
Hari demi hari sudah terlewati dengan baik dan penuh kebahagian oleh Candra dan Marisa.
Hingga tak terasa perut Marisa pun sudah terlihat karena sudah memasuki usia 4 bulan kandungannya.
Sejak kepergian Andin saat itu, satu minggu kemudian datanglah surat dari pengadilan dan Candra hanya bisa mengabulkan permohonan dari Andin untuk bercerai saja, hingga pada akhirnya keduanya pun resmi bercerai.
Bahkan Candra diam saja kala kedua orangtua nya tak lagi memberi kabar ataupun menanyakan kabar, dia seolah lupa daratan saat semua sudah di genggamannya.
Dunia Candra hanya perusahaan, Rumah dan Marisa saja. Dia seolah-olah hanya berputar disana-sana saja.
Seperti malam ini, Marisa merengek ingin makan soto di depan komplek rumah mereka.
Namun, Candra enggan pergi karena memang ia sedang merasa lelah dengan semua pekerjaan yang ada di perusahaan.
"Pergilah sendiri Marisa, cuma di depan ini juga"
Dengan malas Candra merebahkan tubuh nya di sofa, ia memejamkan mata tanpa mau tau tentang sang Istri yang sudah ingin melahap dirinya saat itu juga.
"Mas, aku ingin di temani olehmu dan kita makan malam disana"
Astaga.
Candra bangun dengan gerakan sangat kasar, ia menatap tajam pada Marisa yang saat ini sedang duduk di depannya dengan wajah yang cemberut dan kesal.
"Marisa, cobalah sesekali kamu mengerti aku yang sangat kelelahan ini. Pergilah sendiri karena aku lelah dan sangat ingin istirahat"
Ck.
Decakan kesal Marisa berikan pada Candra, baru setelah nya ia pergi dari sana dengan perasaan yang sangat kesal dan sepanjang jalan terus saja menggerutu.
Marisa pergi ke warung soto sendirian, memang jarak nya tidak terlalu jauh dan hanya 10 menit saja sudah sampai.
Beberapa tetangga disana menatap Marisa dengan sinis, bahkan ada yang terang-terangan melontarkan kata-kata kotor hanya karena kesal oleh tingkah Marisa.
"Bang, soto nya satu di bungkus"
"Siap cantik"
Cih,
Gaya sombong dan selalu merendahkan oranglain itulah yang membuat orang-orang selalu sinis dan menyinyir Marisa.
"Eh denger-denger itu bekas adik madunya Mbak Andin ya"
"Kasihan sekali ya Mbak Andin, padahal dia itu cantik, baik dan juga pintar. Ehhh dengan tega nya Mas Candra khianati dia dengan perempuan itu"
"Gak mikirin Khansa apa ya?"
Bisikan demi bisikan Marisa dengarkan, ah tentunya bukan bisikan tetapi obrolan yang sangat nyaring terdengar karena sepertinya Ibu-ibu itu sangat sengaja berbicara agak keras.
__ADS_1
Namun Marisa memilih diam dan pura-pura fokus pada ponsel yang sejak tadi ia pegang.
Hingga pesanannya pun sudah jadi dan Marisa langsung memberikan uang pada sang pedagang.
"Gak ada uang pas? Saya gak ada kembaliannya"
"Gak ada, nyari sana"
"Heh ikhlasin aja tibang kembalian 2 ribu juga"
Marisa menatap sinis, ia tak suka pada ibu-ibu yang sudah jelas tak menyukai dirinya itu.
"2 ribu juga uang, cepat kembalian"
Salah seorang dari ibu-ibu itu memberikan uang 2 ribu pada Marisa, dia cukup kesal karena tingkah Marisa yang sangat sombong dan selalu merendahkan oranglain.
"Beda banget ya sama Mbak Andin, dia bahkan sering bagi-bagi rezeki pada kita dan uang kembalian juga sering ia ikhlaskan"
"Dia itu malaikat, kalau onoh itu ratu kahyangan yang gak ke sampean"
Hahaha.
Marisa langsung pergi dari sana karena tak tahan dengan ocehan para ibu-ibu komplek yang memang sering berkumpul disana untuk melepaskan penat.
