Dibalik Awan Kelabu

Dibalik Awan Kelabu
40 Zen Sakit


__ADS_3

Lusa adalah jadwal aku mengikuti olimpiade selama satu Minggu di luar kota.


Selama mengikuti lomba, semua biaya makan dan transport di tanggung pihak sekolah.


Aku pun didampingi oleh seorang guru yang ditugaskan dari pihak sekolah.


Beberapa hari ini aku juga dibekali beberapa materi yang nanti akan dijadikan lomba.


Dan untuk itu, selama beberapa hari ini aku tidak mengikuti kegiatan belajar mengajar seperti biasa.


Sepulang sekolah, Bella menghampiri ku yang baru saja merapikan buku di ruang perpustakaan. Disinilah aku belajar beberapa hari ini.


" May, sudah selesai belajar nya?" tanya Bella ketika aku memasukkan buku ku ke dalam tas .


" Sudah Bel, ayo pulang." ajakku pada Bella seraya berdiri.


" May, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu." Bella berkata dan menahan ku untuk berdiri. Dia mengajakku kembali duduk di bangku dalam ruang perpustakaan ini.


"Ada apa Bel?" tanyaku dengan penasaran.


Tumben Bella ingin berbicara serius padaku.


Aku pun menurutinya dengan duduk di samping nya. Meletakkan kembali tas dan buku ku.


"Ini tentang Zen May. Sudah 4hari ini Zen nggak masuk. Dia sakit" ucap Bella.


Aku menghela napas dan menghembuskan nya pelan.


Bibir ini seakan terkatup untuk membahas tentang dia lagi.


Aku memang masih sayang pada Zen.


Tapi rasa kecewa ku pada ibu, yang kini menjadi mama Zen, membuatku harus melupakan rasa sayang ku ini padanya.


"Kamu nggak mencoba menghubunginya?" tanya Bella karena sedari tadi aku hanya diam saja.


Aku menggelengkan kepala pelan.


Aku tak ingin berhubungan lagi dengan Zen.


"May, ayolah. Biar bagaimana pun juga Zen pernah ada dalam hati kamu. Setidaknya sebagai seorang teman, apa kamu tidak mau menengoknya?" kata-kata Bella begitu menusuk hatiku.


Tapi Bella benar. Aku tidak boleh egois dengan Zen. Bukan aku saja yang tersakiti oleh kepergian ibu, tapi kini Zen juga tersakiti oleh ku.


Aku masih diam. Aku tidak tahu harus bicara dan berbuat apa sekarang. Tapi aku tidak mau masalah ini membuat konsentrasi ku pada olimpiade mendatang jadi kacau. Aku nggak mau mengecewakan sekolah ini dan aku nggak mau jalan ku agar aku bisa masuk universitas negeri terhalang.


"Pulang sekolah ini kita jenguk Zen ya. Aku sudah minta izin kok sama Bu Yasmin." ujar Bella sedikit memaksa.


Aku menjawabnya dengan anggukan kepala.


***


Kami tiba dirumah Zen.


Aku kembali menginjakkan kaki ku di tempat ini. Setelah beberapa waktu yang lalu aku juga ada disini dan akhirnya kembali bertemu ibu.


Aku menghentikan langkahku.


Berat rasanya kaki ini untuk melangkah masuk ke dalam. Ada rasa yang menusuk dalam hati ketika mengingat tentang kejadian malam itu.

__ADS_1


Tapi Bella menggenggam tanganku dengan erat. Seakan memberi ku kekuatan dan memberi ku semangat.


Aku menganggukkan kepala dan kita pun berjalan masuk ke rumah Zen.


Ting Ting Ting


Bella membunyikan bel yang ada di pintu rumah Zen.


Tapi tak ada sahutan. Bella pun mencoba nya sekali lagi dan memberi salam.


"Assalamualaikum..."


Sepi.


dan Bella pun mengulanginya.


"Mungkin nggak ada orang. Ayo kita pulang saja." ajakku pada Bella.


Setidaknya aku merasa lega karena tidak jadi bertemu dengan orang-orang yang memang aku pun belum siap bertemu dengan mereka.


Baru saja kami melangkah mau meninggalkan rumah Zen, tiba-tiba pintu itu dibuka. Ada seorang ibu paruh baya keluar dari dalam.


"Maaf Neng, mau cari siapa ya?" sapa perempuan itu.


"Kami teman sekolah Zen Bu. Apa Zen ada dirumah?" tanya Bella pada ibu itu.


"Oh temannya den Zen. Mari masuk. Den Zen ada di dalam. Sedang disuapi sama ibuk. Dari tadi pagi nggak mau makan." jawab ibu ini.


"Mari silahkan duduk Neng, saya panggilkan ibu dulu ya." Kata ibu ini dan berlalu meninggalkan kami.


Kami hanya mengangguk dan mengulas senyum pada ibu itu. Mungkin dia adalah asisten rumah tangga di keluarga Zen.


Tak berapa lama, mama Zen turun dari tangga. Melihat kedatanganku, dia tampak gembira.


