Diamnya Istriku

Diamnya Istriku
Bab 8 Kedatangan seseorang


__ADS_3

Setelah drama menyenangkan itu, Andin terlelap sampai sore karena cukup lelah.


Dia baru terbangun saat ada yang menggedor pintu kamar dan terdengarnya teriakan sang Adik madu.


"Ganggu banget sih, mau gue sumpal juga kayak tadi apa"


Dengan malas dan terus menggerutu akhirnya Andin bangun dan berlalu ke kamar mandi, ia akan membersihkan diri sebelum keluar untuk memainkan kembali drama yang akan menyenangkan untuk nya.


🐰


Marisa yang merasa tak mendapatkan jawaban pun kembali duduk di samping Candra, ia merebahkan tubuh nya di sandaran sofa yang sangat nyaman tersebut.


Aku tak akan kalah lagi.


Marisa begitu bertekad agar ia tak kalah lagi dengan Andin, bahkan ia juga sudah merencanakan agar segera Canda dan Andin berpisah agar ia bebas di Rumah dan menguasai Candra.


Harta?


Marisa tak membutuhkannya karena ia juga anak dari pemilik perusahaan, namun perusahaan itu tak besar-besar namun memiliki relasi yang cukup menjanjikan.


Ceklek.


Lamunan Marisa teralihkan saat mendengar pintu terbuka dan munculah Andin dengan gaya santai namun terkesan begitu seksi di mata Candra.


Glek.


"Mas, apa kamu tidak membawa makanan untukku?"


Suara yang begitu mendayu dan juga di buat selembut mungkin pun berhasil Andin lontarkan, dia begitu memelas dan mengusap perut yang beralasan sangat lapar.


"Ehem, beli saja sendiri"


"Mas sudah pesankan, Sayang. Jangan dengarkan Marisa"


Yeayy, satu kosong kembali.


Sorak sorai Andin lontarkan dalam hati nya, dia bahkan tersenyum dengan sangat manis di depan Candra.


Bahkan Marisa yang melihatnya pun sangat jengkel dan kelenjotan karena perlakuan manis dari Candra.


Berbagai rayuan maut Marisa lontarkan, bahkan ia juga mengatas namakan sang bayi yang ada di dalam perut nya saat ini untuk menarik perhatian dari Candra.


Andin? Dia duduk santai sambil mengotak-atik ponsel nya dan menunggu pesanan makanan untuk dirinya dari Candra.


Hingga tak lama kemudian terdengar suara seseorang yang sudah biasa datang kesana jika Candra memesan makanan untuk Andin.


Dengan penuh semangat Andin pun mengambil dan tak lupa juga berterimakasih.


"Wow, kau tau aja kalau aku ingin makan ayam bakar ini Mas"

__ADS_1


Dengan manisnya mulut Andin berlontar kata-kata yang mana mengundang Candra tersenyum bahagia, bahkan Marisa di lupakan dan Andin yang di perhatikan oleh Candra saat ini.


Rasakan kau pelakor, mau jadi pelakor tapi tidak tau cara membuat istri pertama kalah.


Tangan lentik Andin pun memasukan sesuap demi sesuap nasi dan ayam bakar yang sangat menggoda di lidah, bahkan dengan sengaja nya Andin memamerkan pada Marisa yang terlihat sangat tergoda.


"Mas, mau"


Huh.


Candra menghela nafas panjang saat mendengar bisikan dari Marisa yang sejak tadi diam saja.


"Kenapa tidak bilang dari tadi, padahal aku akan pesankan untukmu juga tapi kau malah menolak"


Dengan kesal Candra pun pergi dari sana, dia ingin membersihkan diri sebentar sebelum nanti berkumpul lagi bersama kedua istri nya.


"Marisa, ini baru permulaan dan kau akan tertekan setiap saat ada aku disini. Jangan berharap kalau aku yang akan tertekan dengan kemesraan kalian, karena semua itu tidak akan mempan dan pengkhianatan ini lah yang menjadi penguatku"


Dengan tegas dan wajah yang sangat datar Andin berucap sebelum ia pergi membuang sampah bekas makannya, ia begitu menikmati raut wajah Marisa yang begitu kesal dan menahan amarah.


