
Dua hari sudah aku dirawat di rumah sakit.
Aku sudah tidak betah lagi rasanya.
Aku ingin segera pulang.
Aku rindu Rani, Aku rindu dapur.
Aku sudah kangen dengan segala aktifitas ku.
Terlalu lama dirumah sakit membuat ku jenuh.
Aku memang tidak kenapa-napa. Tapi dokter meminta ku untuk beristirahat minimal 3 hari dirumah sakit.
Semenjak Zen pergi dari sini. Dia memang tak pernah datang kesini. Dia sesekali mengirimkan ku pesan lewat hp dan aku pun tak pernah membalas nya.
Begitu pun Bella. Aku tidak tahu dimana dia. Aku tidak tahu apakah dia tahu kalau aku kecelakaan. Tapi kata ibu nya, Bella butuh waktu untuk sendiri. Dan beliau bilang Bella baik-baik saja.
" Tan pulang yuk. Aku sudah jenuh disini. Aku ingin pulang." pintaku pada Tante Mita sewaktu dia menyuapi ku makan.
Semenjak aku di rumah sakit, Tante Mita lah yang merawatku. Dia menitipkan Rani pada Oom dan Tante nya.
Aku memang meminta Tante Mita merahasiakan kecelakaan ku pada Bu Yasmin. Aku nggak mau membuat nya sedih.
Tapi kasih sayang Bu Yasmin padaku begitu tulus. Mungkin dia punya firasat kalau aku sakit. Jadi dia sering kali bertelepon untuk memastikan keadaan ku.
Aku dan Tante Mita kompak merahasiakan ini padada ibu sehingga Bu Yasmin pun percaya.
" Jatah istirahat kamu masih satu hari lagi sayang. Kamu sabar yaaa." jawab Tante Mita dengan sabar
" Baiklah" Akhirnya aku pun mengalah.
Usai sarapan, aku pun minum obat.
Setelah itu aku meminta Tante Mita untuk mengajakku jalan-jalan di sekitar rumah sakit menggunakan kursi roda.
Kami berjalan menyusuri taman yang ada di sini. Suasana di luar kamar begitu sejuk dan asri. Banyak bunga dan kupu-kupu yang mempercantik taman ini.
Aku meminta Tante Mita untuk berhenti di sebuah bangku di dekat air mancur. Kita duduk sambil bercerita dan bersendau gurau.
Tak terasa, 2 jam sudah kita disini. Tante Mita mengajakku kembali ke kamar agar aku bisa beristirahat lagi
Ketika melewati ruang operasi, aku meminta Tante Mita berhenti. Aku mendengar suara seseorang yang nggak asing bagi ku.
Aku mendengarkan dengan saksama percakapannya dengan seorang dokter berpakaian jas putih dan berkacamata itu.
" Dokter, tolong selamatkan papa saya dok. Lakukan yang terbaik untuk papa dok. Tolong..." pinta nya dengan suara sedikit terisak
" Kami akan berusaha sekuat tenaga kami. Kamu tolong bantu dengan doa agar pak Ferdi bisa melewati masa kritis nya." jelas sang dokter.
Lalu dokter itu pun pergi meninggalkannya sendiri. Dia terunduk. Dan begitu dia mengangkat wajah, akupun mengenali nya.
" Zen.." sapa ku lirih.
Pria itu menoleh.
__ADS_1
Tampak sekali hatinya kacau. Wajah nya yang tampan, yang biasanya dihiasi senyum itu begitu terlihat sedih. Aku jadi tak tega melihatnya.
Tante Mita pun mendorong ku mendekat ke arah Zen.
" Mayang.. Apa kabar?" sapanya.
" Aku baik. Kamu?" tanyaku balik.
" Aku sedang terkena musibah May. Papaku masuk rumah sakit karena serangan jantung dan mama ku sedang ke rumah lama nya mencari kabar anak nya." jelas Zen dengan wajah memelas.
" Yang sabar ya Zen." hanya itu kata yang mampu kuucap.
" Makasih May." jawabnya.
Setelah itu kami terdiam cukup lama.
Tante Mita lalu mengajak ku kembali ke kamar untuk beristirahat.
" Zen terlihat begitu frustasi May. Kasihan dia." kata Tante Mita mengawali percakapn setelah kami tiba di kamar.
Aku bingung harus menanggapi nya bagaimana. Disisi lain, aku juga merasa bersalah telah mengusirnya pergi.
Dan aku pun terlelap.
****
Pagi ini aku sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Dengan syarat aku tidak boleh kecapek an dan harus banyak istirahat.
Aku pun meng-iya kan saja perintah dokter. Sebenarnya aku ingin segera memasak. Aku ingin segera sekolah.
