
Ketika aku membuka mata, yang kulihat adalah sekelilingku yang berwarna putih. Selimut putih, dinding putih, selambu putih.
Dan semua nya serba putih.
'Oh Tuhan, dimanakah aku sekarang?'
"Ayah..."
Ya. Aku ingat. Tadi pak Tarjo memberitahuku kalau ayah jatuh dan dibawa ke Rumah Sakit. Aku harus menemui ayah sekarang.
Aku harus tahu keadaan ayah.
"Mau kemana dek? Kamu masih lemas"
Tiba-tiba seorang suster cantik masuk kedalam kamar ini dan melarangku untuk bangun.
"Aku harus menemui ayah Sus. Dimana ayahku sekarang?" tanyaku pada suster. Aku harap dia tau bagaimana keadaan ayah.
"Iyaa.. ayah kamu sedang ditangani dokter. Kamu doain ayah ya. Agar dia bisa melewati masa kritisnya." terang suster sambil mengusap rambutku.
"Kritis sus?" tanyaku minta penjelasan
"Iya dek. Ayahmu sedang kritis. Kata tetangga yang membawanya kesini, tadi ayah kamu jatuh waktu mengangkut barang dan barang itu jatuh mengenai kepala ayah kamu. Kamu yang sabar yaa."
Tanpa terasa air mata ini jatuh begitu saja mengaliri pipiku.
Ya Tuhan, kenapa harus seperti ini.
Disaat aku mendapat kabar bahagia tentang masa depanku, tapi ayah malah terkena musibah.
Dan sekarang, aku harus bagaimana. Darimana aku punya uang untuk membayar biayaku dan ayah?
"Mayang, kamu sudah sadar Nak? Maafkan Ibu ya Mayang. Ibu akan menanggung semua biaya ayahmu dirumah sakit Mayang. Kamu yang sabar yaa." tiba-tiba Bu Darmi datang. Dia memelukku erat.
Bu Darmi adalah pemilik kios tempat ayah dan pak Tarjo bekerja. Beliau sangat baik sekali pada kami. Bila ayah pulang, Bu Darmi sering memberikan makanan untuk diberikan padaku.
______________________________
Sudah seminggu ayah dirawat. Tapi belum juga menunjukkan kabar baik. Ayah masih kritis. Dan selama seminggu pula aku disini menemani ayah. Aku ingin selalu ada di samping ayah.
"Ayah.. ayah yang kuat yaa. Ayah ceper sadar yah. Mayang punya kabar gembira untuk ayah. Mayang masuk 3 besar yah. Bahkan Mayang memperoleh peringkat pertama di sekolah, dan sampai ke Kabupaten loh yah.
Setelah ini, Mayang bolehkan melanjutkan sekolah? Mayang janji akan belajar lebih giat lagi. Mayang janji akan jadi orang sukses yah.Mayang harap, nanti ibu akan kembali pada kita lagi yah. Mayang kangen ibu yah..."
Tiba-tiba jemari ayah bergerak.
Aku terkejut. Aku hendak berlari memanggil dokter. Namun ayah mencegah nya.
"Ayah, biar Mayang panggilkan dokter yah. Ayah telah sadar."
"Tidak usah Nak. Mayang disini saja. Waktu ayah tidaklah lama Nak."
"Ayah jangan bicara seperti itu. Mayang tidak suka. Apa ayah mau meninggalkan Mayang seperti ibu.?" Tangisku pun pecah.
Kenapa ayah bicara seperti itu.
Apa maksud ayah? Aku benar-benar tidak mengerti.
"Mayang, dengarkan ayah. Hidup dan mati seseorang itu adalah kehendak Tuhan Nak.
Jikalau ayah harus pergi, Mayang janji sama ayah. Mayang akan terus semangat melanjutkan hidup. Mayang harus semangat belajar. Mayang harus kuat. "
"Ayah..."
"Janji sama ayah ya Nak, jangan tinggalkan sholat. Kamu harus terus melanjutkan cita-cita kamu. Kamu tidak boleh terpuruk. Kamu harus semangat." ucap ayah yang semakin terbata-bata.
"Ayah minta maaf Nak jika ayah belum bisa buat Mayang bahagia. Maafkan ayah Nak."
"Ayah.. Mayang sayang ayah. Ayah jangan banyak bicara lagi. Ayah masih lemas. Biar Mayang panggilkan dokter ya yah." pintaku pada ayah. Aku tak sanggup lagi mendengar kalimat ayah. Kalimat itu begitu menusuk hatiku. Aku tidak sanggup...
"Tidak usah Nak. Kini sudah saatnya ayah pergi..
ashhadu ala Ilaha ilallah. wa ashhadu Anna Muhammadarosululloh..."
"Ayaaahhhhh........."
Mendengar teriakanku, dokter dan perawat datang. Mereka langsung memeriksa ayah.
