
"Sudahlah bang. Lebih baik kita cerai saja. Kau tak akan bisa membuat ku bahagia. Aku sudah muak hidup begini terus. Setiap hari aku tersiksa bang."
"Tapi Bu, bersabarlah sebentar. Kalau kita berpisah bagaimana nasib Mayang, Bu?"
"Biarkan Mayang tetap tinggal bersamamu bang. Dan aku akan ke kota untuk menemukan kebahagiaanku."
"Tapi Bu..."
"Sudahlah bang. Keputusanku sudah bulat. Aku akan pergi malam ini juga."
_________________________________
Ya, aku Mayang. Saat ini usia ku 9 tahun. Kehidupan ku sama dengan kehidupan para anak-anak seusiaku. Aku punya Ayah yang baik dan penyabar, juga Ibu yang sayang dan perhatian.
Namun itu hanya perasaanku saja. Karena pada kenyataannya, hidupku sangat berantakan.
Ayahku pekerja serabutan. Beliau kerja apa saja yang ada. Kadang ikut jadi kuli bangunan kadang pula jadi buruh pasar. Penghasilan ayahku hanya pas pasan.
Ibuku seorang ibu rumah tangga biasa. Setiap pagi ibu akan memasak sarapan untukku. menyapu, mencuci baju, bahkan menemaniku bermain.
Awalnya, semua ini memang baik-baik saja. Sampai pada suatu hari, bibi Saripah datang.
bibi Saripah adalah adik dari ibuku.
Dia tinggal dikampung sebelah. Dia menjadi istri kedua Pak Jupri, juragan sayur di kampungnya.
"Mbak, bang Ipul setiap hari beri uang belanja berapa sama kamu?"
"Adalah Sar. Cukup untuk makan kami."
"Cukup apanya mbak? Makan dengan lauk tahu tempe terus dibilang cukup. Sayurnya pun juga daun ketela di belakang rumah itu kan?
Mbak, mbok ya tegas gitu sama bang Ipul. mintalah uang belanja yang cukup. Jangan maulah dikasih cuma segini doang."
Kata-kata bibi Saripah ini sangat sering aku dengar. Aku saat itu memang masih kecil. Jadi aku hanya bisa jadi pendengar saja.
Tidak hanya sekali dua kali aku dengar Bi Sari berkata begitu. Setiap datang ke rumah pasti ini terus yang dibahas.
Semenjak kejadian itu, ibu jadi diam.
ibu tidak lagi seperti dulu. Bahkan kudengar, sering kali mereka bertengkar.
Dan lagi-lagi aku hanya bisa jadi pendengar di usia ku yang masih kecil.
***
"Ibu mau pergi kemana?
Kenapa ibu tinggalin Mayang sendiri? Nanti siapa yang akan masak buat Mayang? Siapa yang akan menemani Mayang bermain Bu?"
"Mayang, Ibu tidak bisa tinggal disini. ibu akan pergi mencari ketenangan hati. Mayang disini saja sama Ayah. jaga diri baik-baik Ya sayang" ucap ibu sebelum pergi sambil mengecup keningku.
"Bu, tidakkah kau kasihan terhadap putrimu. kalau bukan karena aku, kumohon tetaplah disini demi Mayang Bu. Dia sangat membutuhkanmu. aku mohon"
__ADS_1
"Tidak bang. keputusanku sudah bulat. permisi"
"ibu......"
Aku hanya bisa menatap kepergian ibu.
Aku tidak bisa mencegahnya. Aku tidak bisa membuatnya untuk tetap tinggal. Dan ayah, dia hanya bisa menahan tangisnya agar tidak pecah di hadapanku. Aku tahu, hatinya sangat hancur karena wanita yang dicintainya pergi. Pergi dengan alasan tak bahagia bersamanya
"Maafkan ayah, Nak. Maaf."
ayah memelukku erat. Seakan takut kalau aku akan pergi meninggalkannya seperti ibu.
Dalam pelukannya kurasakan tubuh ayah sedikit bergoncang. Aku tahu dia sedang menangis. Aku balas memeluknya erat.
'Ayah, aku akan tetap bersama ayah. Aku akan menjaga ayah. Aku akan temani ayah' janjiku dalam hati.
***
Pagi ini rasanya begitu berat. Setelah kejadian semalam, kami hanya diam. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku tak menyangka, ternyata ibu benar tidak ada. Ibu benar-benar pergi.
"Ayah, mulai hari ini Mayang akan masak buat ayah. Mayang akan selalu ada buat ayah. Mayang sayang ayah."
"Terimakasih, Nak. Maafkan ayah"
Aku hanya bisa membalas ucapan ayah dengan senyum. Bibir ini tak mampu lagi mengucap kata. Karena hati ini masih teramat sakit.
Aku memang tidak pernah memasak. Tapi setiap ibu memasak, aku selalu melihat dan memperhatikannya.
Pagi ini, kupetik daun singkong di belakang rumah. Kebetulan salah satu pohon pisang itu ada buahnya yang sudah matang. Aku pun mengambilnya. Nanti akan kujadikan gorengan buat cemilan ayah.
Ternyata masih ada 2 buah papan tempe yang belum ibu goreng kemarin. Semua bumbu-bumbu dapur masih lengkap. Aku yakin aku pasti bisa memasak ini semua.