Aku minta izin pada Tante Mita untuk menemui Zen terlebih dahulu.
Aku berjalan pelan melewati koridor rumah sakit. Aku ragu.
Sebenarnya aku ingin berada di dekat Zen. Ingin membuat nya sedikit lebih tenang. Namun ego berontak. Aku tidak mau terlalu jauh masuk ke dalam jebakan cinta yang membuat ku jauh dari Bella.
Biar bagaimanapun, aku tetap memilih Bella, sahabatku.
Aku telah tiba di depan pintu kamar ICU.
Kamar dimana papa Zen dirawat. Aku mengumpulkan keberanian untuk mengetuk pintu itu. Aku bimbang.
Namun saat aku akan mengetuk pintu tersebut, Zen keluar dari dalam.
" Eh May. Sedang apa?" tanya Zen padaku..
Aku yang terlanjur malu jadi salah tingkah di buatnya.
" Eh anu. Itu. Aku mau melihat keadaan papa kamu. Bagaimana kabarnya?" tanya ku gugup
" Alhamdulillah papa sudah melewati masa kritis nya. Hanya saja papa masih belum sadar. Ini aku mau ke apotik untuk menebus obat untuk papa." jawabnya.
" Syukurlah. Semoga keadaan papa kamu segera membaik yaa." ucap ku dengan tulus.
" Makasih May,. Kamu jadi pulang hari ini?" tanya nya lagi.
__ADS_1
" Iya. Eh kamu tahu darimana kalau hari ini aku mau pulang?" tanya ku heran.
Dia tersenyum.
" Ya sudah hati-hati ya. Jaga diri baik-baik.
Aku pergi dulu karena obat ini sudah ditunggu oleh dokter."
Dia pun bergegas pergi.
Senyum itu...
Ah, aku nggak boleh baper.
Senyum itu adalah senyum khas Zen untuk semua orang.
*****
Sudah genap seminggu aku tidak masuk sekolah. Aku sangat rindu masa-masa di sekolah. Aku sangat kangen dan tidak sabar bertemu teman-teman.
Pagi ini, setelah bernegosiasi dengan Tante Mita, akhirnya aku diizinkan juga masuk sekolah.
Aku sangat senang sekali.
Aku bergegas dan mulai menyiapkan peralatan sekolah ku.
Seperti biasa, aku berjalan ke depan gang untuk menunggu angkot.
Saat sedang asyik menunggu, tiba-tiba ada seseorang yang memelukku dari belakang.
Orang itu terisak dalam balik punggung ku.
" Maafin aku May. Aku salah. Aku telah egois pada mu." ucap wanita itu.
Aku pun berbalik ke arah nya. Ternyata dia Bella. Dia sudah kembali.
" Bella, kamu sudah kembali?" kini ganti aku yang memeluknya sangat erat. seakan tidak akan pernah aku lepaskan.
Aku tidak mau kehilangannya lagi. Aku sayang sama Bella. Aku pun memeluknya sambil menangis.
Setelah hati kita tenang, Bella pun bersuara.
" Maafin aku ya May. Aku jahat sama kamu. Aku egois. Sebenarnya aku tahu kalau Zen itu suka nya sama kamu. Tapi sikap kamu itu membuat ku yakin kalau Zen bakal putus asa dan nggak ngejar-ngejar kamu lagi. Tapi aku salah. Cinta nya padamu tulus." dia menarik napas dalam.
" Maafin aku juga May, gara-gara aku kamu jadi kecelakaan. Sebenarnya waktu kamu kecelakaan itu, aku ada di pinggir toko buku dekat sekolah. Tapi melihat kamu kecelakaan, Zen begitu khawatir. Dia yang menggendong mu naik ke mobilnya. Dia yang membawa mu ke rumah sakit. Dan disitu aku semakin sakit hati. Lalu kuputuskan untuk sejenak menenangkan diri di desa." Bella memberi ku penjelasan panjang lebar.
" Walau pun aku pergi, aku selalu mengkhawatirkan keadaan kamu. Lewat Zen aku tahu keadaan mu. Dan dia bercerita kalau dia lah yang telah membuat ku pergi dan kamu meminta Zen untuk pergi.
Zen juga bilang pada ku kalau dia hanya menganggapku sebagai sahabat. Nggak lebih."
" Maafin aku ya May Aku sayang banget sama kamu." Bella mengakhiri ceritanya.
Aku hanya bisa menjawabnya dengan anggukan dan memeluknya kembali.
Saat ini, aku tak mau lagi memikirkan soal cinta. Aku hanya mau ada Bella sahabatku di samping ku.
__ADS_1