
Sudah puas aku melepas rindu di makam ayah. Kini hatiku jauh lebih tenang.
Semua unek-unek yang ada di hati, ku curahkan dimakan ayah.
Aku berjalan pulang.
Aku melewati jalan yang berbeda dengan jalan ku tadi. Jalan ini sedikit agak jauh karena jalannya memutar. Aku memilih jalan ini agar aku lebih lama berjalan-jalan menyusuri desa ku.
Dulu sewaktu kecil, aku sering banget melewati jalan ini saat aku ikut dengan ayah ke pasar. Aku sering digendong ayah.
Saat kami melintas di depan rumah pak Abdul, maka beliau akan memanggilku dan memberi ku buah-buahan yang masak yang ada di halaman rumahnya. Terkadang, beliau memberi ku makan. Aku akan sangat berterima kasih dan mencium tangannya ketika hendak pulang.
Sayang, sekarang rumah itu kosong.
Pak Abdul telah diboyong anaknya untuk pindah ke kota. Rumah itu sekarang tak ada yang merawat. Buah-buahan yang telah matang jatuh dari pohon begitu saja. Bahkan banyak yang sudah busuk.
Pagar rumah itu juga di kunci gembok dan tak pernah di buka.
Kursi yang biasa di pakai pak Abdul duduk masih bertengger di halaman samping rumahnya.
Aku berhenti sejenak.
Menikmati segala kenangan indah.
Tentang bahagianya masa-masa dulu.
Aku pun tersenyum simpul membayangkan nya.
Aku kembali berjalan.
Menyusuri jalan sempit di antara persawahan. Menikmati semilirnya angin sepoi-sepoi. Rambut ku ikut bergerak terkena desiran angin.
Jauh mata ku memandang, ku lihat ada seorang anak laki-laki yang sedang memikul gabah. Gabah adalah padi yang telah di petik dan di rontokkan kemudian dimasukkan ke dalam karung. Sekilas aku seperti mengenal pemuda tersebut. Dia berjalan ke arah ku dan memanggil namaku.
" Hai kak Mayang. Kapan pulang?" tanya lelaki yang ternyata adalah Akbar, adik Ali.
" Eh hai Akbar. Iya, kakak baru datang pagi tadi. Kamu apa kabar?" Aku menanyakan kabar nya. Dia lalu menurunkan gabah nya dan duduk de sebuah gubug pinggir sawah.
Aku pun mengikuti nya, duduk di sebelahnya dan tersenyum kearahnya. Tampaknya dia sangat lelah. Dia menghela napas, lalu mengambil air minum yang ada di saku nya.
" Alhamdulillah, kabar ku baik kak. Kakak sendiri apa kabar?" jawabnya setelah meneguk air minum yang tinggal sedikit tadi.
" Aku juga baik Bar. Bagaimana bapak? Sehat?" tanyaku menanyakan kabar ayah nya.
" Ya begitulah kak. Bapak sudah tua, jadi sekarang sering sakit-sakitan." jawab nya dengan raut muka sedih.
" hmmmm, kamu tidak sekolah Bar?" tanya ku lagi. Aku oenasaran, ini kan masih jam sekolah. Seharusnya dia juga masih sekolah sekarang.
__ADS_1
" Hari ini Akbar izin pulang cepat kak. Karena Akbar mau ikut memikul gabah ini dan di bawa pulang ke rumah Bu Darmi kak. Lumayan lah, upah nya bisa buat tambah beli obat bapak." katanya sambil tertawa kecut.
" Lalu, kak Ali? Dia tahu kalau kamu izin dari sekolah?" tanya ku lagi.
Dia hanya menggeleng pelan.
Sudah ku duga. Ali pasti marah kalau tahu adiknya sampai izin tidak masuk sekolah hanya untuk bekerja.
" Aku kasihan sama kak Ali Kak. Setiap pagi sebelum berangkat sekolah, dia menyiapkan dan membuat beberapa dagangan. Nanti pulang sekolah setelah ganti baju dia ke pasar untuk berdagang. Kadang sampai malam pun dia tidak pulang. Aku pernah memergoki dia sedang bekerja jadi buruh panggul di pasar besar saat aku mengikuti nya secara diam-diam. Tapi dia tak pernah mengaku. Dia bilang habis kerja kelompok di rumah temannya." dia bercerita panjang.
Kelihatannya dia lega telah menceritakan masalah nya pada ku. Karena mungkin dia telah memendamnya sendiri. Itu terlihat dari perubahan raut wajahnya.
Aku tak menyangka Ali punya masalah sedemikian sulit.
Dia tak pernah mengeluh. Dia tak pernah berputus asa. Dia akan berjuang untuk keluarga nya.
Setelah berbincang sesaat, Akbar meminta izin pada ku untuk meneruskan kerjaannya. Aku pun melanjutkan perjalanan ku.
