
Weekend pun berlalu, kini Candra harus bekerja kembali untuk menempati jabatan yang sudah di janjikan oleh mertua nya yaitu Direktur, sedangkan mertua nya tetap CEO namun masalah apapun akan di limpahkan pada Candra.
Dan, Candra sangat bahagia dengan pencapaian saat ini. Bukan hanya untuk mendapatkan kursi kedudukan tetapi dia juga mendapatkan Marisa yang sangat di gilai banyak pria di kalangan pembisnis.
Ck, aku sudah tak sabar. Candra terus saja bergumam dengan senyuman terus tersungging di bibir nya.
Bukan hanya Candra, Marisa pun turut bahagia karena dia memang sangat mencintai Candra tanpa dia tau bahwa dirinya di jadikan batu loncatan saja.
"Aku pergi dulu, kamu jaga diri baik-baik bersama baby ya sayang"
"Iya Mas, kamu juga hati-hati"
Setelah selesai berpamitan Candra pun langsung pergi dari sana, dia membawa mobil nya dengan kebahagian yang sudah sangat dia nantikan dan impikan selama ini.
Sedangkan Marisa, dia masuk kembali ke dalam Rumah dan duduk santai di ruang keluarga.
Dia sudah menyelesaikan mencuci pakaiannya sendiri, dan dia juga memberikan punya Candra agar di urus oleh Andin.
Ceklek.
'Hoammmm'
Andin keluar dengan menguap sangat santai, dia lalu menatap Marisa yang sudah duduk santai di atas sofa.
Lalu dia melihat pakaian Candra yang menumpuk di atas mesin cuci yang belum di cuci sama sekali.
"Marisa, kenapa pakaian Candra tidak kau cuci?"
Andin menghampiri Marisa dan duduk di hadapannya dengan pertanyaan yang santai, namun sangat jengkel bagi Marisa.
"Ck, sekarang bagian Mbak yang cuci milik Mas Candra lah. Aku sudah kemarin"
Hahaha.
Marisa menatap heran pada Andin, entah kenapa kakak madu nya itu malah tertawa dengan lantang nya.
"Apa kau buta, kau tidak lihat bahwa aku sudah selesai mencuci pakaianku sendiri dan bahkan aku membereskan ruang makan dan dapur? Bukannya dia suami mu juga, maka kerjakan sekarang sebelum aku bakar pakaian itu, membuat sakit mata saja"
Bruk.
Dengan jengkel Andin menggebrak meja agar Marisa bangkit, dan ternyata benar saja dugaan Andin.
Marisa pergi ke belakang dengan sumpah serapah nya, dia juga langsung menghidupkan mesin cuci dan datang kembali dengan alat sapu serta pel.
"Nah bagus, jadi Adik madu itu harus nurut biar berkah"
Andin tertawa kecil, dia sangat puas mengerjai Marisa saat ini dan itu akan ia lakukan selama Candra berada di perusahaan.
Dengan langkah santai nya, Andin berlalu ke kamar untuk membersihkan diri karena dia terlelap kembali setelah subuh tadi.
Rasakan, Marisa.
Sedangkan Marisa? Dia mengumpat Andin dengan segala ucapan yang sangat pedas.
Namun, Marisa tak berani membantah karena ia takut Andin akan menendangnya sebelum ia tendang duluan Istri pertama Suaminya itu.
__ADS_1
'Awas saja kau Mbak Andin'
'Ihh ya ampun ini melelahkan sekali, aku harus meminta Mas Candra mencari pembantu'
Racauan Marisa terus berlanjut sampai ia selesia dengan pekerjaannya, ia duduk dengan nafas yang cukup ngos-ngosan dan mengambil air minum yang ada di atas meja.
Byur.
"Minuman apaan ini, kenapa rasanya sangat asinn"
Ohekkk Ohekk.
Marisa muntah dengan cukup banyak, entah kenapa minuman miliknya terasa sangat asin padahal tadi tidak asin sama sekali.
Tubuhnya begitu lemas setelah beberapa kali muntah, dia sampai terduduk di atas lantai dengan keringat di wajah.
"Kau kenapa Marisa?"
Ingin rasanya Marisa menjambak rambut Andin saat ini, ia yakin bahwa minuman itu di kasih garam oleh Andin dengan sengaja.
