Diamnya Istriku

Diamnya Istriku
Bab 45 Jebakan


__ADS_3

Setelah perdebatan tempo hari lalu, kini Candra jarang pulang dan selalu saja mengacuhkan keluarga nya.


Seperti saat ini, Candra baru saja pulang dan sudah kembali berangkat entah kemana setelah mendapatkan telepon.


Mobil melaju dengan sangat kencang, suasana malam hari yang sudah lumayan sepi karena esok hari akan menghadapi hari senin yang artinya kembali bekerja.


Candra membawa mobil nya menuju ke sebuah tempat yang sudah di beritahukan oleh anak buah nya.


"Aku sudah tak sabar, lihatlah bahkan aku sudah akan mendapatkan kamu kembali Andin" gumam Candra dengan perasaan bahagia.


Namun, perjalanannya terhambat karena kemacetan yang entah karena apa penyebabnya.


Kesal, marah dan emosi bercocok di kepala Candra saat ini. Dia membuka kaca mobil nya dan melihat ke depan apa yang terjadi.


Ck.


"Pak, pak" panggil nya pada salah satu petugas yang kebetulan lewat.


"Ada apa Tuan?" tanya nya dengan ramah.


"Kenapa macet, apa ada kejadian di depan?" bukannya menjawab, Candra malah melontarkan pertanyaan kembali pada petugas nya.


Petugas itu melihat kembali ke depan, dan menghela nafas kasar.


"Di depan ada kecelakaan dan juga razia kendaraan, Tuan. Tidak akan lama lagi kok, sebentar lagi juga lancar" jelas nya dengan ramah.

__ADS_1


Candra menganggukan kepala saja, ia lalu menghela nafas kasar dan menunggu karena memang tidak ada jalan lain menuju ke tempat dimana seseorang menghubungi nya.


Hampir setengah jam Candra terjebak macet dan syukurnya ia bisa melajukan kembali mobil nya dengan kecepatan tinggi.


Ckitt.


"Tuan, tahanan kita sudah di bawa ke gudang yang sudah anda perintahkan" ucap salah satu dari mereka.


"Oke, ayo kita kesana" balas Candra dengan semangat, dia lalu memberikan kunci mobil nya pada anak buah nya.


Mobil kembali melaju dengan santai, Candra ingin menikmati nya karena memang tahanannya sudah aman jadi ia bisa tenang.


*


Sesampai nya di gudang yang ada di pinggir kota, Candra keluar dari mobil bersama dengan para anak buah nya.


Langkah demi langkah Candra ayunkan dengan perasaan yang sangat memuncak bahagia.


Bisa di lihat bagaimana bahagia nya Candra saat ini, apalagi saat melihat seorang wanita hamil yang tergeletak di atas ranjang dengan keadaan tak sadar.


"Tuan, apa lampu ingin anda hidupkan?" tanya Bram.


"Jangan, aku tau bahwa Andinku sangat menyukai keadaan remang begini" jawab Candra dengan yakin.


Bram menganggukan kepala, dia dan yang lainnya lalu keluar dari dalam kamar dan meninggalkan Candra bersama Andin.

__ADS_1


Candra melangkahkan kaki nya, ia mendekati ranjang tersebut dengan sangat pelan.


"Harummu masih sangat sama, sayang. Kau begitu harum dan menggairahkan, bodoh nya aku dulu sampai berpaling darimu"


"Eits aku tak bodoh, kamu saja yang tak sabaran dan memilih pergi padahal aku sudah merencanakan agar kita hidup bahagia dengan bergelimang harta" ucap Candra dengan sangat antusias dan peecaya.


"Tapi sekarang kamu tenang saja, aku akan membawa kamu pergi dari sini sebentar lagi sayang. Kita akan hidup bahagia tanpa ada nya siapapun lagi" ucap nya lagi dengan penuh percaya diri.


Eunghhh.


Lenguh Andin dengan sangat pelan, dia membuka mata nya dengan perlahan dan menatap sekeliling dengan heran.


"Hai sayang" sapa Candra dengan semangat.


Klik.


Deg.


"Siapa kamu, kemana Andinku?".


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2