
Setelah kepindahan Bella, hari-hariku sendiri lagi. Aku lebih banyak menghabiskan waktuku istirahat dengan membaca buku diperpustakaan. Bukannya aku tak punya teman, tapi hati ini hampa tanpa Bella.
"Hay May, kamu kok selalu pergi ke sini sih saat jam istirahat? Kenapa kamu tidak bergabung bersama teman-temanmu yang lain?"
Tiba-tiba saja ada seseorang yang duduk disampingku. Dia adalah Ali, teman sekelas ku.
"Oh, eh iya gak apa apa. Aku hanya ingin membaca dan mencari buku untuk pelajaran aja kok. Kamu tumben kesini.?" aku balik bertanya padanya.
"Nggak apa apa juga sih. Ingin kesini aja." jawabnya sambil nyengir
"Udah sana, dicariin geng kamu tuh. Mau diajak main bola." kilahku.
Sebenarnya aku merasa risih aja kalau sedang baca dan ditungguin seperti ini.
"Oh iya, ya udah. Aku pergi dulu ya.."
Setelah Ali pergi, Aku melanjutkan membaca ku. Tapi tiba-tibaa...
"Aww... perutku sakit sekali. Aduuh..."
"Eh kamu kenapa May? Aku panggilan Bu guru dulu yaa"
Ternyata Ali tadi belum pergi juga. Dia masih berdiri dibalik rak buku.
"Kenapa ini Al, apa yang terjadi?" tanya Bu Rofi, petugas jaga perpus.
"Engga tahu Bu, tadi tiba-tiba Mayang mengeluhkan sakit perutnya." jawab Ali.
__ADS_1
"Kenapa kamu May?" tanya Bu Rofi padaku.
"Tidak tahu Bu, tiba-tiba saja perut saya sakit." jawabku sambil menahan perut yang rasanya seperti diremas-remas.
"Ali, bisa bantu ibu memapah Mayang ke UKS kan?" pinta Bu Rofi
"Iya Bu" jawab Ali.
Sesampainya di UKS, aku diperiksa oleh bidan sekolah.
"Apa kami sering telat makan Mayang?" tanya Bu bidan
"heheh, iya sih Bu." jawabku sambil cengengesan.
"Hmmm, pantesan. Ini asam lambung kamu naik. Ini ibu kasih obat pereda nyeri. Setelah ini kamu gak boleh telat makan lagi. oke.. Kasihan perut kamu kalau dipaksa kaya gini May. Nanti lama-lama bisa jadi liver loh kalau asam lambungnya udah parah. Kami gak mau kan?" terang Bu bidan panjang lebar.
"Kamu ini masih sakit May. istirahat lah dulu disini. Biar Ali yang meminta izin ke guru piket. Bisa kan Al? " tanya Bu bidan pada Ali.
Namun yang ditanya malah bengong saja.
"Aliii... Kamu dengar ibu tidak?" tanya Bu bidan sedikit berteriak.
" Eh, Oh apa Bu? Maaf Ali bengong. Tadi Ali nglamun. Soalnya Ali ingat almarhumah ibu Ali Bu. Beliau meninggal karena liver juga. Jadi ketika ibu bilang gitu pada Mayang, Ali langsung teringat pada ibu." jelas Ali dengan wajah memelas.
"Ya sudah, kamu temani dulu Mayang. Ibu akan meminta izin ke guru piket kalian."
Akhirnya Bu bidan yang mengalah meminta izin untuk kami.
__ADS_1
Setelah Bu bidan menutup pintu, Ali menghampiri ku dan berkata:
"May, jangan telat-telat lagi ya makannya. Sakit liver itu berat loh. Ibuku saja sampai kuruuusss sekali. Sekalinya sehat, dipakai aktivitas langsung drop lagi."
"Ketika drop, ibu jadi makin kurus dan akhirnya meninggal May..
Jadi tolong, kamu harus makan yang teratur yaaa. Ini kan juga demi kamu" jelasnya panjang lebar.
Ternyata, dibalik sifat jahilnya pada teman-teman, dia mempunyai pengalaman hidup yang begitu pahit.
"Iya Alii.. Terimakasih sudah mengingatkan ku. Terima kasih juga kamu sudah membawaku kesini dan sekarang malah menemaniku.
*****
Sejak saat itu, aku dan Ali menjadi teman dekat. Kami sering pulang dan pergi kesekolah barengan. Karena arah rumah kami sejalan.
Sekarang aku pun sudah tidak kesepian lagi.
Aku bisa kembali tertawa dan ceria lagi.
Ali adalah orang yang lucu, suka bercanda, humoris dan baik hati.
Ali ini adalah anak piatu, Ibunya meninggal ketika dia masih duduk di bangku kelas 6 SD. Sama seperti ku. Tapi dia masih punya seorang bapak dan adik.
Adiknya masih kecil. masih kelas 2 SD sekarang.
Ali setiap pulang sekolah selalu membantu bapaknya di pasar. Disana bapak Ali menjual berbagai peralatan dapur yang terbuat dari tanah liat. Misalnya cobek.
__ADS_1
Ali ini anaknya juga pandai. Dia masuk sekolah di SMP Negeri juga karena beasiswa seperti ku.