
Kami pun berangkat ke sekolah setelah angkot datang. Kami tak henti-hentinya tertawa bahagia bersama. Hingga kami pun telah sampai di sekolah.
Kami berjalan sambil bergandengan. Bagaikan sepasang kekasih yang mabuk kepayang. Aku bahagia hari ini. Sangat bahagia.
" May nanti pulang sekolah kita jenguk papa Zen yuk. Selama kami sakit kemarin kan kamu udah dirawat dan ditungguin Zen selama Tante Mita belum datang."
Aku menghentikan langkah.
Aku bingung. Kenapa Bella harus mengajakku menjenguk papa nya Zen padahal kami baru aja baikan.
" Tapi Bell,.." ucap ku tertahan.
Dia tersenyum dan menepuk pundak ku.
" Nggak apa-apa May. Aku ikhlas kok kalau kamu sama Zen. Zen itu tulus sayang sama kamu." kata Bella padaku
Aku menghela napas menenangkan hati ku.
Sebenarnya aku takut kalau Zen marah setelah kejadian di rumah sakit kemarin.
****
Kami telah tiba di depan gedung rumah sakit.
Disini aku pernah merasakan hal yang mendebar kan. Dimana saat itu Zen menunggu ku, memegang tanganku sampai ketiduran.
Aku berhenti.
Aku takut Zen masih marah pada ku dan Bella juga akan marah lagi karena belum bisa move on dari Zen.
Bella pun menarik pelan lengan ku.
Dan aku pun mengikuti nya.
" Ayoo.." ajak Bella pada ku.
Lalu kami pun berjalan menuju ruang ICU. Ruang dimana papa Zen dirawat.
Bella mengetuk pintu pelan dan Zen pun membuka pintu nya. Ku dengar suara seorang wanita yang tengah terisak di dalam kamar papa Zen.
" Eh kalian, mau jenguk papa?" sapa Zen pada kami.
" Iya Zen. Gimana papa kamu?" tanya Bella.
__ADS_1
" Alhamdulillah baik. Tapi masih belum sadar." jawab nya sambil tertunduk
Terlihat sekali wajah lelah pada pria itu. Mata nya sayu dan rambut nya acak-acakan.
" Kita duduk di bangku sini aja ya. Di dalam masih ada mama. Beliau baru pulang dari kampung nya. Jadi selama papa di rawat mama tidak tahu. Aku memang sengaja tidak memberi tahu nya. Aku takut dia khawatir" jelas Zen pada kami.
" Maafin aku ya Zen. gara-gara aku kalian jadi jauhan. Aku ini memang egois. Maaf juga kalau aku terlalu berharap banyak pada kamu." ucap Bella pada Zen.
Aku yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara.
" Zen, Bell, kalau kalian saling cinta kalian jadian aja nggak apa-apa kok. Yang penting aku tetap memiliki sahabat seperti kalian. Lagian untuk saat ini aku belum memikirkan tentang cinta. Aku mau fokus mengejar cita cita ku." kata-kata ini terasa berat keluar dari bibir ku
" Mayang.. Kita semua sama-samaa tahu. Zen itu sukanya sama kamu. Aku hanya ada untuk menguji cinta kalian saja." kata Bella padaku.
" Tapi aku nggak mau kamu pergi lagi Bell." kataku lagi.
" Aku nggak akan pergi May."
Kini hanya Zen yang sedari tadi diam. Dia kelihatan enggan berkomentar. Mungkin dia masih kepikiran papanya.
" O iya Zen kata dokter gimana perkembangan penyakit papa kamu?" kataku untuk mencair kan suasana yang kaku.
" Rencananya, nanti jika papa sudah sadar, dokter akan memasang ring di jantung kanan papa. Dan jika sudah dipasang ring papa nggak boleh lagi bekerja terlalu berat. Nggak boleh banyak pikiran." terang nya pelan
Aku dan Bella hanya manggut-manggut saja mendengar nya.
Mengingat hal itu hati ku sakiit sekali. Ada rasa sesak yang membuncah.
" Iya May, semoga aku bisa sabar dan kuat kaya kamu." ucap Zen penuh semangat
Setelah berbincang sebentar, akhirnya aku dan Bella pamit pulang karena hari ini warung sangat ramai.
****
Semenjak kejadian itu, disaat menunggu warung, Bella memaksaku menelpon atau sekedar mengirim pesan lewat hp untuk Zen.
Aku dan Zen pun bisa dekat kembali.
Dan sekarang Bella dekat dengan kakak kelas yang sejak dulu suka pada nya.
Awalnya Bella juga suka dan mereka mulai deket sih, tapi Bella sedikit menghindar karena dia ingin dekat dengan Zen.
Tante Mita selalu tersenyum atau bahkan menimbrung jika kita sedang bicara masalah cinta.
__ADS_1
" Tante dulu juga pernah muda tau'." katanya saat kami menolak dia ikut gabung
Kami pun tertawa bersama.
ddrrrtttt ddrrrtttt ddrrrtttt
hp ku berdering
Dari Bu Yasmin.
" hallo Bu, assalamualaikum." sapa ku pada Bu Yasmin
" wa'alaikumsalam sayang. apa kabar?" balas suara di seberang sana.
" Alhamdulillah baik. ibu apa kabar?" tanya ku balik
" Ibu baik. Sedang apa ini May?" tanya Bu Yasmin kembali
" Ini sedang nunggu warung Bu. Ibu sudah makan?"
" Sudah Nak. Ibu sudah makan. Mau, boleh ibu tanya sesuatu?" tanya Bu Yasmin. Sepertinya beliau sedang menyembunyikan masalah
" Iya bu. Ibu mau tanya apa? jawabku semakin penasaran.
Terdengar Bu Yasmin tengah menarik napas dalam.
" Jikalau nanti ibu mu kembali, apa kamu mau tinggal dengan nya dan meninggalkan ibu nak?" tanya nya sangat hati-hati
Kini aku yang menghela napas. Aku tidak tau kata-kata apa yang nantinya keluar dari bibir ku. Aku mengernyitkan dahi karena kebingungan.
" Kenapa ibu tanya seperti itu Bu?" tanyaku kembali
" Kemarin waktu ke pasar, ibu bertemu bibi kamu. Katanya ibu kamu barusan ke kampung dan mencari kamu. Mungkin kamu mau dibajak tinggal bersama keluarga baru nya." jelas Bu Yasmin panjang.
" Aku tidak mau tinggal bersama keluarga baru ibu, Bu. Karena keluarga baru itu lah yang telah merusak keluarga lama. Jadi aku nggak mau ikut dengan ibu." jawabku.
Mengingat kejadian dimana ibu tega meninggalkan ku yang masih kecil untuk pergi mencari kebahagiaan, rasanya aku tidak Sudi ikut merasakan kebahagiaan nya.
Karena bahagia nya adalah penderitaan untukku dan ayah.
Bu Yasmin tampak menangis.
" Mayang, sebenarnya ibu berat mengatakan ini. Sebenarnya hati kecil ibu tidak mau menahan kamu untuk ikut bersama ibu mu nanti nya. Tapi kalau kamu pergi ibu tidak punya siapa-siapa lagi Nak." kata ibu masih dengan menangis.
__ADS_1
" Ibu punya Mayang, dan selamanya Mayang akan jadi anak ibu." jawabku menenangkan Bu Yasmin.
Setelah beberapa saat, kami pun akhirnya menutup percakapan ini.