Seorang suster memeluk dan menenangkan ku.
"Yang sabar ya dek. Ayahnya sudah tenang disana. Adek yang sabar yaa.." kata-kata dokter itu langsung membuatku merasa tak berdaya. Aku lemas seketika. Tidak ada lagi tenaga. Aku benar-benar...........
____________________________
__ADS_1
Aku tersadar.
Tadi aku hanya mimpi.
Ini adalah kamarku. Ya, ini benar kamarku.
Dan diluar sana, tampak orang yang sedang mengaji. Itu artinya tadi aku tidak sedang bermimpi.
Ayah benar-benar pergi meninggalkan aku.
'Ayah.. kenapa ayah secepat ini meninggalkanku. Aku sama siapa yah sekarang. Aku benar-benar sendiri yah.'
Namun aku ingat pesan ayah tadi. Aku harus kuat. Aku harus tetap semangat. Aku pasti bisa.
Aku melangkah kan kaki ku keluar kamar. Disana terlihat sudah banyak sekali orang-orang yang melayat. Aku disambut dan dipapah oleh Bu Yasmin. Tampak juga tema-temanku hadir disini.
"Mayang yang sabar yaa.."
Teman-teman menyemangati ku.
Aku hanya membalas dengan anggukan kepala saja. Karena bibir ini terasa berat untuk terbuka.
Aku duduk disamping mayat ayah. Iya, orang yang selama ini aku punya sudah terbujur kaku. Diam tak bergerak.
Aku memeluknya erat.
'Ayah, Mayang ikhlas ayah pergi. Mayang akan kuat. Mayang janji, Mayang akan jadi orang sukses agar ayah bangga. Selamat jalan ayah. '
Usia aku memeluk ayah, kini saatnya ayah akan dimakamkan. Tadinya orang-orang melarangku untuk ikut. Tapi aku memaksa ikut. Aku ingin mengantar ayah sampai ke tempat peristirahatan terakhirnya.
___________________________________
Usia pulang dari pemakaman ayah, kulihat Bu Yasmin sedang duduk didepan rumah. Tampak juga beberapa tetangga yang masih disini.
Bu Yasmin berdiri dan menghampiri ku.
Beliau memapah ku masuk ke dalam.
Setelah duduk di depan rumah Bu Yasmin memegang tanganku.
"Mayang, maukah kamu ikut tinggal bersama ibu. Ibu disini juga tidak punya siapa-siapa. Begitupun kamu."
Aku belum menjawabnya. Aku kembali teringat masa-masa bersama ayah. Setiap pagi memasak buat ayah. Ketika malam ditemani belajar oleh ayah.
"Mayang, ibu mau menjadi orangtua angkat kamu. Kamu mau kan? Nanti kita akan tinggal bersama dirumah ibu."
"Maaf Bu, untuk saat ini Mayang belum bisa. Mayang masih ingin disini bersama kenangan tentang ayah. Kalau Mayang pergi, pasti rumah ini juga akan kesepian Bu. Sekali lagi Mayang minta maaf. Mayang butuh waktu."
"Iya Mayang, Ibu mengerti. Ya sudah, Ibu pamit dulu ya. Ibu akan sering-sering kesini."
ucapnya sambil memeluk dan mencium keningku.
****
Sepi.
Malam ini begitu sepi. Hanya aku terduduk sendiri di sudut ruang tamu. Para tetangga tadi banyak yang menawari untuk aku ikut tinggal, tapi aku menolak.
Aku masih ingin disini. mengenang kenangan bersama ayah. Bersama ibu.
Ah ibu, bagaimana kabarmu. Tahukah kau aku disini sendiri. Ayah telah pergi untuk selamanya, Bu. Tidak inginkan kau kembali kesini untuk menemani putrimu ini.
Aku hanya bisa menangis sampe terlelap.
Lelah sekali rasa diri ini. Begitu berat beban yang aku hadapi.
***
Pukul 05.15 pagi aku terbangun
'MasyaAllah, aku kesiangan. Aku belum memetik sayur untuk sarapan ayah.'
Baru aku akan beranjak pergi, aku ingat bahwa ayah telah tiada. Aku kembali merebahkan diriku di tikar ini.
'Ayah...'
Bahkan keberadaanmu masih terasa begitu hangat disini yah.
"Astaghfirullahal 'adzim"
Aku teringat janjiku pada ayah. Aku harus tetap semangat melanjutkan hidup. Aku harus bisa dan pasti bisa.
Aku bergegas menuju kamar mandi untuk berwudhu dan kemudian pergi ke kamar untuk sholat subuh.
__ADS_1
Dalam sujudku, aku memohon kepada Illahi Robbi, agar Dia menjaga ayahku. Agar Dia memaafkan kesalahan ayah. Dan agar aku bisa tetap semangat melanjutkan hidupku.