Tiba-tiba saat aku telah sampai di persimpangan jalan, aku berpapasan dengan seseorang yang baru saja aku pikirkan.
" Mayang."
Dia nampak kaget melihat ku. Aku pun terkejut bertemu dia disini.
" Hai pangeran kodok ku." sapa ku untuk mencairkan suasana.
Dia tersenyum.
" Kapan datang?" tanya nya padaku.
" Baru tadi pagi. Kamu baru pulang sekolah ya?" jawabku.
Kita pun berjalan bersama. Langkah kaki ini mengarah untuk berjalan ke sebuah persawahan desa.
Kami duduk di dekat pohon yang rindang.
Baru saja aku ketemu adiknya, sekarang malah ketemu kakak nya. Aku terkikik geli.
" Oh iya, apa kabar Al?" tanya ku padanya.
" Aku baik May, kamu sendiri?" dia balik bertanya pada ku.
" Aku baik juga. Gimana sekolah kamu. Pasti kamu senang punya banyak teman baru." tanya ku dengan antusias.
" Biasa aja sih May. Sepi malahan. Karena nggak ada kamu." jawab nya padaku.
" Oh iya, tadi kamu ketemu Akbar nggak? Kata temennya sih dia hari ini izin pulang awal karena mau bantu Bu Darmi panen padi. Mestinya sih dia lewat sini." tanya nya.
__ADS_1
nampaknya dari tadi dia gelisah karena memikirkan adik nya itu. Ali sangat sayang banget sama adik nya. Dia ingin Akbar bisa sekolah tinggi dan jadi orang yang sukses.
Kepalang tanggung. Kalau pun aku menutupinya dari Ali toh dia juga sudah tahu kalau Akbar hari ini izin sekolah dan membantu panen padi.
" Iya, aku tadi sempat mengobrol dengan nya." jawabku santai.
" Kamu tanya nggak alasan dia kenapa nggak sekolah dan malah bekerja di sawah?"
" Iya, tadi aku juga tanya. Katanya dia kasihan sama kamu. Kamu kerja dari pagi sampai malam. Bahkan kamu nggak ngaku kalau kamu kerja jadi kuli panggul di pasar besar. Itulah sebabnya dia izin sekolah untuk membantu memikul gabah. Upahnya bisa untuk tambahan beli obat bapak katanya." Aku pun menceritakan tentang Akbar.
" Anak itu keras kepala banget. Padahal aku menyuruhnya untuk belajar saja. Nggak usah mikirin kerja. eee dia malah curi-curi waktu kaya gini." ucap Ali kesal.
" Iyaa, tapi kamu jangan marahin dia ya Al. Kan kasihan dia. Sebenarnya niat nya baik, mau bantuin kamu. Hanya saja caranya saja yang salah. Kamu tegur saja dia pelan-pelan dan kasih pengertian ke dia. Akbar itu anaknya penurut kok. Aku yakin dia akan nurut apa kata kamu." ucap ku menenangkan Ali.
Dia pun sekarang tampak lebih tenang.
Namun masih diam.
" Maaf yaa, pangeran kodok ku, kalau aku tak pernah berkirim surat padamu." jawab ku sambil memegang telinga ku sebagai tanda permintaan maaf.
Dia melirik dan tersenyum.
" iyaaaa tuan putri ku." jawabnya sambil mencubit hidung ku.
" Ihh sakit tahu." aku pura-pura meringis kesakitan dan dia tertawa.
Aku berhasil menghiburnya.
" Eh tumben pulang kampung. Emang di kota sekarang sudah tak indah yaa." godanya padaku.
" Kan aku kangen kamu." kata ku balas meledek.
" Hmmmm, kirain sekarang kita udah gak indah, terus baru inget pulang deh." imbuhnya.
" Emang kota tuh nggak indah lagi Al. Lebih enak dan nyaman di desa loh. Beneran deh.
Hanya saja, di kota pendidikan jauh lebih maju. Perekonomian disana juga lebih berkembang." jawab ku jujur.
" Iya sih, makanya aku lebih senang tinggal di desa. Nggak apa-apa lah jadi orang desa. Yang penting tetep ada yang ngangenin." jawab nya sambil melipat kedua tangan dan memainkan alis nya.
Kami pun tertawa bersama.
Aku sangat rindu saat-saat seperti ini.
Rasanya lebih plong. Lebih nyaman dan tanpa beban.
Aku jadi bisa melupakan semua masalah ku yang ada di kota.
__ADS_1
" Eh iya, aku balik dulu ya May. Ini sudah saat nya bapak minum obat. Dan setelah itu aku harus ke pasar. Nanti sore aku akan ke rumah kamu. Aku balik dulu ya tuan putri ku yang sekarang jauh lebih cantik." katanya sambil mengacak pelan rambutku..
" iya pangeran kodok ku. Hati-hati dijalan." jawabku sambil melambaikan tangan pada nya.