
Di rumah Zen
Zen berjalan lesu. Dia tidak menyangka kisah hidup nya akan serumit ini.
Orang yang Zen cinta, ternyata anak dari wanita yang selama 7 tahun ini merawat nya dengan penuh kasih sayang.
Sementara, sang kekasih hati begitu kecewa dengan ibu nya.
Zen membuka pintu malas.
Papa dan mama nya menyambut dengan berbagai pertanyaan.
" Zen, May kenapa? Kenapa dia tiba-tiba pergi sambil menangis. Apa kalian ada masalah?" Mama Zen menyerang nya dengan berbagai pertanyaan.
Zen menghela napas berat. Dia menjatuhkan dirinya di sofa ruang tamu. Dia mengacak rambut nya kasar.
" Zen..." kata mama nya lagi
" Biarkan dia tenang dulu ma." kata papa pada mama.
Zen sebetulnya enggan membicarakan ini. Tapi kalau tidak dibicarakan, mereka tidak akan menemukan titik temu.
" May itu adalah anak kandung mama." kata Zen tiba-tiba.
Papa dan mama nya terkejut. Terlebih mama nya, dia hampir saja limbung saat berkata seperti itu. Untung ada papa di samping nyam Jadi papa berhasil menahan tubuh mama agar tidak jatuh.
" Apa Zen? Kamu jangan bercanda." kata mama Zen.
" Iya ma. Dia itu adalah anak gadis yang 8 tahun yang lalu mama tinggalkan bersama ayah nya." Zen meneruskan cerita nya.
Mama Zen yang tak menyangka menutup mulut nya dengan tangan. Dia sangat syok.
Dia tidak menyangka akan bertemu dengan anak nya dalam situasi seperti sekarang ini.
" Dan May, sangat kecewa banget sama mama. Katanya, sekarang mama hidup bahagia dengan keluarga baru, sementara mama meninggalkan anak dan suami yang ada di desa dengan sengsara." imbuh Zen.
Mama Zen semakin menangis kencang.
Dia merasa sangat bersalah pada Mayang, putri nya.
" Jadi nama lengkap May itu Mayang?" tanya mama Zen.
__ADS_1
" Iya ma. Namanya Mayang. Tapi Zen lebih suka panggil dia May aja."
Zen jadi ingat. Yang papa dan mama nya tau, nama perempuan yang dicintai Zen itu bernama May, tanpa tahu nama lengkap nya.
" Pa, tolong antar mama ke tempat Mayang pa. Mama sangat rindu sekali pada nya." pinta mama Zen pada papa nya.
" May masih sangat terpukul ma. Jadi kalau pun mama menemuinya sekarang, dia tidak akan mau bertemu mama. Dia sangat kecewa." ucap Zen melarang mama nya pergi.
" Lalu dengan siapa Mayang tinggal sekarang Zen. Kami tidak punya keluarga di kota ini?" tanya mama penasaran.
" May tinggal bersama ibu nya. Bu Yasmin.
Juga Tante nya, Tante Mita." jawab Zen menjelaskan pada mama.
" Siapa itu Bu Yasmin dan Tante Mita?" tanya mama Zen lagi.
" Yang jelas, kedua orang itu lah yang sangat May sayangi saat ini Ma. Dua tahun setelah mama pergi meninggalkan nya, ayah May meninggal dunia. Jadi lah dia sebatang kara." imbuh Zen.
Cerita Zen semakin membuat hati mama nya teriris perih. Anak gadis yang selama ini dirindukannya begitu menderita karena ulahnya.
" Mayang, maafin ibu Nak." ucap mama Zen pelan.
" Kenapa hidup Zen harus seperti ini. Dua orang perempuan yang sangat Zen sayang, tidak bisa bersatu." tangis nya tumpah.
" Ini semua salah mama Zen. Mama yang salah. Maafin mama..." mereka menangis dalam pelukan.
Papa yang sedari tadi menyimak, kini turut terisak. Dia menyeka mata nya di balik kaca mata. Dia turut sedih dengan keadaan keluarga nya.
Dia jadi teringat 8 tahun yang lalu, saat Sarini datang ke rumah nya untuk melamar kerja.
Saat itu dia sudah menduda selama 4 tahun.