Tatapan Marisa begitu sinis saat melihat Andin yang terkekeh geli menatap nya.
"Mbak sengaja ya memberikan garam pada minuman ku?"
"Iya, aku pikir tadi gula. Maaf ya"
Dengan santai nya Andin meninggalkan Marisa yang masih terduduk lemas di lantai, dia melenggang pergi begitu saja tanpa mau membantu Marisa sama sekali.
Baru permulaan, Marisa.
Siang hari nya, Andin memesan makanan untuk dirinya makan sendirian. Dia tidak memperdulikan sama sekali akan Marisa yang sejak tadi sudah berkutat memasak di dapur, karena Candra akan pulang dan makan siang di Rumah, begitulah kata Marisa.
Namun, Andin sama sekali tidak ingin ikut membantu ataupun ikut makan bersama.
Hingga tibalah pesanan Andin dan bertepan dengan datang nya Candra.
Dengan segera Andin membuka dan menyantap nya dengan santai dan tak memperdulikan kedua orang yang sedang menatapnya melotot.
"Kamu kenapa beli makanan Ndin? Marisa kan sudah masak buat kita"
Andin diam saja, dia tetap fokus dan mengabaikan omongan Candra.
"Andin"
Bentakan pertama yang Andin dapatkan selama hampir 7 tahun menikah dengan Candra, Andin menatap Candra dengan tajam dan menghentikan makannya.
Sedangkan Marisa, dia menatap nya penuh kemenangan dan senyum kecil mengembang di sudut bibir nya.
"Lalu aku harus apa, Mas Candra? Bahkan Marisa tidak memperbolehkan aku membantu nya memasak dan ikut makan siang hasil masakannya karena itu khusus untuk dirimu dan dirinya saja"
"Apa aku harus menahan lapar? Oke aku akan tahan lapar hingga kalian selesai makan"
Pyarr
Piring dan makanan yang ada di hadapan Andin pun dengan sekejap sudah berantakan dan bercecer di atas lantai.
__ADS_1
Bahkan Andin menatap Candra dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Kau sangat egois Mas, aku sudah berusaha menerima pernikahan ini tapi Marisa seolah membuat benteng agar aku tak menyentuh kalian"
Hiks.
Hiks.
Andin berlari dan masuk ke dalam kamar nya, dia membanting pintu dengan kencang dan mengunci rapat.
Tok.
Tok.
"Andin, buka pintu nya sayang. Maafkan aku Andin"
Candra terus saja mengetuk pintu kamar Andin, dia sungguh menyesal karena sudah membentak sang Istri yang amat sangat dia cintai.
Marisa datang dengan wajah masam nya, dia menghampiri Candra yang masih saja mengetuk pintu kamar Andin.
"Mas, sudahlah ayo kita makan"
Tangan Marisa di tepis kasar oleh Candra, bahkan Marisa terlonjat kaget dengan apa yang sudah Candra lakukan.
"Kamu seharusnya bisa akur dengan Andin, Marisa. Karena dia juga adalah Istriku"
"Aku akan makan di kantor dan tolong bungkuskan"
Candra pergi dengan wajah kesal, dia menunggu Marisa di depan Rumah dan tak lama kemudian datanglah sang Istri dengan tentengan makanan di tangannya.
"Aku ikut, Mas"
Marisa merengek dan hampir menangis, Candra hanya bisa mengangguk dengan pasrah dan menutup pintu Rumah.
Awas saja kau Mbak Andin, kau sungguh menyebalkan dan akan aku balas.
Marisa diam dengan tatapan yang sangat sulit di artikan, bahkan ia juga tak menegur Candra yang sejak tadi ikut berdiam-diam ria di dalam mobil nya.
Sedangkan di Rumah, Andin tertawa dengan puas saat rencana nya berhasil.
Bahkan dia sampai mengeluarkan air mata saking bahagia nya dan tertawa ngakak sendirian di dalam kamar.
Kau tidak akan bisa membalasnya Marisa, karena kau tidak mengenal aku dengan baik.
Dan, tunggulah esok dengan kekesalan wajah mu yang akan sangat menyenangkan.
.
.
.
.
.
__ADS_1