Dibalik Awan Kelabu

Dibalik Awan Kelabu
02 Kelulusan


__ADS_3

Pagi ini, pengumuman hasil Ujian Akhir kemarin akan diumumkan. Sedari subuh tadi, perasaanku sudah cemas.


"kamu kenapa Nak? Kok kelihatan begitu gelisah?" tanya ayah sewaktu kita sedang sarapan pagi.


"Hari ini hasil Ujian Akhir akan diumumkan ayah. Tapi Mayang takut.."


"Kenapa sayang?" tanya ayah sambil mengernyitkan dahi.


"Mayang takut kalau Mayang gagal yah. Mayang nggak mau mengecewakan ayah. "


aku menjawab pertanyaan ayah sambil terisak. Dan tiba-tiba aku teringat pada ibu.


Dimana dia sekarang. Sudahkah dia menemukan kebahagiaan yang dia cari selama ini. Apakah dia tidak rindu denganku? Dengan ayah?


"Nak, kamu kan sudah berusaha. Sudah giat belajar. Untuk hasil selanjutnya, serahkan semuanya pada Allah. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha,ikhtiar. Dan untuk hasil, hanya Tuhan yang bisa memberi. Sekarang sholatlah. Sudah waktunya sholat Dhuha kan. Mintalah kepada Allah apa yang jadi hajatmu Nak. Biar ini semua ayah yang bereskan."


ucap ayah sambil memelukku.


Dan saat itu juga, tangisku tumpah. Aku memeluknya erat. Saat ini hanyalah dia yang aku punya. Hanya ayah yang menjadi tempat curhat ku.


Aku pun menuruti perintah ayah.


Aku bergegas ke kamar mandi mengambil air wudhu untuk kemudian sholat ke kamarku.


Usai sholat, aku menumpahkan segala beban yang ada di hati ku. Aku menangis. Aku berserah.


***


Kini sudah saatnya berangkat ke sekolah.


Aku pun pamit pada ayah untuk berangkat sekolah.


"Hari ini ayah antar yaa. "


"Tapi ayah kan harus ke pasar. " jawabku sambil mengernyitkan dahi.


"Hari ini hari spesial kamu sayang. Ayah ingin mengantarmu ke sekolah. Apa kamu keberatan?"


"Tentu tidak ayah. Ayo kalau begitu kita berangkat. "


Kami berjalan berdua menuju ke sekolahku.


Jarak dari rumah kesekolah hanya 10enit dengan berjalan kaki. Disepanjang perjalanan kami bercerita-cerita.


Ayah menceritakan kepadaku tentang kehidupan masa kecilnya. Tentang hewan-hewan ternak yang digembalanya. Tentang teman-temannya. Dan tentang ibu.


Ketika membahas tentang ibu, kami terdiam.


Kami tenggelam dalam perasaan masing-masing. Hingga tak terasa kami sudah sampai disekolah.


"Ayah, Mayang masuk dulu yaa. Ayah hati-hati. Pengumannya nanti akan diumumkan pukul 09 yah. Nanti selesai dari sekolah, Mayang susul ayah ke pasar yaaa"


ucapku sambil mengecup punggung tangan ayah.

__ADS_1


"Tapi nanti apa kamu tidak capek?"


"Tidak ayah."


***


Pukul 08 tepat.


Kami berada di dalam kelas masing-masing. Kami bercerita, bercanda, menikmati akhir masa di Sekolah. Karena sebentar lagi kami semua banyak yang berpisah. Ada yang memilih melanjutkan ke Sekolah Negeri, ada yang ke sekolah Swasta, ada pula yang melanjutkan ke sekolah luar kota.


Jadi waktu ini kami sempatkan sebaik-baiknya untuk menikmati kebersamaan.


"May, kamu jadi kan nanti nerusin ke Sekolah Negeri? Biar kita bisa terus barengan." tanya Bela.


"InsyaAllah ya Bel. Semoga saja aku bisa masuk 3 besar dan bisa dapat beasiswa agar aku bisa meneruskan ke sekolah Negeri." jawabku


Bela adalah teman sebangku ku. Dia adalah anak orang kaya. Tapi dia tidak sombong. Dia mau berkawan dengan siapa saja. Termasuk aku


"Iyaa, Aku doakan semoga kamu bisa masuk 3 besar dan dapet beasiswa biar kita bisa bareng terus ya May. Nanti kalau ga ada kamu, kalau ada kesulitan belajar, aku minta tolong pada siapa dong" candanya.


Kemudian kami tertawa bersama.


Selain Bela, ada juga Rani, Dinda, Siti dan juga Rahma.


Dalam satu kelas, kami ada 20 siswa.


Kami hampir tidak pernah bertengkar. Kami selalu rukun. Tak pernah saling ejek satu sama lain.


Ketika ada tugas atau pelajaran yang belum dimengerti, kami akan saling bantu.


Tiba-tiba Bu Guru masuk kedalam kelas. Ya, dialah Bu Yasmin. Wali kelas kami.


"Selamat pagi anak-anak. " sapa Bu Yasmin


"Selamat pagi Bu.." jawab kami serentak.


"Bagaimana kabar kalian hari ini?"


"Alhamdulillah baik Bu.."


"Syukurlah.. Hmmm, baiklah anak-anak. Langsung saja ya. Hari ini adalah hari yang sangat kalian tunggu-tunggu. Hari penentuan yang akan menentukan cita-cita kalian.


