Dibalik Awan Kelabu

Dibalik Awan Kelabu
16 Tante Mita


__ADS_3

Malam ini aku tak dapat tidur. Aku terus kepikiran tentang Bella. Aku ingin sekali membantu nya. Tapi aku bisa apa?


ddrrtttt ddrrrtttt


Tiba-tiba bunyi handphone ku berdering. Ku lihat layar telephon. Dari Bu Yasmin.


'Halo Bu. assalamualaikum..' sapaku dalam telp.


' wa'alaikum salam, Apa kabar Nak?' jawab ibu diseberang telp.


' Alhamdulillah baik Bu. Ibu sehat?' aku balik bertanya.


'ibu sehat May. Ibu kangen sekali sama kamu. Padahal kita baru berpisah 1 bulan.' kata ibu. Suaranya terdengar parau. Sepertinya ibu baru saja menangis.


'Mayang juga rindu pada ibu. Ibu menangis yaa?' tanyaku lagi


' Tidak May, Ibu tadi hanya terharu saja melihat foto-foto kamu dirumah. Rasanya rumah ini sepi tanpamu.' jelas ibu


Setelah berbincang-bincang dan saling melepas rindu, kami pun mengakhiri telp ini.


Usai membersihkan diri, aku mau beranjak tidur. Tapi pintu kamarku diketuk.


tok tok tok tok


"Mayang kami sudah tidur belum?" tanya Tante Mita.


"Belum Tante. Masuklah.."jawabku


"Mayang, maaf ya kalau Tante ganggu. Tante bingung harus bercerita pada siapa lagi May." Tante Mita bercerita sambil menundukkan kepala.


"Iya Tante, ada apa?" tanyaku penasaran.


"Jahit rumahan Tante semakin sepi May. Sekarang orang-orang lebih suka berbelanja online. Tante kekurangan pemasukan. Kalau Tante harus pergi kerja, Tante pasti akan ninggalin Rani dirumah. Dan kalau sampai keluarga papa Rani tahu kalau Tante kerja, maka Rani akan mereka bawa.


Mungkin kamu ada ide untuk memulai usaha gitu." cerita Tante Mita.


Aku mendengarkan dengan seksama dan dalam keadaan diam.


"Tante bingung May. Tante nggak mau kehilangan Rani. Hanya Rani lah yang Tante punya saat ini." Tante Mita melanjutkan ceritanya.


Aku paham. Namun aku juga bingung harus bagaimana. Sedangkan tadi aku pun juga memikirkan tentang Bella. Dia juga sedang kesusahan tentang keuangannya.


"Hmmmm, gimana ya Tan? Kalau pun Mayang bisa bantu, Mayang hanya punya keterampilan memasak. Karena dulu di rumah Mayang pernah menerima orderan cathering kecil-kecilan." jawabku menenangkan.

__ADS_1


"Oh iya Tante, kenapa kita nggak coba buka usaha makanan aja. Nanti Tante bisa mempromosikan kepada teman dan tetangga. Biar nanti Mayang yang masak." jawabku antusias.


Tiba-tiba aku kepikiran untuk membuat usha yang dulu pernah aku jalani sewaktu ayah baru meninggal.


Aku sangat semangat sekali. Aku yakin usaha ini akan berjalan.


"Tapi May, itu nanti akan mengganggu sekolah kamu. Tante nggak mau sekolah mu terganggu hanya karena ingin membantu Tante. Bagaimana nanti ibumu. Pasti dia marah sama Tante. Dia ingin anaknya sukses belajar bukan membantu Tante." tolak Tante Mita.


"Insya Allah, itu nggak akan menggangu pelajaran Mayang kok tan. Nanti Mayang akan bagi waktu. Dan untuk sementara kita rahasiakan ini dari ibu Yasmin. gimana? Tante nggak mau kan kalau Rani jauh dari Tante? Sama Tan. Aku juga nggak mau kalian berpisah. Karena itu rasanya sakiit. Aku pernah merasakannya. Ditinggal oleh ibu ku sendiri. Ditinggal untuk mencari kebahagiaannya. Dan entah, sekarang dia sudah menemukan kebahagiaan nya atau belum." kelasku pada Tante Mita


Tampak Tante Mita sedang mempertimbangkan tawaran ku.


" Tante pikirkan dulu yaa. Sekarang kamu istirahat. Makasih telah mendengar cerita Tante. Sekarang Tante lega Mit."


Tante Mita keluar dari kamarku dan sebelumnya memelukku dan mengecup keningku.


