih singgah di outlet makanan yang menjadi favorit nya.
Namun, langkahnya terhenti kala mata nya melihat Candra yang sedang duduk berdua dengan seorang wanita yang sangat cantik dan juga modis, dengan hati yang bergemuruh Marisa pun langsung mendekati mereka dan,
Byur.
"Ahhhhhhh, apa-apaan ini?"
"Marisa"
"Nona Marisa"
Candra dan Asisten nya yang baru saja tiba pun menatap kaget, namun dengan segera mereka tersadar kembali saat wanita yang Marisa tumpahi air memekik marah.
__ADS_1
"Apa-apaan ini Tuan Candra? Kenapa dia sangat berani sekali pada saya"
"Hei kau yang apaan, kenapa kau makan bersama Suamiku? Apa kau pelakor?"
Plak.
"Jaga ucapan anda Nona, saya ini klien Tuan Candra. Dan maaf sekali Tuan Candra, aku membatalkan kontrak kerja ini dan kita tidak perlu terlibat apapun lagi"
Brak.
Wanita tersebut pun melemparkan beberapa berkas dan salah satu nya sudah ia robek serta di hamburkan di hadapan Marisa.
Setelah itu, wanita tersebut langsung pergi dengan amarah yang masih memburu.
Candra?
Dia terduduk lemas dan menatap berkas nya nanar, dia rela bergadang dan juga lembur demi proyek ini berjalan lancar, namun semuanya hancur sebelum semuanya terjadi.
"Ma mas, apa benar dia klien kamu?"
Marisa bertanya dengan tatapan yang takut, dia menatap Candra yang meremas berkas di depannya tanpa sepatah katapun.
"Sudahlah Anton, dia tidak akan mengerti"
Candra pergi dari sana dengan kegagalan yang sudah di depan mata nya, bahkan ia sangat enggan menatap sang Istri yang masih ada disana.
Anton dan Candra pergi kembali ke perusahaan, keduanya meninggalkan Marisa yang masih menjadi tontonan pelanggan disana.
*
Saat tiba di perusahaan, Candra serta Anton sudah di tunggu oleh Tuan Gilang yang berada di lobby perusahaan dengan amarah yang cukup memuncak.
Bugh.
"Kenapa kau membuat masalah dengan klien penting dan sekarang dia memutuskan kerja sama dengan perusahaan kita, kau bodoh sekali"
Pukulan dan umpatan di layangkan sang mertua pada Candra, dia sama sekali tidak bertanya apapun yang terjadi dan bagaimana kronologi nya.
"Maaf Tuan, anda bisa lihat ini rekaman CCTV yang ada di outlett makanan saat kami sedang meeting tadi"
Dengan sigap Anton memberikan ponsel nya, dia lalu membantu Candra untuk mengobati luka di wajah nya.
__ADS_1
Beberapa karyawan pun memberikan obat dan keperluan lainnya pada Anton, bahkan mereka bisa mendengarkan bahwa dalam vidio itu Putri sang CEO lah yang membuat ulah.
Tuan Gilang pun terdiam, dia menatap menantu nya yang hanya diam saja dan tak melakukan pembelaan apapun saat tadi dia maki.
"Candra"
Panggil nya dengan melangkah mendekati sang menantu, namun Candra berlalu dan masuk ke dalam mobil milik nya.
Dia akan pulang dan istirahat, pikiran dan perasaannya sedang tidak baik-baik saja dan mood nya hancur.
"Maaf sekali lagi Tuan, kami disini selalu membantu dan menemani Tuan Candra lembur demi mendapatkan proyek besar, saat semua sudah di depan mata dan kami bahagia namun saat itu juga semua hancur karena ulah Putri anda"
Setelah mengatakan hal itupun Anton pergi ke ruangannya, dia juga merasakan kecewa dan marah saat perjuangannya bersama dengan yang lain malah berantakan dengan geli nya di depan mata.
🐰
Mobil yang di lajukan oleh Candra pun sampai di Rumah, ia masuk dan di suguhi Rumah yang masih berantakan serta bekas makanan belum di cuci dan di bereskan.
Brak.
Prang.
Dengan penuh amarah dan kekesalan Candra menendang kursi di depannya dan memecahkan pot bunga yanga da di atas meja.
Setelah itu ia baru memanggil tetangga nya yang selalu membantun Andin dulu di kala sedang kerepotan dengan urusan dan tetangga itulah yang akan membersihkan serta memasak.
"Mbak bereskan dan ini untuk membeli sayuran, saya mau istirahat di kamar dulu"
Candra masuk dengan lunglai, dia langsung merebahkam dirinya dan mulai memejamkan mata nya.
Dia tak peduli pada Marisa yang belum ada di Rumah sejak kedatangannya tadi.
.
.
.
.
.
__ADS_1