Dibalik Awan Kelabu

Dibalik Awan Kelabu
31 Bertemu mama Zen


__ADS_3

Seminggu sudah kita mulai masuk sekolah lagi.


Kegiatan belajar dan beberapa pekerjaan rumah pun sudah menanti setiap hari nya.


Sekarang, Bu Yasmin dan Tante Mita meminta aku dan Bella untuk lebih banyak belajar saja dari lada membantu di dapur atau pun warung. Karena Tante Mita juga sekarang menambah karyawan untuk bantu-bantu.


Hari ini adalah hari Sabtu,


seperti biasa, pulang sekolah Zen mengantar ku pulang.


Dia yang minta agar dia bisa setiap hari bisa mengantar ku pulang. Kalau pagi hari nya, aku menolak di jemput karena kasihan sama Zen. Arah rumah ku dan rumahnya berlawanan, jadi kalau pagi takutnya kena macet dan dia jadi kesiangan ke sekolah nya.


Kadang Bella juga ikut bareng kita, kadang juga dia lebih memilih naik angkot.


Hari ini Bella memilih naik angkot karena dia akan pergi ke suatu tempat terlebih dahulu.


Di tengah perjalanan, Zen bilang pada ku


" May, hari ini mama mengundang kamu buat ikut makan malam di rumah. Apa kah kamu bersedia?"


" Hmmmm, aku kok jadi grogi gini ya mau ketemu mama kamu. Padahal dulu sama papa kamu biasa aja malah." jawab ku jujur.


" Nggak usah grogi gitu. Mama ku orang nya baik kok. Nanti malam aku jemput jam 7 yaaa." kata Zen.


" Oke." jawabku singkat.


Setelah sampai gang, Zen mengantarku berjalan sampai depan halaman rumah. Setelah bertemu dengan Bu Yasmin dan Tante Mita, Zen pamit pulang karena mau membantu mama nya mempersiapkan acara makan malam nya dengan ku.


Zen juga telah meminta izin pada Bu Yasmin untuk mengajakku makan malam di rumah nya, dan Bu Yasmin pun menyetujui nya.


***


Sedari sore tadi, aku bingung memilih baju mana yang akan ku pakai untuk menghadiri acara ini.


Beberapa kali aku membolak balikkan isi lemari. Aku bingung pakaian mana yang pantas untuk aku pakai. Lalu tiba-tiba Bu Yasmin muncul dan berkata,


" Kenapa sayang?"


" aku bingung Bu, pilih baju yang mana." jawab ku pasrah.


" Boleh coba ibu bantu pilihkan?" pinta Bu Yasmin.


Aku pun mengangguk tanda setuju.


Bu Yasmin pun mencoba memilih baju di lemariku dan memberikan nya pada ku


Aku pun senang dengan pilihan baju yang dipilih ibu Yasmin.


Aku segera berganti pakaian dan merias tipis wajahku.

__ADS_1


Pukul 07 tepat, Zen datang menjemputku. Dia tampak terpana melihat ku memakai dress coklat klasik tanpa motif dengan paduan high heels dan clutch senada. Juga balutan riasan wajah yang sederhana dan tampak natural. Serta rambut yang kubiarkan tergerai dengan jepitan kecil menghiasinya.


Dia ternganga sejenak dan tersadar ketika Tante Mita berdehem sedikit keras.


Setelah sadar, dia tampak jadi salah tingkah. Aku pun tersenyum melihatnya.


" Udah cepetan berangkat gih. Nanti mertua kelamaan nunggu loh." goda Tante Mita.


Malam ini Zen juga tampil lebih cool. Dia memakai kemeja polos dengan celana jeans hitam yang sepadan. Benar-benar tampan, pekik ku dalam hati.


Kami pun berangkat menggunakan mobil Zen. Dalam mobil, kami sering diam. Kami saling mengagumi keindahan masing-masing.


" Kamu cantik banget malam ini." hanya ini yang keluar dari mulut Zen sejak tadi dan dia mengucapkan nya berulang-ulang.


" Emang biasanya nggak cantik yah?" jawab ku sambil sedikit cemberut.


" Cantik. Tapi kali ini lebih sangat cantik. Aku sampe pengling loh tadi. Kirain bidadari yang turun dari langit. Eeh tahunya itu kamu."


Kami pun tertawa bersama.


***


Kami tiba dirumah Zen.


Oom Hans menyambut ku penuh suka cita. Beliau menyuruhku masuk. Katanya sang mama masih menyiapkan sesuatu di dapur.