Usai sholat, kurapikan mukena dan ku menuju kebun belakang. Rasanya hatiku lebih baikan.
Hari ini aku akan memasak sayur daun ketela kesukaan ayah. Ada juga sambal trasi dan tempe.
Tapi..
Berasnya habis. Aku harus bekerja agar aku bisa membeli beras.
Pagi ini aku hanya sarapan dengan sayur daun ketela tanpa nasi. Setelah ini aku akan pergi ke pasar. Aku akan ketempat Bu Darmi. Aku akan bantu-bantu disana.
Namun, ketika aku masih mengunci pintu, tiba-tiba Pak Tarjo datang
"Mayang,ini ada beras dan beberapa lauk untuk kamu dari Bu Darmi, Nduk."
"Lhoh pak. Ini aku baru mau ke pasar. Aku mau bantu-bantu Bu Darmi. Memang kebetulan sih, beras dirumah habis."
"Kamu ini masih kecil Nduk. Jadi Ndak usah kerja dipasar. Kata bu Darmi, dia akan mengirimkan beras dan lauk setiap Minggu untuk kamu. Kamu sekolah saja yang bener."
"Tapi pak. Nanti aku pasti akan terus merepotkan. Dan aku takut nanti aku jadi bergantung sama Bu Darmi." tolakku halus.
Aku memang tidak mau merepotkan orang lain. Aku harus bisa berusaha sendiri.
"Ya sudah. yang itu kamu terima saja Nduk. Nanti biar bapak yang ngomong ke Bu Darmi."
"Iya pak. Terimakasih"
****
Siang ini, aku baru saja selesai makan siang.
Tadi sepertinya pak Tarjo, aku langsung memasak nasi kemudian beberes rumah.
Tok tok tok
"Assalamualaikum Mayang.."
Terdengar suara orang mengetuk pintu.
"Wa'alaikumsalam,sebentar."
"Oh ada Bu Darmi. Mari silahkan masuk Bu. Ada yang bisa saya bantu?"
Kupersilahkan Bu Darmi masuk keruang tamu.
"Begini Nak. Tadi pak Tarjo bilang kamu menolak pemberian yang mau ibu berikan tiap minggu kepada kamu. Kenapa Mayang?"
tanya Bu Darmi kepadaku.
Aku tidak enak. Gara-gara aku menolak, Bu Darmi sampai repot-repot mengunjungiku. Dia juga membawa buah tangan buatku.
"Maaf Bu, bukan semata-mata Mayang menolak. Tapi Mayang hanya tidak mau merepotkan ibu. Mayang ingin berusaha sendiri Bu. Tidak menggantungkan hidup pada pemberian. Itu pesan ayah." jawabku dengan jujur
"Oh begitu. Lantas kamu mau kerja apa Nak? Kamu kan masih kecil. Tugas kamu ini hanya belajar dan bermain."
"Mmmm... Atau begini saja Bu. Bisakah Mayang pinjam uang pada ibu. Mayang akan membuat makanan yang nanti bisa Mayang jual atau titipkan ke warung-warung sekitar Bu." tiba-tiba aku menemukan sebuah ide. Aku harap Bu Darmi setuju dengan ide ku itu.
"Ini. Ndak usah pinjam. Kamu pakai saja buat modal. Nanti hasilnya kamu tabung. Buat keperluan kamu." Bu Darmi menyodorkan beberapa lembar uang berwarna biru.
"Bu, uang ini saya pinjam yaa. Nanti kalau sudah terkumpul saya balikin." tolakku dengan halus.
"Mayang, kamu ini keras kepala banget ya" ucapnya sambil mencubit hidungku.
"Uang itu uang gajian ayahmu. Memang sih ibu lebihin sedikit. Ibu ikhlas ingin membantu kamu. Masa kamu ga ingin membantu ibu agar ibu bisa bersedekah kepada kamu sih May? Lagian menyayangi anak yatim itu kan wajib Nak." tambah Bu Darmi sambil mengelus rambutku.
"Iya bu. Terimakasih ya. Semoga dengan uang ini Mayang bisa membuka usaha kecil-kecilan."
"Ya sudah, ibu pamit dulu yaa. Kalau ada apa-apa kamu jangan sungkan ke tempat ibu ya May. Assalamualaikum..."
"Iya Bu. Terimakasih.
Wa'alaikumsalam..."
******
Pagi ini, aku akan memulai usaha. Kemarin aku telah belanja macam-macam peralatan dan kebutuhan. Aku akan membuat kue yang nanti akan ku titipkan ke warung-warung dekat sini.
Dulu ibu pernah membuatkan aku kue dan rasanya sangat enak.
Aku sedikit banyak ingat resep dan bahan-bahannya.
'Bismillah.. Semoga usaha ini lancar dan laris'
__ADS_1