
Hampir sore hari Candra masih terlelap dan keadaan Rumah pun sudah bersih serta makanan sudah tersedia, dering bunyi ponsel pun Candra abaikan dan saat ia membuka mata ia langsung menuju ke kamar mandi.
Hingga beberapa saat kemudian Candra keluar dan langsung menuju ke ruang makan untuk makan siang yang sudah terlewati sejak tadi.
"Ck, masih belum datang juga kau Marisa"
"Istri macam apa kau"
Gerutuan terlontar begitu saja, Candra begitu muak dan kesal karena tingkah Marisa yang semakin hari semakin menjadi.
Bahkan hampir malam barulah terdengar suara mobil yang berhenti di depan halaman Rumah Candra.
Candra duduk di sofa ruang keluarga, dia membuka laptop dan mulai mengerjakan kembali pekerjaannya yang sudah tertunda karena mood yang hancur.
Ceklek.
"Mas, kenapa kamu tak mengangkat telepon ku?"
Heh.
Candra menatapnya dengan terkekeh kesal, bukannya meminta maaf ataupun bertanya kabar tentang masalah yang sudah di buatnya, eh ini malah bertanya yang tak penting! Pikir Candra.
Brak.
"Mas, apa kau tuli? Kenapa hanya diam saja?"
Huh.
Dengusan kesal terdengar keluar dari mulut Candra, ia menutup laptop dan menyimpannya di meja.
"Ya aku tuli, aku muak dan aku kesal padamu"
"Kau seharusnya meminta maaf atas apa yang telah kau lakukan tadi di Mall, dan gara-gara kamu juga aku mendapatkan bogeman dari Ayahmu"
Deg.
Marisa menegang seketika, ia baru menyadari bahwa wajah sang Suami memar di dekat sudut bibir nya. Bahkan Marisa juga baru menyadari bahwa sang Suami sudah pulang kerja, padahal biasanya akan pulang nanti jam 7 malam.
"Dan kau apa kau merasa ratu disini? Kenapa kau hanya bisa nya membuat berantakan Rumah saja, dan dengan santai nya kau pergi tanpa mau membersihkan ataupun membereskan semua kekacauannya itu"
Remasan tangan Marisa begitu erat pada tas yang sedang di pegang nya, ia menatap ke sekeliling nya dan ternyata benar bahwa disana sudah bersih bahkan wangi.
__ADS_1
"Sewa pembantu saja, aku lelah dan aku sedang hamil"
Brak.
"Apa kau tau Marisa bahwa Suamimu ini bukan sapi perah? Aku bekerja dengan tak kenal waktu dan hasilnya semua kau kuasai, bahkan setelah pulang kerja pun aku tal di beri makan atau di sambut layaknya Suami olehmu"
"Dan muali bulan depan aku akan kasih kamu jatah dan jangan membantah"
Hah.
"Kau mau kemana, Mas?"
Teriakan Marisa mampu membuat langkah kaki Candra berhenti, ia menatap kembali pada Marisa.
"Aku mau keluar, muak rasanya aku disini"
Dengan langkah cepat Candra meninggalkan Rumah nya, ia akan ke Apartemen milik Anton dan akan menginap disana. Candra merasa muak dengan semua tingkah Istrinya yang semakin menjadi.
...****************...
Sedangkan di sudut lainnya, kedua orangtua Candra baru saja tiba di kampung halaman Bunda Candra.
"Ayah, kenapa Candra jadi semakin menjauh dan bahkan seakan melupakan kami"
Huh.
"Biarlah Bun, kita hidup disini saja dan biarkan saja dia"
Bunda Candra menganggukan kepala dan berlalu ke dapur, keduanya akan membersihkan Rumah tersebut dan setelah akan sarapan pagi bersama.
Untung saja Rumah tersebut masih kokoh dan hanya sedikit saja yang perlu di perbaiki dan itu akan di kerjakan oleh Ayah Candra.
Huh.
Helaan nafas Bunda keluarkan dengan kasar, dia menatap ke halaman belakang dengan sendu.
Tatapannya begitu sendu, kecewa dan juga rindu. Semua menyatu dan membuat dirinya resah.
*Nak, padahal Andin itu anak baik dan juga sangat menyayangi kami berdua. Kenapa kau sangat tega sekali pada dirinya dan membuat dirinya sakit hanya demi sebuah kedudukan yang kapan saja bisa menghancurkanmu.
Apa kabarmu sekarang? Apa kau juga melupakan kami sebagai orangtuamu? Apa di hatimu tak merasakan sakit saat kami tak memberi kabar ataupun menelpon mu?
__ADS_1
Bunda Rindu padamu, Nak.
Bunda sangat rindu kamu yang baik, penurut dan juga selalu mengutamakan kebahagian istri serta anakmu dan kami. Tetapi sekarang? Bahkan untuk mengingat Putri mu saja Bunda tak percaya kau mengingat nya*.
Pluk.
"Kenapa malah melamun, Bun?"
Eh.
Bunda menggelengkan kepala dengan tersenyum kecil,
Ayah hanya menghela nafas dan mengajaknya untuk sarapan saja, karena perut nya sudah sangat keroncongan sejak tadi.
*
Keduanya memulai hari dengan senyuman, melupakan dan mengabaikan hanya itu saja yang perlu keduanya lakukan saat ini.
Ayah Candra memutuskan akan menanam berbagai sayuran di halaman belakang, dan nanti hasil nya akan ia jual ke pasar yang memang tak jauh dari sana.
Seperti saat ini, siang hari nya keduanya kembali bergotong royong untuk membersihkan halaman belakang.
Bunda juga akan menanam beberapa bunga di halaman depan agar asri dan juga nyaman di pandang.
"Mas, aku pergi ke depan dulu untuk membeli sayuran buat nanti makan malam ya"
Bunda pamit sebelum pergi agar Suami nya tidak mencari, dan anggukan kepala yang ia dapatkan dari sang Suami.
Setelah itu ia baru berlalu ke toko sembako yang lengkap dan ada sayuran juga, ia akan membeli beberapa bahan dan keperluan yang memang belum lengkap.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1