
Setelah kepergian Andin, Revan berjalan kembali ke kursi yang kebesarannya. Senyuman tercetak indah di wajah yang selalu kaku itu, bahkan tak jarang orang menyebutnya si kulkas 3 pintu yang begitu dingin.
Aku menemukan mu kembali, gumam nya dengan berbinar dan juga bahagia.
"Masuk ke ruangan saya sekarang"
Panggilan terputus kembali tanpa menunggu jawaban dari sang lawan bicara.
Revan menyandarkan tubuh nya ke sandaran kursi, ia menatap pemandangan Kota Makasar dari atas gedung tersebut.
Ceklek.
"Apa ada keperluan, Tuan?"
Revan bangkit dari duduk nya, ia memberikan kartu nama Andin dan sang Asisten pun langsung menerima dengan tau tujuan sang Tuan.
"Akan saya berikan berkas nya sebelum malam, Tuan"
"Hemm"
Asistennya pun memilih kembali ke ruangannya dan membiarkan sang Tuan sendirian, ia akan mengurusnya dan sudah menebak apa yang di inginkan sang Tuan.
*
Sedangkan di ruangan presedir, Revan tak melanjutkan kembali pekerjaannya.
Ia malah membereskannya dan bersiap untuk pergi, entah kemana yang akan ia tuju sampai begitu semangat dan meninggalkan pekerjaan yang menumpuk.
Langkah kaki yang lebar itu mengejutkan sebagian karyawan yang sedang bekerja.
Sebagian dari mereka ada yang berbisik ada juga yang acuh dan memilih untuk tetap fokus pada pekerjaan mereka.
Revan langsung masuk ke dalam mobil yang memang sudah di siapkan sejak tadi oleh sang security, ia langsung melajukan mobil nya ke arah yang memang menjadi tujuannya saat ini.
Macet yang mulai terjadi karena para pekerja yang memulai istirahat pun tak menjadi masalah bagi nya, ia tetap saja melajukan mobil nya dengan senyuman kecil di wajah tampan nya.
"Aku hampir putus asa saat tak mendapati kabar darimu, namun aku sangat bahagia dan serasa mendapat asupan semangat lagi saat John memberitahu bahwa dia dan tim nya sudah dapat melacak keberadaanmu yang tak jauh dariku"
"Tunggu aku Andin"
Hingga beberapa saat mobil tersebut pun sampai di halaman Resto Khansa, ia keluar dan langsung menuju ke dalam Resto tersebut.
Revan langsung meminta pelayan disana mengantarkan ke ruangan dimana Andin berada, dengan dalih bahwa ia sudah ada janji temu dengan sang pemilik Resto tersebut, Andin.
Tok
Tok
"Maaf Bu, ada seseorang yang mencari anda dan dia ada disini"
Kerutan di kening Andin bertanda ia bingung karena tak punya janji bersama siapapun lagi, namun ia tetap menyuruh nya masuk.
__ADS_1
"Hai"
"Revan, kenapa tak bilang jika ingin kesini"
Revan hanya terkekeh kecil dan duduk di hadapan Andin, netra mata nya terus saja menatap wajah cantik di hadapannya saat ini.
Namun,
"Bundaaa"
Ehh.
Revan tercengang saat melihat anak perempuan yang hampir 5 tahun itu menghampiri Andin dengan panggilan Bunda, yang berarti igu adalah anak nya Andin.
"Ya dia adalah Putri ku bersama Candra"
Seolah tau akan apa yang di pikiran Revan, Andin pun mengatakan hal yang mana membuat jantung Revan berdegup kencang serta sakit di dada nya.
"Lalu dimana Candra saat ini? Kenapa hanya ada kalian berdua saja?"
Revan berharap Andin dapat berkata jujur dan mau berbagi bersama nya, namun ia salah dan Andin tetap bungkam.
"Besok kita bisa menjadwalkan untuk metime, disana aku akan bercerita panjang denganmu. Aku rindu saat kamu akan diam saja ketika aku cerewet bercerita banyak hal, dan setelah kau menghilang aku merasakan kesepian"
Deg.
