Diamnya Istriku

Diamnya Istriku
Bab 30


__ADS_3

Andin dan Revan langsung ke perusahaan, tak lupa mereka juga memastikan bahwa Khansa sudah sampai di Rumah dan aman.


"Mas, aku merasa Candra sudah mulai tak beres. Dia seperti sedang menyusun rencana saja"


Andin berbicara dengan menatap Revan was-was, dia bahkan mengeratkan genggaman tangannya pada Revan.


Dan dengan sebuah lirikan dari Revan, sekat antara sopir pun sudah di buka.


"Kamu tenang saja sayang, aku akan selalu memastikan kalian baik-baik saja. Jangan terlalu cemas dan tetap bahagia saja"


Cup.


Revan menenangkan Andin dengan kecupan lembut nya, bahkan pelukannya sangat erat dan hangat.


Andin sendiri merasakan nyaman dan juga aman saat berada di pelukan Revan, bahkan lambat laun kelopak mata nya tertutup mungkin karena lelah dan semalam kurang istirahat.


"Istirahatlah sayang, aku akan memastikan kebahagian dan keselamatan kalian"


...****************...


3 bulan sudah berlalu, kini kehidupan Andin dan keluarga kecil nya sangat lengkap dan bahagia.


Beberapa hari ini Ibu mertua Andin datang dan akan menginap disana lumayan lama, bahkan Revan merasa lega kala meninggalkan Andin dan Khansa di Rumah.


Revan juga selalu waspada, ia tidak akan lengah dengan Candra. Karena sudah beberapa kali Revan menggagalkan rencana yang di lakukan Candra pada Andin.


*


Pagi ini, Andin tidak seperti biasanya. Dia bahkan masih bergulung di bawah selimut dengan nyaman dan serasa enggan membuka mata nya.

__ADS_1


Bahkan Khansa sudah sejak tadi bersiap dan berada di meja makan bersama dengan sang Nenek.


Namun, Andin tak kunjung datang dan membuat keduanya khawatir.


"Nek, aku panggil Bunda dulu ya"


"Iya Nak, biar Nenek siapkan bekal untuk kamu"


Khansa berlalu ke lantai atas, dia mengetuk pintu kamar sang Bunda beberapa kali dan nihil tak ada jawaban sama sekali.


Ceklek.


"Bunda, kenapa belum bangun? Apa Bunda sakit?"


Eungh.


Lenguhan terdengar dari mulut Andin, ia mengerjapkan beberapa kali dan membuka mata sedikit.


"Maaf ya Bunda gak ke bawah, Bunda sedang malas dan ingin rebahan saja. Gak apa kan, Sayang?"


Khansa menganggukan kepala nya, dia memilih keluar dari kamar setelah memastikan bahwa sang Bunda tidak sakit ataupun demam.


Setelah kepergian Khansa, Andin terlelap kembali dengan tenang. Entah kenapa bawaannya selalu malas dan juga ingin terlelap saja.


Hampir jam 9 pagi Andin bangun, ia langsung saja masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah lumayan lengket.


"Ya ampun sudah jam 9 ternyata, kenapa aku malas sekali sih akhir-akhir ini"


Andin bersiap dengan segera dan keluar dari kamar, ia tak ingin membuat sang mertua khawatir akan dirinya yang masih di dalam kamar.

__ADS_1


Ceklek.


"Baru aja Ibu mau lihat kamu Nak"


Andin tersenyum kikuk, dia lalu menggandeng sang mertua dan membawa nya kembali ke lantai dasar.


"Maaf ya Bu, gak tau kenapa akhir-akhir ini aku selalu malas bangun pagi dan pasti akan terlelap kembali setelah subuh"


Andin bercerita di sepanjang jalan dengan terus menggandeng manja lengan sang mertua, hingga mereka tiba di meja makan dan Andin segera di suruh makan oleh sang mertua.


"Ibu di depan, nanti kalau sudah selesai kamu kesana saja ya"


"Oke Bu"


Andin fokus pada makanan di hadapannya, tak ada yang menggugah selera makan nya pagi ini.


Dia rasanya ingin makan sesuatu yang menyegarkan dan asam, Andin bangkit dan langsung saja menghampiri sang mertua yang sedang duduk di depan.


"Bu, aku pengen makan rujak mangga muda dengan cake buatan Ibu"


Ehh.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2