
Bulan telah berganti, kelahiran Marisa sudah di prediksi akan minggu-minggu ini oleh sang Dokter.
Namun, semuanya bisa maju ataupun mundur karena itu baru sebuah prediksi saja.
Hubungan keduanya masih sedikit renggang dan tak seharmonis dulu, bahkan Candra juga bekerja di perusahaannya sendiri hasil merintis bersama dengan Anton, Asistennya.
Ya, sejak hari dimana Candra di maki dan di pukul oleh sang mertua tepat di hari itu juga dia mengundurkan diri dan bermodal nekad ia membuka perusahaan dari nol.
Dan, dalam beberapa bulan ini ia mampu melesatkan produk milik nya dan hampir melampaui perusahaan milik sang mertua.
C'ndra Group.
Perusahaan yang bergerak di bidang fashion dan juga kecantikan, yang memang saat itu Anton mempunyai teman yang berprofesi di bidang hal itu.
Marisa? Dia tentu bahagia!
Namun, di balik kebahagian itu dia kesal karena tak bisa menekan Candra dan menghamburkan uang milik nya lagi.
🐰
Malam ini Candra pulang larut malam, dia ada pertemuan yang cukup penting dengan klien terbaru nya dan hal itu tak bisa dia tunda dengan alasan sudah malam.
Marisa masih menunggu nya dengan setia, dia mematikan televisi dan menyambut Candra yang baru saja masuk ke dalam Rumah milik nya.
"Mas, apa sudah makan malam?"
Pertanyaan yang sering kali ini Candra dapatkan dari mulut Marisa, seharus nya ia bahagia dan senang karena mendapatkan perhatian itu. Namun, semuanya terasa hambar dan Candra merasa biasa saja dan tidak tersanjung sama sekali.
"Sudah, kamu istirahatlah lebih dulu karena aku akan ke ruang kerja sebentar"
Huh.
"Baiklah, Mas"
Marisa melangkah meninggalkan Candra yang masih menatap nya, hingga tubuh Marisa menghilang di balik pintu baru Candra menuju ke ruang kerja yang tak jauh dari sana.
Ceklek.
Klik.
Pintu terbuka dan Candra langsung saja menyalakan lampu disana, tak lupa juga ia mengunci kembali agar tak ada yang masuk termasuk Marisa sendiri.
Heh.
Sudah hampir 8 bulan berlalu dan Andin serta kedua orangtua nya tak pernah Candra temukan.
Dia diam-diam mencari Andin dan Putri nya, karena ia merasakan rindu. Candra juga mencari kedua orangtua nya untuk ia boyong kembali kesini dan bahagia bersama, tetapi hingga sekarang ia tidak bisa menemukan di antara mereka sama sekali.
Bahkan Candra sendiri sudah mengerahkan beberapa orang suruhannya dan juga detektif, tetapi semuanya nihil dan kemarin malam ia menghentikan semua nya karena merasa sangat sia-sia saja.
Andin, mulai saat ini dan kedepannya aku tidak akan mengingat dan mencarimu lagi. Karena kepergianmu bukan kehendakku dan semua itu murni keinganmu sendiri.
__ADS_1
Aku merasa kau gegabah meninggalkan aku yang sekarang sudah sukses dan juga maju, apa jika bertemu nanti kau akan menyesal, Andin.
Candra terkekeh mengingat kegigihan Andin yang tetap memilih pergi dan bercerai dengannya.
Pikir Candra Andin hanya menggertak saja, namun surat pengadilan membuktikan semuanya dan dia tidak menyesal sama sekali.
Apalagi saat ini Candra sudah punya perusahaan dan menghasilkan uang lebih banyak tanpa di perintah oranglain lagi.
Egois?
Ya, itulah Candra yang semakin arogant kala dirinya sudah berada di atas. Tanpa dia tau bahwa angin yang akan menerpa nya lebih besar jika kita oleng sedikit saja.
Fokus Candra saat ini akan mencari kedua orangtua nya, karena ia baru saja mendapat pesan bahwa salah satu dari orang suruhannya sudah mendapatkan titik lokasi dari keduanya dan besok pagi akan langsung menjemput nya.