"Mayang, ayah pergi kerumah pak RT dulu ya. Kemarin pak RT meminta ayah untuk membatunya memangkas pohon mangga di samping rumahnya. Kalau kamu tidak bisa masak, tidak usah masak Nak. Nanti kita beli saja sayur didepan."
Tiba-tiba ayah masuk ke dapur dengan membawa golok untuk memangkas pohon mangga milik pak RT itu.
"Iya ayah. Hati-hati. Mayang bisa kok memasaknya. Setiap hari kan Mayang selalu melihat ibu memasak. Jadi Mayang tau bumbu-bumbu apa yang dipakai."
"Ya sudah. Ayah berangkat ya. Assalamualaikum.."
"Wa'alaikumsalam ayah."
***
Setelah ayah berangkat, aku pun segera kembali ke pekerjaanku.
Daun yang telah aku petik ini aku cuci kemudian merebusnya.
Sembari menunggu daun yang kurebus, aku mengupas bumbu dan menggoreng tempe.
Setelah itu, pisang yang telah aku bawa dari kebun tadi aku kupas dan aku goreng.
'hmmmm, semoga ayah suka dengan masakan ku ini'
__ADS_1
Tak beberapa lama ayah datang.
"Assalamualaikum Mayang, ini ayah bawakan lauk ayam goreng. Tadi disana ayah disuruh sarapan. Tapi ayah menolak karena ingin sarapan sama kamu. Ayo kita sarapan bareng."
"wa'alaikumsalam, iya ayah. Ini masakan Mayang juga sudah matang. Ada pisang goreng juga buat ayah. "
"Alhamdulillah, terimakasih ya Nak. Sekali lagi maafkan ayah"
"Ayah, sudahlah. Jangan minta maaf terus. Mayang sayaaang sama ayah". aku pun memeluk erat ayah.
***
Selesai sarapan, akupun mencuci piring dan membereskan meja makan.
Kebetulan hari ini hari Minggu, jadi aku libur sekolah.
"Mayang, ayah akan kepasar. kamu baik-baik ya dirumah."
Tiba-tiba ayah muncul dan sudah berganti baju kerjanya.
Ya, baju kerja ayah adalah kaos oblong hadiah dari toko bangunan dengan setelan celana training.
"Iyaa ayah. Ayah hati-hati yaa."
***
Aku sedang duduk-duduk sendirian di ruang tamu. Selesai mencuci piring, aku tadi lanjut menyapu kemudian mencuci baju.
Rumah ini begitu sepi tanpa ibu. Aku masih tak habis fikir, kenapa ibu bisa tega meninggalkan aku dan ayah. Apa ibu sudah tidak sayang pada kami.
Tapi aku tak boleh sedih. Aku harus tetap semangat untuk melanjutkan hidupku bersama ayah. Aku tak mau membuat ayah sedih. Ditambah lagi, aku akan menghadapi Ujian Akhir Sekolah. Aku harus giat belajar agar aku bisa lulus dengan nilai tertinggi. Karena kalau aku bisa masuk 3 besar, aku bisa mendapat beasiswa di Sekolah Negeri.
***
Pagi ini, seperti biasa aku memetik sayur dikebun belakang. Hari ini aku akan memasak tumis kangkung dan tempe goreng kesukaan ayah. Sekarang dikebun belakang tidak hanya daun ketela dan pohon pisang saja yang ada. Tapi aku dan ayah menanam sayur kangkung, sayur bayam, sawi dan juga terong.
Buahnya pun juga ada buah pepaya. Selain buahnya yang matang bisa dimakan, yang masih muda pun bisa dijadikan sayur.
Kami sangat bahagia. Kami seakan takut untuk berpisah. Takut terulang kembali kejadian dimana ibu meninggalkan kami dan tak kembali lagi.
Tapi aku dan ayah tak pernah membahas soal ibu. Semua pertanyaan dan teka teki kepergian ibu hanya ada dalam hati.
Ibu hanya punya satu saudara, yaitu Bi Saripah. Kedua orang tua ibu sudah lama meninggal sebelum ayah dan ibu menikah.
Bu Saripah yang tahu akan kepergian ibu juga tak pernah membicarakan itu kepada kami.
Dia hanya sesekali datang berkunjung.
Pernah sekali waktu datang menghantarkan surat cerai ibu dan ayah. Kata bi Saripah, ibu memintanya untuk mengurus surat cerainya.
________________________
Minggu depan, aku akan menghadapi Ujian Akhir Semester Aku harus belajar lebih giat agar dapat nilai terbaik. Aku harus bisa membuat ayah bangga.
__ADS_1
Bisa masuk disekolah Negeri di kampung ku adalah impianku dan kawan-kawan. Di desa di kampung kami seperti ini, sekolah Negeri adalah sekolah unggulan. Dimana sekolah ini merupakan Sekolah Standart Nasional (SSN). Di sekolah ini, siswa yang berprestasi juga bisa mendapat beasiswa. Dan jika bisa mempertahankan prestasinya, maka untuk melanjutkan Sekolah Menengah Atas pun akan dipermudah melalui jalur prestasi.
Aku sangat berharap bisa tetap melanjutkan sekolah tanpa harus membebankan biaya pada ayah. Aku tak tega jika ayah harus bekerja lebih keras lagi untukku.