Dibalik Awan Kelabu

Dibalik Awan Kelabu
08 Sahabat Baru


__ADS_3

Kini aku mempunyai lagi seorang sahabat. Hari-hari ku menjadi semakin bersemangat. Setelah Bu Yasmin, sekarang Ali menjadi bagian terpenting dalam hidup ku.


Aku bahagia punya mereka. Mereka selalu ada dan bisa menghiburku.


Setelah ikut Bu Yasmin, Aku tetap melanjutkan membuat kue. Kali ini warung yang aku titipin kue semakin bertambah banyak. Setiap harinya aku menitipkan kue ku ke 15 warung. Dan Bu Yasmin pun membantu aku dalam membuat kue.


"May, tadi tetangga kita ada yang mau pesan kue untuk acara pernikahan anak mereka. Apa kamu bisa? Jumlahnya cukup banyak loh May. Ada 500 pcs dan dia minta 3 macam. Jadi totalnya 1500 pcs. Bagaimana?" tanya Bu Yasmin ketika kita sedang makan malam.


"Kue basah apa kue kering Bu?" tanya ku kembali.


"Tadi mintanya yang 2 macam kue kering saja, dan yang semacam kue basah. Jadi yang 2 bisa kita cicil pengerjaan nya.Bagaimana?" jelas Bu Yasmin sambil membereskan piring makanan.


"Boleh Bu.Kapan itu acaranya?"


"Dua Minggu lagi May. Pas waktunya liburan sekolah. Jadi kita punya lebih banyak waktu untuk mengerjakan."terang Bu Yasmin lebih lanjut.


"Baiklah Bu. Nanti kita belanja peralatan dan bahannya bersama-sama yaa."ucapku


"Iya sayang. Sekarang kamu ke kamar gih. Biar ibu yang membereskan meja makan ini. Bukankah ujian semester kamu kurang satu hari besok?" perintah Bu Yasmin


"Iya sih Bu, tapi besuk hanya ujian praktek saja kok. Jadi biar Mayang saja ya yang membereskan ini semua. Ibu istirahat saja. Ibu kelihatan nya sangat lelah."pintaku kembali.


"Ya sudah, ibu ke kamar dulu yaa."


Setelah Bu Yasmin masuk kamar, aku pun segera pergi ke dapur untuk mencuci piring sisa makan malam tadi.


Kemudian kembali ke ruang makan untuk membereskan meja dan lanjut ke kamar.


*****


"Pagi May. Bawa bekal apa hari ini?"


Tiba-tiba saja si Ali sudah muncul saja dihadapanku.


Memang semenjak kita dekat, aku selalu membawa 2 bekal ke sekolah. Yang satu aku berikan buat Ali. Kasihan dia, kalau pagi sibuk membantu bapaknya menyiapkan dagangan sehingga dia tak pernah sarapan.


Sedangkan di rumah, Bu Yasmin selalu memasak lebih. Jadi aku meminta izin padanya untuk membawa sedikit buat Ali dan Bu Yasmin pun tak keberatan.


Bu Yasmin juga sudah kenal dengan Ali, karena Ali sering main kerumah dikala dia telah pulang dari pasar.


Kata bu Yasmin, Ali anaknya baik, supel, dan suka nglucu.


"Ini ada tumis kangkung sama tempe telur kesukaan kamu." jawabku sambil menyerahkan kotak makan nasi.

__ADS_1


"Waaah, enak nih. Aku makan ya. Aku benar-benar lapar sekali nih. Maklumlah, tadi angkat-angkat dagangannya lebih banyak. Karena ada pesanan."katanya sambil mengunyah makanan yang kini ada di depannya.


"Iyaah, makannya pelan-pelan nanti keselek loh." kataku sambil menungguinya makan.


"Kamu nggak makan juga May? Ini aku siapin?" ucapnya sambil mengarahkan sendok berisi makanan kearahku.


"Ihh, apaan sih. Kaya anak kecil aja pake disuapi segala. Lagian tadi aku udah makan kok dirumah. Jadi sekarang tidak kelaparan kaya kamu."


Lalu kami tertawa bersama. Setelah itu dia melanjutkan makan nya dan aku dengan sabar menunggu disamping nya.


"Mau, makasih ya. Kamu baik banget. Makasih karena kamu mau jadi temen ku. Mau membagi makanan ke aku pula. " jawabnya sambil cengengesan khas dia.


"Iya Al, sama-sama. Bukannya kita itu harus saling tolong menolong yaa"jawabku sekenanya


"Oh iya May, setelah lulus nanti, kamu mau melanjutkan sekolah dimana?"


