Diamnya Istriku

Diamnya Istriku
Bab 38 Lumpuh


__ADS_3

Selang beberapa hari, Khansa dan sang Nenek pun pergi ke Kota dimana mereka akan liburan.


San di rumah itu tinggalah Andin, Revan serta beberapa pelayan.


Siang ini, Andin menyiapkan makan siang dan akan mengantarkannya ke perusahaan Revan. Dia sudah bersiap dan menunggu sang sopir yang akan mengantar nya.


Perfect, gumam Andin dengan terkekeh.


"Ayo Nyonya" ajak sang sopir di kala mobil nya sudah siap.


Andin mengangguk dan langsung saja masuk ke dalam mobil, dia duduk dengan santai dan tersenyum senang.


Mobil melaju membelah jalanan yang sudah mulai padat pengendara, karena waktu istirahat sudah tiba dan para pekerja sudah berhamburan keluar.


Tanpa terasa mobil yang di tumpangi Andin pun tiba di halaman perusahaan, dia langsung saja menuju ke resepsionis yang sudah menunggu nya.


"Selamat siang Nona, mari saya antar ke ruangan Tuan muda" sapa nya dengan sopan dan ramah.


"Selamat siang kembali"


Andin mengikuti langkah resepsionis tersebut, mereka masuk ke dalam lift khusus petinggi perusahaan.


Para karyawan yang berpasan pun menyapa Andin dengan ramah, dan Andin pun akan membalas nya dengan ramah pula.


Ting.


Lift terbuka, Andin langsung saja keluar dan menuju ke ruangan dimana sang Suami bekerja.

__ADS_1


"Terimakasih Mbak" ucap Andin dengan ramah.


"Sama-sama Nona" balas resepsionis dengan sopan.


Andin lalu masuk, ia melihat Revan yang masih berkutat dengan pekerjaan.


Langkah kaki nya perlahan, ia mengendap dan duduk di hadapan Revan dengan senyum manis nya.


Eh.


"Hei sayang, kapan sampai?"


"Maaf aku tak bisa menjemput ke bawah" ucap Revan kembali dengan bangkit dari duduk nya.


"Tak apa Mas, ayo makan dulu dan nanti baru di lanjut lagi kerja nya" balas Andin tersenyum.


Keduanya duduk dan mulai menyantap makan siang nya dengan damai, sesekali Revan meminta Andin menyuapi nya dan begitupun sebalik nya.


*


Berbeda dengan di Rumah sakit, hingga saat ini Candra masih belum sadar dan kedua mertua nya pun belum pernah menjenguk nya ataupun Marisa.


Ayah Candra yang menunggu di ruangan Candra sendiri, sedangkan Bunda nya menemani Marisa yang memang sudah sejak lama sadar.


"Bun, apa kedua orangtuaku belum ada kabar?" pertanyaan sama yang selalu Marisa lontarkan dengan tatapan penuh kecewa.


"Belum Nak, tidak apa kan ada Ayah dan Bunda ini" balas Bunda membesarkan hati sang menantu.

__ADS_1


Marisa hanya mengangguk, dia lalu menatap kaki nya yang tak bisa sama sekali di gerakan.


"Tidak apa, ini hanya sementara dan nanti kita akan konsultasi agar kamu bisa berjalan kembali" ucap Bunda mengusap lembut lengan menantu nya.


Lumpuh.


Ya, Marisa lumpuh sementara. Namun, bagi dirinya itu sangat menyakitkan dan terpukul.


Apalagi di saat ia butuh suport sang Suami ia tak mendapatkannya karena Candra masih terlelap dan belum sadarkan diri juga.


Hanya ada kedua mertua nya yang selalu memberi semangat dan juga nasihat agar ia lebih sabar dan tabah dalam menghadapi semua ini.


"Iya Bunda, semoga saja Putra Bunda masih mau bersama ku yang lumpuh ini" ucap Marisa dengan sorot mata yang sendu dan kekehan menyakitkan.


Bunda tersenyum, dia mengusap lembut rambut panjang Marisa yang tergerai indah.


Keduanya larut dalam obrolan yang kesana kemari, Bunda selalu mencari topik lain agar menantu nya tak stress dengan semua ini.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2