"Makasih ya sayang. Kamu mau datang menjenguk Zen. Ibu tidak tahu harus dengan cara apa lagi untuk membujuk Zen. Dia tidak mau makan, tidak mau minum obat. Dia frustasi berat setelah kamu putusin May." cerita mama Zen pada kami.


Lagi-lagi aku hanya diam terpaku tak bisa berkata-kata.


"Sudah di bawa ke dokter juga kah Tan?" tanya Bella memecahkan suasana.


"Sudah Bel, tapi ya karena Zen nya tidak mau berusaha untuk sembuh jadi ya belum ada perubahan. Malah semalam badannya lanas banget. Dia mengigau menyebut nama Mayang." ucap nya sambil terisak.


Pilu sekali rasanya melihat seorang ibu yang menangisi anaknya yang sedang sakit.


Walau rasa sakit yang didada ku juga ikut berontak.


Zen adalah anak tiri ibu, tapi ibu begitu perhatian pada Zen. Lalu bagaimana dengan aku yang anak kandung nya?


Tapi mendengar cerita mamanya tentang Zen, rasa khawatir ku pada Zen tumbuh.


"Bolehkah kami melihat Zen?" tanyaku tanpa menyebutkan nama mama Zen atau ibuku.


"Boleh sayang. Ayo ikut ibu." Ibu pun membimbingku menaiki anak tangga menuju kamar Zen.


Setelah membuka pintu, dia berkata


"Tolong bujuk Zen agar mau makan ya. Ibu tinggal kebelakang dulu."


Aku pun hanya mengangguk sebagai jawaban.

__ADS_1


Perlahan aku melangkah masuk menuju kamarnya.


Kulihat dia berbaring miring membelakangi ku. Mungkin dia tidak sadar kehadiran ku.


Tubuhnya sedikit terguncang. Seperti nya dia sedang menangis


Aku pun memanggilnya pelan.


"Zen.." ucapku lirih.


Pria itu diam tak menoleh. Aku pun semakin dekat kearah nya lalu aku menghampirinya dan berada di depan nya


Menyadari kehadiranku, dia buru-buru menyeka air mata nya.


Hati ini teriris melihat dia menangis.


"Eh kamu. sudah lama datang?" tanya nya seakan menyembunyikan rasa sedih nya.


"Lumayan." jawabku


" Kamu apakabar?" tanyaku lagi.


"Aku baik kok." jawabnya sok sehat. Padahal aku tahu kalau dia memang sedang tidak baik.


"Kamu makan ya. Aku suapin."


Aku mengambil piring yang terletak di atas meja samping tempat tidurnya.


Aku menyuapi nya dalam diam. Dia pun enggan bertanya atau mengatakan sesuatu pada ku.


Sampai tak terasa, makanan yang ada di piringnya tandas tak tersisa.


"Minum obatnya ya." kataku sambil mengambil kan obat yang terletak tak jauh dari piring tadi.


Aku memberikannya dan memberikan air minum pada Zen.


"Kamu harus rajin minum obat supaya cepat sembuh dan bisa kembali bersekolah" imbuhku.


"Obat ku sudah datang. Jadi aku tidak perlu lagi obat dari dokter." katanya sambil tersenyum dan menggenggam tanganku


Aku menghela napas. Aku tau kearah mana pembicaraan Zen ini.


Aku ingin menghindar. Tapi aku nggak mau dia sakit lagi.


"Zen, boleh aku bicara?" izinku padanya.


Dia hanya mengangguk dan semakin meremas tangan ku.


Hatiku dibuat berdebar oleh sentuhan tangannya.


"Sebenarnya, aku memang masih sayang sama kamu. Tapi aku minta waktu buat mengembalikan hatiku yang sedikit hancur mengetahui kenyataan ini. Kenyataan dimana aku dan kamu sekarang ini menjadi saudara tiri Zen. Masih ada sedikit rasa sakit jika aku bertemu mama kamu." aku berkata panjang pada Zen.


"May,. Baru pertama kali ini aku jatuh cinta. Tapi harus berakhir tanpa adanya masalah yang berhubungan dengan hubungan kita.


Aku tahu kamu sakit, tapi ini bukan salahku kan. Lalu kenapa kamu menghukum aku seperti ini." Kali ini Zen yang berbicara. Suaranya sedikit parau sambil menahan tangis.


"Aku tahu ini bukan salah kamu. Disini tidak ada yang salah. Hanya saja keadaan yang telah merubah semuanya. Coba deh kamu fikir, ibu yang selama ini aku rindukan, yang selama ini meninggalkanku hingga aku sendirian, ternyata sudah punya keluarga sendiri dengan kebahagiaan dan melupakan anak kandung nya. Dan kenyataan pahit lainnya, ternyata ibu nya telah merawat dengan penuh kasih sayang orang yang sangat dicintainya."


Aku tak mampu menahan air mata ini mengalir begitu saja.

__ADS_1


"Zen aku mohon. Disini tidak hanya kamu saja yang sakit. Tapi aku juga. Sakit banget malahan. Kalau kamu bilang ini cinta pertama kamu, sama aku juga. Kamu cinta pertama aku dan kita harus berpisah karena keadaan ini." aku kembali meneruskan kata-kata ku.


"Aku mohon kamu jangan kaya anak kecil."


__ADS_2