"Aku sih kepengennya melanjutkan ke sekolah Negeri saja Al. Syukur-syukur kalau bisa dapat beasiswa lagi. Kan lumayan. Kalau kamu?" tanyaku padanya kembali


"Aku..... Kayanya aku nggak bisa nglanjutin sekolah deh May." jawabnya sambil tertunduk


"Kenapa?"


"Aku ingin membantu bapak May. Aku kasihan melihat bapak bekerja terus."


Hingga akhirnya bel tanda masuk berbunyi


"Yuk masuk ke kelas." ajakku


"Ayuk.." jawabnya


Kami berjalan beriringan menuju ke kelas kami. Namun kami masih sama-sama terdiam. Kami larut dalam pikiran masing-masing.


*****


"May, aku pulang duluan yaa. Maaf gak bisa barengan karena hari ini bapak ada banyak pesanan. Jadi aku harus membantu nya." kata Ali sewaktu aku sedang membereskan peralatan sekolah ku.


"Eh iya, kamu hati-hati yaa"pesanku padanya


"Okee" jawabnya sambil mengacungkan jempol padaku.


Aku hanya bisa tersenyum geli melihat tingkah konyol nya ini.


Dan siang ini, aku pun berjalan sendirian. Menyusuri jalan setapak. Terkadang jalan yang ku lalui terjal dan bergelombang. Sama seperti kehidupan ku.

__ADS_1


Ada kalanya jalan itu lurus, Ada kalanya masalah dan ujian datang silih berganti. Namun aku harus tetap sabar dan bertahan. Aku harus bisa menjadi wanita tangguh.


Ada banyak pengalaman dan pengajaran yang aku dapat dari Bu Yasmin. Meskipun beliau hidup seorang diri, namun beliau tak pernah mengeluh. Beliau tetap sabar dan semangat.


Aku juga slalu ingat pesan ayah, bahwa aku harus semangat melanjutkan hidupku. Aku mau menjadi orang sukses.


Tak terasa kaki ku melangkah menuju makam ayah. Tiba-tiba ada rasa rindu yang membuncah. Aku rindu sekali dengan ayah.


''Ayah, Mayang rindu sama ayah. Ayah doain Mayang yaa agar Mayang bisa jadi orang yang sukses nanti. Mayang sayang sama ayah."


Seusai berdoa aku pun hendak beranjak dari sini, tiba-tiba ada yang memegang pundak ku.


Aku terperanjat kaget. Setelah aku menoleh, rupanya Bu Saripah.


"Eh Bi Sari, ada apa kemari?" tanyaku padanya


"Bi Sari datang mau menjenguk makam ayah kamu May. Waktu ayahmu meninggal, bi Sari sedang ke luar kota ikut suami. Jadi bik Sari tidak tahu kalau ayahmu....... telah pergi."jelasnya padaku.


"Oh iya, silahkan. Mayang permisi pulang dulu yaa.." pamitku padanya


Entah mengapa aku enggan sekali bertemu dengannya. Karena aku ingat, dulu ibu sering marah-marah setelah kedatangan buk Sari. Jadi aku fikir bik Sari lah yang telah menghasut ibu untuk meninggalkan aku dan ayah.


"Tapi Mayang, tunggu..."


Aku tak menghiraukan panggilan nya. Aku setengah berlari sambil menyeka air mata ku. Aku ingin segera sampai dirumah Bu Yasmin.


****


"Loh May, kamu kenapa? Kenapa kamu menangis Nak?"tanya Bu Yasmin.


Ternyata beliau sudah pulang dan menunggu ku di teras depan rumah.


Aku pun langsung memeluknya erat. Aku tumpahkan rasa yang menyesakkan dada.


Setelah aku sedikit lega, Bu Yasmin bertanya kembali.


"Ada apa sayang? Kenapa kamu menangis? Coba cerita sama ibu!"


Aku pun menceritakan tentang kejadian waktu bertemu bik Sari di makam ayah. Juga tentang kejadian yang dulu pernah terjadi dirumah.


"Sayang, ini kan cuma perasaan kamu saja. Bisa jadi kamu salah paham. Kita tidak boleh mengambil keputusan tanpa adanya bukti yang kuat. Nanti bisa jadi fitnah loh." Bu Yasmin mencoba menenangkan ku dengan kata-kata lembutnya.


Dalam diam aku mengiyakan perkataan Bu Yasmin, walau hati kecilku menolak.

__ADS_1


Aku akan berusaha memahami dan bersahabat dengan keadaan


__ADS_2