
Saat ini aku sedang duduk di bangku kelas XI. Di tahun pelajaran ini, aku tidak bisa satu kelas dengan Bella. Ada rolling an siswa yang di acak, dan aku pun berpisah kelas sama Bella
Biar pun demikian, kami tetap bisa saling bertemu di saat jam istirahat.
Keadaan ekonomi Bella pun sekarang sudah mulai membaik. Ibunya juga sudah kembali ke ayah nya. Mereka pun tampak hidup bahagia kembali.
Pagi ini pelajaran Fisika ada di jam pertama pelajaran.
Namun sudah 15 menit setelah bel masuk, guru yang mengajar belum juga masuk ke kelas.
Di menit ke 20, beliau masuk kelas dan ada seorang siswa bersama nya.
Oh mungkin itu siswa baru yang dibicarakan oleh teman-teman ku sedari tadi.
" Selamat pagi anak-anak. Maaf bapak telat pagi ini. Hari ini kita kedatangan teman baru. Namanya Zen. Ayo Zen perkenalkan dirimu." kata pak Dodik, guru Fisika kami.
" Selamat pagi teman-teman, perkenalkan nama saya Zainul Arifin. Kalian bisa memanggil ku Zen. Aku pindahan dari SMA Pelita Bangsa Bandung. Aku harap kita bisa berteman nanti." kata perkenalan dari anak baru itu.
Dia ganteng juga. Pantesan semua teman-teman perempuan ku berbisik-bisik manja menggoda pada nya.
" Zen, silahkan duduk. Kamu bisa duduk di samping Mayang. Dita bisa kan kamu pindah ke depan sini. Mayang tolong nanti jika Zen ada kesulitan kamu bantu ya." ucap pak Dodik.
" Baik pak." jawabku
Setelah itu dia duduk di samping ku. Dia mengulurkan tangannya kepada ku.
Aku pun membalas uluran tangan nya.
" Hai, aku Zen. Salam kenal ya" sapa nya.
" Hai juga. Aku Mayang." jawabku biasa saja.
Kegiatan belajar mengajar hari ini pun berjalan tak tenang seperti biasa nya. Karena para teman-teman perempuan ku sering curi-curi pandang pada Zen. Bahkan tak jarang ada yang menggoda nya.
Bukannya apa-apa sih, kan Zen duduk nya di samping ku. Jadi aku risih aja karena mereka. Zen pun tampak nya merasa terganggu dengan itu.
" Mayang, memang nya setiap ada siswa baru juga sering digodain gini kah?" tanya nya.
" Biasanya sih enggak Zen. Mungkin karena kamu terlihat spesial di mata mereka. Jadi mereka godain kamu deh." jawab ku asal.
" Resiko jadi orang ganteng ya gini ini May." katanya sok PD.
Tapi memang dia ganteng sih. Kata ku geli dalam hati.
__ADS_1
" Ya udah, biarin aja lah. Anggap saja angin lalu." jawab ku.
" Eh Mau, nanti aku pinjam beberapa buku catatan nya. Mau aku salin biar aku tidak ketinggalan pelajaran." pinta nya.
" Oke." sahut ku singkat.
****
Jam pulang sekolah pun tiba. Bella menghampiri ku di kelas. Karena tadi dia menunggu di depan kelas nya aku belum juga muncul.
Aku memang sedang memberi penjelasan pada Zen tentang beberapa bab buku yang mau dipinjam nya pada ku.
" Hai May.. Eh ini ya anak baru yang sering di omongin orang-orang" celetuk Bella tiba-tiba.
" Siapa dia May?" tanya Zen pada ku.
" Eh kenalin, aku Bella. Aku sahabat nya Mayang. Dulu sih waktu kita kelas X kita satu kelas. Tapi sekarang dipisah sama guru." jawab nya tanpa di tanya.
" Pasti kalian suka menggosip. Makanya dipisah. Biar tidak bergosip terus saat pelajaran." ejek Zen.