Dengan langkah yang di hentakan serta gerutuan Marisa lontarkan dan wajah nya sangat begitu kesal saat lagi dan lagi para tetangga nya hanya menatap dengan sinis ke arah dirinya.
*
"Mas, kenapa tetangga disini menyebalkan semuanya sih. Kenapa mereka selalu membandingkan aku dengan mantan istrimu itu"
Dengan raut yang begitu kesal, Marisa menceritakan smeuanya pada Candra.
Dia menceritakan bagaimana ibu-ibu disana yang selalu mencomooh dan juga menatap sinis akan dirinya, hingga ia juga menceritakan saat meminta kembalian dari pedagang soto tersebut.
"Pantas saja, kamu memang berbeda dengan Andin. Contohnya saja saat ini, kamu bahkan dengan santai nya hanya membeli soto satu dan aku? Gigit jari saja"
Tatapan tajam Candra terima dari Marisa, namun dia tetap memasang wajah kesal dan pergi berlalu ke ruang makan untuk makan malam.
Namun, sayang beribu sayang disana tak ada apapun yang bisa dia makan, bahkan nasi pun tak ada di tempatnya.
"Apa saja kerjaan dia sih sebenarnya, kenapa dia begitu pemalas dan sangat jauh berbeda dengan Andin"
Bugh.
Lengan Candra di tampar dengan keras oleh Marisa, ia tak terima kalau ia di bandingkan kembali dengan Andin yang sudah kalah jauh dengan dirinya.
"Kenapa? Memang kenyataannya begitu dan kamu harus menerima nya dengan lapang dada, bukannya memasak untuk suami atau belikan apa ke, eh asyik sendiri saja"
"Mulai besok kamu harus selalu menyediakan aku makan malam di rumah"
__ADS_1
Heh.
Wajah Marisa melongos dan berlalu duduk di kursi makan yang tak jauh dari jangkauannya.
"Beli saja di luar, repot-repot amat harus masak"
Tangan Candra mengepal sempurna, dengan perasaan yang kesal dia pun pergi dari Rumah dengan membawa motor yang selalu di pakai oleh Andin.
Teriakan demi teriakan Candra hiraukan, ia tetap melajukan motor nya dan pergi ke rumah makan padang untuk mengisi perut nya yang sudah sangat keroncongan.
"Andin tidak pernah mengosongkan meja makan, walaupun aku sering makan malam di luar. Kenapa Marisa sangat berbeda dan membuatku sangat muak"
"Baiklah, mulai besok aku akan mengurangi jatah bulanan untuk Marisa dan akan ku hajar jika dia berani protes"
Candra terus saja menggerutu di sepanjang jalan, hingga pada akhirnya dia sampai di rumah makan padang langganan dia dan Andin.
Dengan langkah yang cukup cepat dia pun masuk, memilih beberapa makanan dan juga tak lupa dengan teh manis yang sangat ia sukai.
"Biarkan saja dia memakan soto tanpa nasi, dia pikir aku akan membelikannya gitu? Tak akan, dia saja lupa akan membelikan aku makanan dan membiarkan aku kelaparan, padahal pekerjaanku sangat banyak dan melelahkan hari ini'
Pesanan Candra pun tiba, suapan pertama dan terus begitu tanpa memperdulikan ponselnya yang bergetar dan sang Istri yang selalu menelpon.
Ganggu saja, gumam Candra sambil mematikan ponsel nya dan mulai melanjutkan kembali makan dengan lahap nya.
Bahkan Candra seolah melupakan punya beban yang sudah pasti sedang mencak-mencak karena kesal.
*
Sedangkan di Rumah, Marisa begitu merutuki sikap Candra yang malah mematikan ponsel nya.
Dia bahkan mengumpay dan menyumpah serapahi Candra karena kesal dengan tingkah nya yang begitu memuakan.
Bahkan soto yang dia beli tadi pun masih utuh dan belum tersentuh, mau membeli lontong ke depan pun tak berani karena masih banyak para tetangga nya yang masih nongkrong disana.
Ck.
" Awas saja kau, Mas"
.
.
.
.
.
.
__ADS_1