Walau aku jauh dari Bu Yasmin, disini ada Tante Mita yang sayang padaku. Mereka seperti ibuku sendiri. Padahal ibu kandung ku pun tak peduli bagaimana keadaan anaknya.


______________


Pagi ini, Bella absen lagi sekolahnya.


Aku tahu dia sedang berjuang untuk keluarganya. Aku ingin sekali membantu nya. Tapi aku tidak punya apa-apa dan tidak bisa apa-apa untuk membantunya.


Kenapa aku nggak ajak aja Bella untuk gabung bersama. Bukankah semakin banyak peluang nantinya.


Hari ini, semua siswa dipulangkan pagi. Karena bapak dan ibu guru akan melakukan rapat untuk mengadakan milad sekolah.


Yang kudengar dari teman-teman ku, acara milad ini biasanya diadakan bazar. Yaitu jual beli yang dilakukan oleh para siswa.


Mungkin ini ide yang bagus. Aku bisa mempromosikan makanan yang aku jual disini. Siapa tahu saja banyak yang tertarik.


Tapi... Aku butuh modal. Dimana aku bisa mendapat kan modal. Apa Tante Mita ada sedikit tabungan untuk dipakai?


Ketika aku berjalan melewati ruang kepala sekolah, bapak Wahyudi memanggilku.


'' Mayang, tunggu. Kemarilah Nak." pak Wahyudi meminta ke keruangan nya.


Aku menjawab nya dengan anggukan kepala.


"Duduklah Nak." pinta pak Wahyudi.


"Baik pak." jawabku

__ADS_1


"Begini May, nanti kan kami para bapak dan ibu guru akan mengadakan rapat. Biasanya sekolah ini akan mengadakan bazar. Yang mana dari acara ini kebanyakan dari siswa menyewa para pedagang buat mengisi stand mereka. Sedangkan tujuan dari acara ini tidak seperti itu. Kami ingin anak-anak nantinya bisa mandiri. Tanpa terus bergantung pada orang tuanya." jelas pak Wahyudi.


Aku berpikir sejenak.


"Hmmm, mungkin nggak harus berjualan makanan semua nya pak. Mereka bisa berjualan kerajinan, keterampilan, atau hasta karya. Dengan begitu mereka akan lebih bisa fokus untuk belajar sendiri."


"Kalau pun harus berjualan makanan, mereka harus memasaknya sendiri. Terus nanti bisa disediakan tempat tersendiri untuk para pedagang kaki lima berjualan." Terangku pada pak Wahyudi.


Beliau hanya manggut-manggut. Tampaknya setuju dengan ide ku.


"Bagus. Baiklah Mayang. Terimakasih sudah memberi masukan untuk kebaikan sekolah kita." jawab pak Wahyudi.


"Ya sudah Mayang permisi dulu ya pak. Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam. Hati-hati May."


****


Setibanya dirumah, aku melihat Tante Mita sedang menjahit beberapa pakaian. Tampak sekali dia terlihat lelah.


Aku pun berinisiatif membuatkannya teh hangat.


"Tan, ini teh hangat untuk Tante. Minumlah. Tante terlihat sangat lelah." kataku


"Iya May. Terimakasih." jawab Tante Mita


"Ada yang bisa aku bantu Tante?" tanyaku


"Oh, nggak usah May. Ini sudah selesai kok. Tinggal pasang kancing." jawabnya.


"Rani belum pulang ya Tan? Sepi ya nggak ada dia. Nggak ada yang ceriwis." candaku.


Tante Mita hanya tersenyum.


"May, tadi Tante nya Rani datang lagi. Dia melihat orderan Tante yang tinggal sedikit ini mengancam akan membawa Rani. Tante bingung harus bagaimana May?" akhirnya Tante Mita membuka percakapan.


"Kalau usul Mayang sih ya kemaren Tante. Kita buka usaha cathering. Nanti Mayang minta bantuan sama teman Mayang buat bantu promosi in. gimana?" akupun menawarkan usulan ku tadi malam.


"Mungkin memang harus seperti itu May. Tapi Tante hanya punya sedikit tabunga. Apa cukup?" tanya nya lagi.


"Mayang juga punya sedikit Tan. Nanti kan kalau digabung jadi banyak." jawabku.


Tante Mita kembali tersenyum. Aku lihat ada harapan di matanya. Semoga ini bisa membantu Tante Mita dan Rani.

__ADS_1


__ADS_2