Melihat kedekatan Sarini dan Zen, akhirnya dia menikahi Sarini yang ternyata juga bestatus janda. Sarini bilang, dia punya anak di desa. Tapi anaknya tidak mau di ajak ke kota. Anaknya lebih senang ikut ayah nya di desa.
Sarini merupakan sosok ibu yang baik. Dia sangat sayang dan perhatian pada Zen. Juga kepada nya.
Dia tidak menyangka di balik sifat baik nya, dia punya masa lalu yang begitu pahit. Yaitu dia telah menelantarkan anak dan suami nya sehingga meninggalkan bekas luka yang mendalam di hati sang anak.
Kini dia kasihan pada Zen. Baru pertama kali ini Zen berani jatuh cinta dan mengungkapkan cinta. Namun cinta nya terhalang oleh ibu tirinya.
Sebenarnya tidak apa-apa jika Zen dan May tetap bersama. Toh mereka nggak punya hubungan darah.
__ADS_1
Tapi kelihatannya May memang masih belum bisa memaafkan ibu nya
" Zen, beristirahat lah. Besuk temui May dan bicarakan ini dengan dia. Sekarang tenang kan diri kamu juga mama. Sekarang kita ke kamar. Semoga besuk semuanya sudah kembali seperti semula." kata papa Zen
Semua menurut. Zen pergi ke kamar nya dan mama masih mau membereskan meja makan.
________________________
Di rumah Mayang
Mayang kembali dalam keadaan menangis. Sepertinya keadaan hatinya sedang sangat tidak baik.
Bu Yasmin dan Tante Mita yang sedang berada di ruang tv heran melihat Mayang. Lalu Bu Yasmin menyusul Mayang ke dalam kamar nya.
" Kamu kenapa May?" tanya Bu Yasmin pada Mayang.
Tanpa menjawab, Mayang langsung memeluk erat Bu Yasmin. Kini hanya Bu Yasmin lah satu-satunya keluarga yang ia punya.
Tangis nya pecah. Tante Mita pun mengikuti masuk ke dalam kamar.
Setelah tangis nya sedikit reda, barulah Bu Yasmin bertanya lagi.
" Ada apa sayang? Kenapa kamu pulang dalam keadaan seperti ini?"
" Ibu kandung Mayang Bu. Ternyata Mama Zen itu adalah ibu kandung Mayang. Ibu yang telah meninggalkan aku dan ayah. Ibu yang tak memiliki perasaan." tangisnya pecah lagi.
" Jadi ibu kamu sekarang jadi ibu tiri Zen gitu May?" Tante Mita meminta penjelasan lada Mayang.
Mayang hanya bisa mengangguk kan kepala
" Dulu, Mayang fikir ibu hanya bekerja di kota. Bekerja untuk mendapat banyak uang dan akan kembali pada keluarga nya. Tapi ternyata dugaan Mayang salah. Ibu telah bahagia dengan keluarga baru nya, dan tak akan pernah menoleh untuk menengok keluarga nya. Apakah anak dan suaminya masih hidup, atau sudah tiada." Mayang kembali meluapkan isi hatinya sambil terisak.
" Dan sekarang, orang yang Mayang cintai, dia telah dirawat dengan penuh kasih sayang oleh ibu yang dulu meninggalkannya. Mayang benci sama ibu. Mayang nggak mau ketemu ibu lagi." imbuh Mayang penuh emosi
Bu Yasmin menenangkan Mayang lewat pelukan hangatnya. Dibelainya rambut panjang Mayang, diusapnya kepala Mayang penuh kasih sayang.
" Mayang, kamu nggak boleh gitu Nak. Pasti ibu kamu punya alasan tersendiri mengapa ia sampai melakukan itu padamu. Aku harus bisa ikhlas dan sabar menjalani ini semua sayang. Sekarang, kalau kamu ingin menangis, menangislah. Keluarkan isi hati kamu yang sedang mengganjal. Ibu akan selalu siap mendengar cerita kamu Nak." Kata Bu Yasmin hangat.
Mayang sudah tidak mampu lagi mengucapkan kata-kata lagi
Dia hanya ingin menangis agar hati ini sedikit tenang. Lalu Bu Yasmin membaringkan Mayang lada pangkuannya. Dia mengusap kepala Mayang dengan penuh kasih, hingga Mayang pun terlelap dalam pangkuan Bu Yasmin
__ADS_1