Hampir dini hari Candra berada disana, dan tepat jam 3 dia memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya untuk istirahat karena esok pagi akan melakukan perjalanan yang cukup jauh.
...****************...
Ke esokan pagi nya, cuaca begitu cerah dan sangat mendukung Candra untuk pergi ke kampung dimana kedua orangtua nya berada.
Marisa juga memutuskan ikut kesana setelah merengek dan berdebat kali lebar bersama Candra, dan pada akhirnya Candra hanya bisa pasrah serta mengiyakan saja.
Kedua mobil pun melaju membelah jalanan yang mulai ramai dengan kendaraan, Candra bersama Anton dan mobil satu lagi hanya ada sopir dan orang suruhannya saja yang akan khusus di pakai oleh orangtua nya nanti.
"Mas, jika kedua orangtuamu tak mau jangan di paksa"
Sring.
"Aku akan tetap membawa nya, karena mereka juga harus menikmati hasil kerja kerasku"
Deg.
Jantung Marisa serasa di pompa lebih cepat, ia begitu kaget saat mendengar suara bentakan yang sangat menyeramkan itu dari Suami nya.
Sudah lama memang Marisa tak membuat ulah dan diam saja tanpa membuat mood Candra rusak, dan baru hari ini ia mendapatkan bentakan itu kembali.
Ck, egois sekali dia sama saja seperti Ayah nya.
Anton yang hanya diam saja sesekali melirik ke arah Marisa dari kaca depan, dia tak habis pikir dengan ucapan dan pikiran istri dari Bos nya itu.
*
Hingga perjalanan itu sampai juga di sebuah kampung yang masih sangat segar dan tampak bersih dari folusi.
Candra membuka kaca mobil dan menghirup udara dengan sangat segar, ia begitu menyukai hal ini dan sangat menenangkan jiwa nya.
Dan, sampailah mereka di Rumah yang sangat sederhana namun begitu rapih dan enak di pandang.
Candra dengan cepat membuka pintu dan menghampiri kedua orangtua nya yang sedang di maki oleh seorang wanita yang tak jauh beda dari sang Bunda.
"Ada apa ini? Kenapa anda memaki Bunda dan Ayah saya"
__ADS_1
Candra datang dengan wajah memerah karena tak terima ketika orangtua nya di maki dengan sangat keji.
"Dia punya hutang pada saya, hari ini sudah habis tempo dan harus segera di bayar"
"Berapa?"
Heh.
Wanita itu menatap Candra dengan tatapan merendahkan, karena memang Candra datang dengan pakaian casual namun berharga fantastic.
"2 juta"
Anton menggelengkan kepala saja saat mendengar nominal yang di sebutkan oleh wanita itu, ia dengan sigap langsung membayar nya dan Marisa hanya berdecih kesal.
Sedangkan Ayah dan Bunda Candra masih terdiam, mereka kaget karena tak menyangka bahwa Candra akan menemukan mereka disini.
"Kalian cepat kemasi barang-barang kedua orangtua saya dan nanti bawa pergi"
Candra langsung memerintah pada orang suruhan yang berjaga disana.
Sedangkan dia saat ini menatap Ayah dan Bunda nya penuh kerinduan.
"Ayo kalian pergi dengan Candra dari sini"
Gelengan kepala kompak di berikan oleh keduanya pada Candra, dan hal itu sangat membuat Candra sakit.
"Jika kalian tidak ikut, maka aku akan membakar Rumah ini dan ladang yang siap panen di belakang"
Deg.
"Jangan, jangan lakukan hal itu Candra"
Ck.
"Maka dengan itu ikutlah aku sekarang juga dan jangan membantah, karena kalau saja kalian membantah maka aku akan membakar nya saat ini juga"
Dengan sangat terpaksa Ayah serta Bunda ikut bersama dengan Candra, mereka tak mau Candra membuat ulah dan membakar hangus peninggalan orangtua sang Bunda satu-satu nya itu.
Kau sudah sangat berubah, Nak.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1