Maafkan aku Andin,
Ia menganggukan kepala tanda menyetujui ajakan wanita yang sudah lama menempati hati nya tersebut.
"Bunda, siapa paman ini?"
Revan tersenyum, ia kemudian mengulurkan tangannya pada Khansa.
Dan entah kenapa Khansa mau saja dan turun dari pangkuan Bunda nya, ia kemudian naik ke pangkuan Revan dan bercanda ria berdua tanpa menghiraukan Andin.
Tawa renyah keluar begitu saja dari mulut Khansa, ia terlihat sangat bahagia dengan tertawa begitu lepas saat di goda oleh Revan.
Begitupun dengan Revan, dia membawa Khansa duduk di sofa yang ada di ruangan Andin. Keduanya bercanda ria dengan sesekali saling menggoda, Andin terharu melihat Putri nya yang terlihat sangat bahagia bersama dengan Revan.
Apa kamu mengingat Putri kita, Mas?
Sebuah pertanyaan seketika muncul dalam benak Andin, ia mengingat apakah mantan suaminya akan mengingat Khansa atau malah melupakannya?
Namun, Andin tak ingin berharap lebih dengan sesuatu yang nantinya akan membuat ia sakit.
Andin membiarkan Khansa bermain bersama dengan Revan, ia juga menyediakan beberapa camilan disana untuk keduanya.
Sedangkan ia akan memeriksa keuangan bulan sekarang, dan setiap bulannya omset Resto miliknya naik sangat drastis.
Hingga Andin berencana akan membuka cabang yang masih ada di Kota tersebut namun berbeda wilayah saja.
__ADS_1
Tanpa terasa Andin bekerja sudah sampai jam 4 sore, ia melihat Putri nya yang ternyata sudah terlelap bersama dengan Revan yang memeluk tubuh mungil Khansa.
Hah pantas saja tak ada suara nya sejak tadi, mereka sudah tidur, Andin bergumam dengan menggelengkan kepala nya geli.
Hingga dengan terpaksa ia membangunkan Revan karena dia dan Khansa akan pulang.
"Van, bangun"
Eummm, gumam Revan dengan perlahan mengerjapkan mata nya. Dia kemudian membuka mata dan menatap Andin yang sedang menahan senyum entah kenapa.
"Bangun, aku dan Khansa akan pulang"
Dengan perlahan Revan bangun, ia tidak ingin sampai Khansa terbangun karena gerakan yang kasar dan menganggu tidur Putri cantik itu.
"Boleh aku antarkan tidak?"
Pertanyaan dengan di barengi tatapan permohonan, dan Andin hanya bisa mengangguk pasrah saja.
Toh dia juga tak ada mobil, karena mobil nya sedang di pake oleh Asisten dan orang kepercayaannya untuk meninjau lokasi yang akan di bangun untuk Resto.
Sedangkan mobil satu lagi sedang di servis di bengkel dan tak dapat selesai hari ini.
Yeay.
Revan bersorak dengan tertahan dalam hati, ia izin untuk menggunakan kamar mandi terlebih dulu pada Andin sebelum mereka pulang.
Sedangkan Andin menunggu disana dengan memesan beberapa makanan untuk di bawa pulang ke Rumah.
"Ayo Ndin"
Ajakan Revan mendapatkan anggukan dari Andin, saat akan menggendong Khansa Andin lebih dulu dari Revan dan pada akhir nya Revan lah yang menggendong Khansa.
Keduanya keluar dari ruangan tersebut dan berlalu ke arah mobil milik Revan.
'Ya ampun kenapa serasi sekali sih'
'Aku kira owner Resto ini masih jende, eh taunya udah punya laki'
'Bukannya itu Tuan muda Revan Atmajaya ya, pengusaha muda yang sangat hebat itu'
Dan masih banyak lagi bisikan demi bisikan yang melihat bagaimana Andin berjalan beriringan dengan Revan yang menggendong Khansa.
Bahkan saat kepergian mobil itu pun mereka masih tetap berbisik dengan beberapa asumsi yang mereka keluarkan, sedangkan para karyawan Andin hanya bisa diam karena takut terkena masalah dan berimbas pada pekerjaan mereka.
.
.
.
.
__ADS_1
.