
10 menit kemudian kami sampai di depan kios makan.
Aku berganti baju dan pergi ke depan mengganti kan Tante Mita melayani para pembeli.
Hari ini warung sangat ramai. Pesanan nasi box dan kue sudah kami serahkan pengemasan nya pada karyawan.
Aku menghampiri seorang pemuda yang tengah duduk di bangku paling depan.
" Mau pesan apa kak?" sapa ku
Lelaki itu memakai topi dan berkacamata hitam. Dia juga memakai jaket jeans berwarna gelap.
" Saya mau pesan kamu." jawabnya.
Aku pun terkejut mendengar jawaban nya.
" Maaf, mungkin anda salah tempat." jawabku kesal.
Aku buru-buru pergi dan menuju belakang. Tapi dia memanggil namaku.
" Mayang, ini aku. Zen."
Dia membuka topi dan kacamata nya. Aku terbelalak kaget.
" Zen. kamu?" kataku memastikan.
" Kami tahu dari mana aku disini?" tanyaku heran.
" Tadi aku ikutin kamu. Habisnya kamu sih nggak mau diantar. Jadi nya kan aku harus menyamar kaya gini biar bisa ketemu kamu." jawab nya enteng.
' Aduh. ini anak cari gara-gara saja. Kalau Bella tahu kan bisa jadi salah paham' aku menggerutu kesal dalam hati.
" Terus kamu mau apa kalau udah tahu tempat kerja ku ini?" tanyaku
" Ya aku mau dekat dengan kamu lah." dia menjawab seenanknya saja.
" Maaf. Aku sibuk. Aku tidak bisa meladeni banyolan kamu. Permisi." kataku
" Tunggu May,. Oke . Maaf kalau aku mengganggu. Tapi bolehkan aku pesan salah satu menu spesial di warung kamu ini. Mau aku berikan sama mama aku soalnya." dia nampak memelas.
" Ya sudah tunggu." jawabku cuek.
Tiba-tiba saja aku punya ide cemerlang. Aku pun tersenyum girang sambil berlalu.
Aku menyiapkan pesanan nya dengan sebaik mungkin. Aku tidak mungkin menjahili mama nya, karena dia bilang makanan ini untuk mamanya.
Lalu aku memanggil Bella. Aku menyuruhnya memberikan pesanan ini pada Zen.
Bahagia sekali dia menerima perintah ku.
" Hai Zen, sudah lama kah? Ini pesanan buat mama kamu. Nggak usah di bayar deh. Buat calon mertua mah, gratis." katanya sambil cengengesan.
Aku mendengar percakapan mereka dibalik pintu dapur.
" Oh iya, terimakasih Bel." ucapnya sambil menerima bungkusan itu.
" Mau duduk dulu? Aku buatin minum ya?" tawar Bella masih dengan gaya konyolnya.
Aku yang mendengar nya hanya bisa tertawa geli.
__ADS_1
" Ah enggak terimakasih. Oh iya mana Mayang tadi? Aku mau pamit." kata Zen.
" Mayang lagi sibuk Zen. Disini aja biar aku temenin. Kan sama aja." kata Bella dengan manja.
" Enggak. Eh maksudnya aku harus pulang. Nanti ditungguin mama." jawab Zen. Nampak nya dia bingung mau mencari alasan apa lagi buat menghindari Mayang.
" Iiih, anak mama banget yaa. Pasti nanti kalau sudah punya istri bakalan sayang banget sama istrinya." ucap Bella lagi.
" Ya sudah. aku pamit ya. Makasih makanan nya. Pasti mamaku suka."
Dia pun pergi.
Setelah itu aku pun keluar. Diluar aku dan Bella tertawa bersama. Tante Mita pun bingung.
" Kalian kenapa sih?" kata Tante Mita melihat kami tertawa terus.
" Itu Tan, kami baru mengerjai teman. Habisnya dia usil sih." Jawab Bella memberi penjelasan
" Tapi kamu suka Kaan?" godaku pada Bella.
Dan kami pun tertawa lagi.
****
Keesokan harinya di sekolah.
Aku berharap setelah kejadian itu Zen akan sedikit menjauh dari aku.
Karena aku risih aja melihat dia merajuk apa pun seperti anak kecil terhadap ku.
Bahkan kata Bella, ada anak kelas XII yang tertarik pada Zen.
" Oh iya, sama-sama." Balas ku cuek.