Lalu oom Hans langsung mengajak kami menuju dapur. Katanya dia sudah sangat lapar dari tadi. Dia tak sabar ingin menikmati makan malam buatan istrinya itu.


Aku dan Zen hanya bisa mengikuti nya.


Rupanya mama Zen sudah bersiap,


" Ayo duduk sini May, Tante sudah mempersiapkan semuanya untuk kamu." sapa mama Zen pada ku


Deg.


Tiba-tiba jantung ku rasanya mau copot. Aku berharap aku sedang bermimpi saat ini.


Ketika mama Zen menoleh, aku baru tahu kalau itu....


" Waaah, kamu cantik sekali May,.. Pantesan Zen siang malam mikirin kamu. Bahkan waktu dua Minggu nggak ketemu dia kelihatan tersiksa banget tuh." goda mama Zen.


Aku yang masih syok hanya diam saja tak menanggapi.


" Kamu kenapa May?" tanya Zen. Ternyata raut muka ku tak bisa ku sembunyikan.


Ingin sekali aku berkata jujur. Tapi aku nggak mau merusak acara momen makan malam ini. Namun, untuk menolak nya, hatiku juga tidak mau. Ada perasaan tidak terima dari lubuk hatiku yang terdalam.


Orang yang terlihat bahagia dengan keluarga baru nya itu, dulu pernah membuat anak dan suaminya menderita. Meninggalkan nya begitu saja tanpa mau mengerti sedikit pun.

__ADS_1


Orang itu sangat egois.


Tanpa terasa, air mata ku jatuh dipipi. Aku menangis. Aku tidak tahan.


Lalu aku berlari meninggalkan semuanya.


Aku ingin berlari jauh. Sangat jauh. Aku ingin segera bangun dari mimpi buruk ini. Tapi nyatanya, ini adalah kenyataan pahit yang aku alami.


Ibu kandung ku adalah ibu tiri pacar ku.


Betapa sempitnya dunia ini. Kenapa harus begini jalan cerita ku.


Tapi Zen mengejar ku. Dia menarik lengan ku. Membawa ku ke dalam pelukannya.


Aku pun menangis dan dia membiarkan ku menangis.


Setelah tangis ku mulai reda, Zen bertanya kepada ku dengan sangat hati-hati.


" kamu kenapa gadis cantikku?"


" Zen, mulai sekarang kita akhiri saja hubungan ini. Aku nggak mau lagi Zen." jawab ku sambil terbata.


" Apa salahku May? Apakah ada sesuatu perbuatan ku yang melukai hatimu?" tanya nya mendesak ku.


Sebenernya aku ingin ini cukup sampai disini saja. Aku tidak mau lagi membahasnya. Tapi Zen juga butuh penjelasan.


" Zen, nama Ibu kamu Sarini kan?" tanya ku. Sebenarnya aku ingin jawaban 'tidak' dari pertanyaan konyol ku ini.


" Iya bener. Nama mama ku Sarini May. Kenapa? Kamu kenal kah sama mama?" tanya Zen bingung.


Aku menangis lagi. Hatiku bener-bener hancur.


' Ayah... orang yang dulu ninggalin kita, kini sudah bahagia bersama keluarga baru nya. Dan aku terperangkap ke dalam kehidupan anak nya.' jeritku dalam hati.


" Ada apa May? Jawab dong pertanyaan ku" Zen semakin mendesak ku.


" Kamu tau Zen? Mama yang selama ini sayang padamu, mama yang selama ini kamu bangga-banggakan, 8 tahun yang lalu pernah meninggalkan anak dan suaminya hanya karena materi. Dia tidak perduli bagaimana kehidupan keluarganya di desa. Bahkan dia tidak peduli susah nya sang anak dikala ayah nya meninggal...." aku tak mampu lagi meneruskan kata-kata ku. Hati ku teramat sangat perih.


" Maafkan aku Zen. Aku harus pergi."


Aku pun meninggalkan Zen sendiri yang masih tidak percaya dengan kenyataan ini.


Aku pun demikian. Sangat sangat terpukul dengan ini.


Aku tak menyangka, orang yang ingin aku lupakan malah berada di antara ku.


Aku berharap ini mimpi.


Aku masih sangat mencintai Zen

__ADS_1


Tapi aku tidak mau melihat mama nya yang juga ibu ku sendiri.


Ku fikir, dulu ibu ke kota untuk kerja. Dan akan kembali lagi pada ku dan ayah. Ternyata dia malah menikah dan berbahagia dengan keluarga baru nya. Ini yang membuat ku tak bisa memaafkan ibu.


__ADS_2