Tapi tahukah kalian? Ada perasaan sedih di hati ibu. Ibu sedih....."


Bu Yasmin menggantungkan kalimatnya. Tampak beliau sedang mengatur perasaan yang berkecamuh di hatinya. Beliau tarik napas berkali-kali namun kayanya masih gagal. Aku pun maju ke depan kelas dan memeluknya. Kini tangis Bu Yasmin pecah.


Kami pun satu kelas ikut menangis.


Anak laki-laki pun tampak menitikkan air mata. Dan kemudian Bella datang membawakan segelas air putih untuk Bu Yasmin. Setelah meminum air itu, tampak Bu Yasmin sedikit tenang dan lega.


"Anak-anak.. Ibu bangga terhadap kalian. Ibu bangga pernah menjadi wali kelas kalian. Kalian adalah anak-anak hebat. Anak-anak cerdas. Kalian selalu rukun. Tak pernah bertengkar. Selalu menolong satu sama lain. Ibu yakin kalian semua bisa meraih cita-cita kalian. Bisa menjadi orang sukses.."


Kembali Bu Yasmin terdiam.

__ADS_1


"Ibu telah menganggap kalian seperti anak ibu sendiri. Tak pernah ibu bedakan. Kalian tahu kan, ibu ini sebatang kara berada di kampung ini. Orangtua ibu telah meninggal, dan disini ibu mengabdi untuk menjadi guru di sekolah ini. Namun, semenjak ibu mengajar kalian. Ibu merasa seakan memiliki keluarga Nak. Ibu bahagia. Ibu selalu bersemangat pergi ke sekolah. Dan hari ini..."


Tampak begitu berat Bu Yasmin melanjutkan kata-kata nya.


"Hari ini, hari pengumuman kelulusan itu tiba sayang. Ibu bahagia dan bangga. Kalian semua bisa lulus dan dapat nilai terbaik.


Dan alhamdulillah sekolah kita masuk peringkat pertama se kabupaten. Itu semua berkat kalian sayang... Terimakasih...."


prok.. prok.. prok..


Tiba-tiba dari luar kelas ada yang bertepuk tangan. Mereka adalah bapak kepala sekolah dan beberapa guru lainnya.


Kami pun langsung bersujud syukur. Berterimakasih kepada Illahi Robbi tentang kebahagiaan ini.


"Anak-anak.. selamat. Alhamdulillah kalian semua lulus dan nilai nya bagus. Kalian telah membawa nama baik sekolah kita sampai tingkat kabupaten. Bapak sangat sangat berterima kasih pada kalian. Pesan bapak, setelah ini, janganlah kalian patah semangat. Kalian harus tetap semangat belajar. Harus bisa mengejar cita-cita kalian. Dan kalian harus menjadi orang sukses. Bapak bangga terhadap kalian Nak." kata-kata dari pak Muhadi menyejukkan dan memberi semangat lagi pada kami.


Kami pun saling berjabat tangan dan berpelukan. Rasa haru dan bahagia menyelimuti suasana pagi ini.


Kini adalah saat pengumuman siswa yang mendapat beasiswa ke Sekolah Menengah Negeri.


"Anak-anak, sesuai peraturan pemerintah, hanya ada 3 siswa yang masuk 3 besar yang akan mendapatkan beasiswa ini. Tapi kalian jangan berkecil hati. Nilai Ujian kalian di atas rata-rata. Jadi kalian nanti bisa mendapat beasiswa melalui jalur prestasi. Untuk itu bapak tak bosan-bosan mengingatkan kalian agar jangan lupa belajar. Jangan sampai lengah, dan tetap semangat."


"Sebenarnya kami ingin kalian semua bisa dapat beasiswa ini. Tapi ini sudah aturan pemerintah bahwa hanya 3 anak saja yang bisa mendapat kan."


"Baiklah, yang mendapat peringkat 3 yaitu.... Ahmat Rafif. dengan nilai 95,4."


prok prok prok....


"Selanjutnya.. yang mendapat peringkat ke 2 adalah... Rania Damayani. Dengan nilai 95,6."


prok prok prok...


"Dan yang terakhir,.. Sebenarnya nilai kalian semua itu tidak selisih banyak. Yang menjadi selisih hanya ada di angka desimal ya saja."


pak Muhadi berdiam sejenak sambil tersenyum.


"Dan yang mendapat nilai pertama adalah... Mayangsari."


Allohu Akbar. Allah maha besar.


Alhamdulillah


Akhirnya...


Mereka semua, teman-teman Perempuanku memelukku erat. Mengucap selamat kepadaku. Bahkan ada yang sampai menitikkan air mata.


___________________________________


Siangnya, sepulang sekolah. Aku langsung menemui bapak di pasar. Hari ini aku sangat sangat bahagia. Aku akan memberikan kabar ini kepada bapak. Pasti bapak senang.


Tapi, aku belum sampai pasar, pak Tarjo, teman bapak, memanggilku.


"Mayang, tadi bapakmu jatuh waktu mengangkut barang. Dan sekarang dibawa ke Rumah sakit. "

__ADS_1


Degg..


Bagai disambar petir. Mendadak kaki ku lemas. Tubuhku serasa ringan dan melayang. Aku terjatuh dan... Tidak sadarkan diri


__ADS_2