" May, kalau hari Minggu jualan kamu nggak free ya? Aku benar-benar butuh bantuan kamu untuk mengajari ku sebagian pelajaran yang tertinggal May. Kamu mau kan?" pinta Zen memelas
Lama-lama kasihan juga sih padanya.
" Oke. Aku akan mengajari kamu. Tapi sama Bella juga. Dia juga jago loh matematika nya." jawabku
" Padahal aku sih pengennya berdua aja." kayan Zen lirih.
" Apa Zen?" tanyaku pura-pura tidak dengar.
" oh enggak. Nggak apa-apa kok May. Iya terserah kamu aja. Yang penting aku bisa belajar. Karena aku mau pinter kaya kamu Maymunah" Katanya menggoda
" Iihh kok Maymunah siihh" jawabku jengkel.
" Ya udah, nggak jadi aja deh belajar nya." kini aku yang merajuk. Kulipat kedua tangan ku ke depan sambil memalingkan wajah.
" Aduh duuuh... Tambah cantik aja nih kalau lagi marah gini." Zen tambah menggoda ku.
Sebenarnya pipi ku ini rasanya memanas. Hatiku berdebar tak karuan. Tapi aku nggak boleh baper.
____________________________
Hari Minggu pun tiba. Kami sepakat melakukan belajar bareng ini di taman dekat sekolah. Karena disana ada tempat yang ku rasa nyaman untuk belajar.
Dibawah pohon Cemara yang rindang terdapat bangku panjang lengkap dengan mejanya.
__ADS_1
Aku dan Bella datang terlebih dahulu.
'' Hai.. Maaf ya telat." sapa nya
" Iya nggak apa-apa kok. Tadi masih bantuin mama bersih-bersih ya?" goda Bella
" Oh apaan sih. Enggak lah ya. Tadi aku bangun kesiangan karena tadi malam tidur terlalu larut." jelas Zen sambil membetulkan posisi duduknya.
Kami duduk berhadap-hadapan.
ddrrrtttt ddrrrtttt ddrrrtttt
Tiba-tiba ponsel Bella berdering. Bella meminta izin untuk mengangkat telp.
" Nah ini yang ku mau." Zen berkata hampir tak kedengaran.
" apa Zen?" tanya ku memastikan
" EH enggak kok. Aku nggak ngomong apa-apa." Jawab nya bohong.
" Ya sudah. Ayo mulai belajarnya." Ajakku
" May, maaf ya. Aku harus pergi. Ibu meminta ku mengantarkannya membeli obat untuk asam uratnya. Nggak apa-apa ya aku tinggal." kata Bella sambil merapikan buku-buku nya.
" Nggak apa-apa banget dong" jawab Zen.
" Apa Zen?" Tanya Bella memastikan.
" Enggak. Maksudku hati-hati dijalan Bella. Sampai ketemu besuk di sekolah." Jawab Zen
" Aku pergi ya May, Awas ya Zen. Jaga Mayangku baik-baik." pesan Bella pada Zen.
" Apaan sih?" aku tak suka dengan candaan mereka
****
1,5 jam berlalu.
Zen tampaknya masih belum begitu faham
Kalau aku jelas kan dia akan faham, tapi kalau sudah masuk soal, dia akan bleng lagi.
' Huft.. bener-bener butuh perjuangan.' kata ku dalam hati.
" Ya udah Zen, kita akhiri sampe disini dulu yaa. Kasihan kamu kalau terlalu dipaksa." ucapku pada Zen.
" , Baiklah, aku antar pulang yaa" tawanya
" Aku naik angkot aja deh Zen"tolakku.
"Ayolah May, Sekali-kali aku antar pulang." imbuh Zen sambil membereskan peralatan belajar nya.
" Nggak usah Zen. Aku bisa naik angkot. Nanti kamu dicariin mama kamu loh." kali ini aku mencoba menggoda nya
" jangan gitu lah May. Aku tuh malu disebut-sebut anak mama Mulu. Padahal aku lagi sayang-sayangnumya sama mama. Dulu mamaku meninggal ketika aku masih bayi. Makanya sekarang aku punya mama aku bahagia banget. Walau dia bukan mama kandung ku, tapi dia sayang banget ama aku May." jelasnya panjang lebar.
Kasihan juga si Zen. Ternyata di balik kekonyolannya dia punya kisah hidup yang memilukan. Aku jadi merasa bersalah suka menggodanya.
" Maafin aku ya Zen. Aku tak bermaksud mengejekmu. Kami hanya bercanda aja kok." ucapku dengan rasa bersalah.
__ADS_1