"Kau bisa saja sekarang bahagia Mbak, tapi tidak dengan besok. Aku akan membuat mu dan anakmu itu pergi dari sini, bahkan pergi dari kehidupan Mas Candra"


"Silahkan, aku akan dengan senang hati pergi"


Andin tak kalah tajam nya saat beradu pandang dengan Marisa, ia tidak akan lemah ataupun memohon serta menangis agar tidak di ceraikan tetapi dia sendiri yang akan menggugat Candra setelah dia puas membuat Marisa kesal.


🐰


Sakit? Tentu saja Andin merasakan sakit yang teramat di hati nya, bohong jika ia sudah tak mencintai suami nya lagi, karena rasa itu ternyata masih ada.


Dengan santainya kau bermesraan Mas, kau tak memikirkan bagaimana posisi ku dan perasaanku saat ini.


Berpisah denganmu adalah hal yang sudah aku mantapkan sejak mengetahui bahwa kau bermain api.


Ya, Andin memilih diam dan akan berakting jika Marisa sudah di atas angin dengan kelakuan dan perhatian dari Candra.


"Andin, kenapa kamu sekarang lebih pendiam dan murung? Apa kamu tak bahagia melihat Mas naik jabatan?"


Deg.


Perasaan sakit dan amarah kembali muncul setelah mendengarkan lontaran kata yang tak bermutu dari mulut Candra.


Brak.


Majalah di tangan Andin pun di lempar begitu saja ke atas meja, ia menatap Candra penuh kekecewaan dan tajam.


"Kenapa kau masih bertanya hal itu Mas? Apa kau berpikir dulu sebelum melakukan hal ini?"


"Istri mana yang akan bahagia jika sang Suami naik jabatan dengan mengorbankan rumah tangga nya? Istri mana yang akan selalu bertingkah manja saat melihat bahwa bahu Suaminya tak lagi menopang dirinya seorang?"

__ADS_1


"Apa kamu kira aku akan bahagia? Apa kamu kira aku ini gila harta, jabatan dan uang? Tidak! Aku hanya ingin hidup bahagia dengan keluarga kecilku, tapi kamu menghancurkannya Mas. Kauhancurkan dengan tega nya membawa oranglain masuk ke dalam lingkungan kita, apa dengan santai nya aku akan menerima? Akan bahagia?"


"Kau adalah pria yang sangat egois yang aku kira akan sangat mencintai dan menemaniku sampai menua"


Nafas Andin begitu memburu, kilatan sorot mata itu begitu tajam dan bahkan Candra baru pertama kali melihat Andin yang begitu marah.


"Kau harus mulai menerima nya Mbak, karena mau tak mau sekarang aku ini adalah madu mu"


"Diam"


Dengan lantang Andin membentak Marisa, dia bahkan menunjuk marisa penuh emosi yang begitu terlihat.


"Dengan santai nya kau menyuruhku menerima hah, apa kau tak punya hati dan perasaan? Kau juga sama wanita dan tak sepantasnya kau merebut suami wanita lain"


"Oh aku tau, kau wanita murahan yang mau saja di jamah pria beristri begitu?".


Plak.


Tamparan pertama Candra layangkan pada Andin, dia tidak terima bahwa Andin menjelekan Marisa.


Heh.


"Bahkan demi membela dia kau menamparku, Mas? Oke, aku yang akan mundur dan akan pergi bersama Khansa. Jangan pernah cari kami dan ingat satu hal, aset kamu semuanya atas nama Khansa dan aku"


Haha.


Marisa tertawa dengan sumbang, dia bahkan merangkul Candra dengan santainya dan tersenyum sinis pada Andin.


"Bawa saja semua itu, karena aku mampu memberikan apapun untuk Mas Candra, jadi dia tidak akan miskin"


"Oke, aku akan pergi dan aku tunggu kamu di pengadilan"


Ceklek.


"Siapa yang akan bercerai?".


Deg.


Deg.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2