Diamnya Istriku

Diamnya Istriku
Bab 47 Kebahagian Andin dan Revan.


__ADS_3

Pada akhir nya, Candra di masukan ke dalam rumah sakit jiwa oleh sang Ayah.


Setelah malam jebakan itu, Candra semakin histeris dan tak terkendali. Hingga Dokter menemukan fakta bahwa Candra cukup terganggu mental dan jiwa nya, sehingga mengakibatkan Candra di kirim ke rumah sakit jiwa.


Marisa serta Bunda hanya bisa pasrah, keduanya ikut apa kata Ayah yang memang benar adanya.


Mereka mengelola perusahaan Candra dengan Marisa yang di jadikan CEO pengganti, bahkan Marisa tetap bersama kedua mertua nya karena orangtua nya yang sangat cuek.


Hari demi hari berjalan dengan sangat lancar dan damai, Marisa dan kedua mertua nya pun hidup dengan damai dan tak pernah menganggap Marisa itu menantu ataupun oranglain, mereka menganggap Marisa adalah Putri nya sendiri.


Hubungannya dengan Andin pun baik-baik saja, mereka bahkan sering melakukan quality time bersama untuk mempererat hubungan kekeluargaannya. Bahkan Khansa pun sesekali menginap di Rumah Marisa karena sang Oma rindu.


Beberapa bulan telah berlalu, kini bahkan usia kandungan Andin pun sudah tinggal menunggu hari saja.


Revan juga sudah mulai cuti dari kantor, dan sang Asisten yang akan datang jika ada hal penting ataupun mendesak.


*


Sore ini, keluarga kecil Revan sedang duduk santai di depan Rumah.


Mereka menikmati sore yang cukup dingin dengan memperhatikan Khansa sedang bermain bersama dengan seorang pelayan di halaman depan.

__ADS_1


Tawa bahagia selalu terdengar dari mulut kecil Khansa, ia sama baiknya dengan sang Bunda yang tak pernah membedakan semua pelayan di Rumah Ayah nya.


Hosh.


"Aduh Kakak capek Bun, boleh minta air" ucap Khansa yang sudah duduk bersimpuh kelelahan di depan sang Bunda.


"Ini sayang, istirahat dulu sayang" balas Andin memberikan segelas jus kesukaan Khansa.


Revan tersenyum melihat Khansa yang masih mengatur nafasnya yang memburu, ia mengusap lembut kepala sang Putri dengan sayang.


"Auwww" ringis Andin dengan memegang lengan sang Ibu yang berada di samping nya.


"Kamu kenapa Nak? Perut nya sakit?"


"Bi, tolong ambil koper berisi pakaian untuk ke Rumah sakit" teriak Revan.


Setelah semua siap, Revan langsung membopong Andin masuk ke dalam mobil yang sudah. Bibi juga sudah memasukan koper dan Khansa serta Ibu sudah duduk di depan bersama dengan sopir.


*


Selama perjalanan, Andin terus saja meringis dan memegang tangan Revan erat.

__ADS_1


Ia sesekali mengatur nafas atas saran Revan, tangan kekar Revan pun selalu saja mengusap lembut perut yang buncit itu.


Hingga tak lama kemudian mereka tiba di Rumah sakit, Dokter dan perawat sudah menunggu dan langsung saja Andin di bawa ke ruang bersalin.


Revan ikut serta masuk ke dalam, sedangkan yang lainnya menunggu di luar dengan lafalan doa terbaik untuk Andin.


"Nek, apa Bunda akan melahirkan Dede bayi?" tanya Khansa dengan antusias.


"Iya sayang, kamu doakan agar selamat dan sehat ya Bunda sama dede bayi nya" jawab Ibu dengan tersenyum.


Khansa menganggukan kepala nya, dia duduk bersama sang Nenek untuk menunggu sang Bunda.


Sedangkan di dalam, Andin ternyata sudah pembukaan lengkap yang memang sedari pagi tadi sudah merasakan kontraksi namun ia tahan.


"Ayo sayang berjuang bersama dengan Bunda, Ayah dan Kakak,Bunda serta Nenek sudah menunggu kalian disini" bisik Revan pada perut sang Istri.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2