" Enak aja. Kami ini anak pintar kok. Buktinya Mayang selalu menjadi juara kelas, bahkan juara se kelas X. Ya kan May?" balas Bella tidak terima.
" Sudah-sudah. Yuk kita pulang Bell. Oh iya Zen, itu yang di bab 7 tidak ada penjelasannya ya karena bab itu sama seperti bab 5. Dari pada bolak balik nulis, aku men skip nya." jelas ku.
" No ku aja Zen." celetuk Bella.
" Nggak usah aja. Kan besuk bisa ketemu. Kalau ada yang kamu nggak ngerti tanyakan besuk aja ya. Bye.."
Akhirnya aku pun berjalan pulang. Belum sampai gerbang, rupanya Zen menyusul.
" Pulang bareng yuk. Aku bawa mobil kok." ajaknya.
"Ay..."
" Tidak terima kasih."
Aku memotong kata-kata Bella.
Ah ini anak main sok akrab saja pada orang nggak di kenal.
" Kami permisi dulu yaa." lanjutku.
Sambil berjalan si Bella ngedumel.
__ADS_1
" Kenapa sih kita nggak bareng aja May. Kan lumayan tuh bisa naik mobil. Aku sudah lama loh ga ngrasain naik mobil sendiri." ucap nya sambil cemberut.
" Kita kan baru kenal dia sehari Bell. Lagian ini kota. Kalau ternyata dia jahat dan bawa kabur kita gimana?" jawabku
" Ah kamu mah terlalu parno an orang nya. Padahal itu kan baik." dia tak mau kalah.
Ketika kami sedang nunggu angkot, ada sebuah mobil sedan mewah keluaran terbaru berhenti di depan kami. Sang pengemudi mobil menurun kan kaca depan dan membuka kaca mata nya. Dia tersenyum manis pada kami.
" Ayo naik." ucap nya.
Rupanya dia Zen. Bella pun bergegas maju mau membuka pintu depan mobil tapi aku buru-buru mencegah nya.
" Ah enggak, makasih. Rumah kami Deket kok." tolak ku
Syukurlah angkot yang kami tunggu sudah datang.
" Kami pergi dulu ya."
Aku pun segera bergegas menarik tangan Bella yang enggan pergi meninggalkan Zen.
" Ayo Bel," ucapku geram pada Bella.
Dengan langkah malas, akhirnya dia menurut.
Dalam perjalanan naik angkot, Bella tak henti-hentinya menceritakan tentang Zen. Katanya dia ganteng, baik, supel dan tidak sombong.
Bahkan dia berandai-andai kalau saja Zen mengajak nya pacaran. Aku pun tersenyum geli melihat tingkah Bella yang terkesan konyol.
Bella memang pernah berpacaran sewaktu kelas X kemarin, dan mereka putus karena pacar nya pindah sekolah.
Kalau aku sih, sampai sekarang aku masih menikmati masa-masa sendiri ku.
Pernah waktu itu ketika sedang mengobrol dengan Bu Yasmin, beliau menanyakan apa aku sudah memiliki kekasih hati.
Dan aku jawab belum. Karena memang aku tidak tertarik untuk memikirkan itu saat ini. Aku hanya ingin fokus pada sekolah dan jadi orang sukses dulu.
Bahkan Bu Yasmin mengira kalau aku masih setia sama Ali.
Aku memang setia pada Ali. Setia untuk tetap jadi sahabat nya. Untuk urusan hati, biar lah semua berjalan apa ada nya.
Kami terpisah jarak dan waktu. Dan itu tidak menutup kemungkinan dia sudah memperoleh tambatan hati atau belum.
Karena semenjak aku ke kota, Ali juga jarang bertemu dengan Bu Yasmin.
__ADS_1
Yang Bu Yasmin dengar dari salah satu teman ku, Ali melanjutkan ke sekolah SMA Swasta di kampung dan siang nya dia membantu bapak nya berjualan di pasar.