
Pagi ini aku begitu bersemangat ke sekolah.
Tadi malam setelah sedikit berbincang dengan Zen, rasanya aku tidur begitu nyenyak.
Seperti biasa, aku bangun awal untuk menyiapkan keperluan warung. Di bantu juga Tante Mita dan Bu Yasmin.
Hari ini kami menerima banyak pesanan.
Ada 250 nasi box dan 375 kotak kue.
Sekarang ada Bu Yasmin disini, jadi beliau bisa menggantikan ku meracik bumbu. Lagian sekarang Tante Mita juga sudah jago masak nya.
" Hari ini jadwal ulangan nya apa May?" tanya Bu Yasmin pagi ini saat kami tengah sarapan.
" Hari ini fisika sama bahasa Inggris Bu." jawabku sambil mengambil nasi ke dalam piring.
" Minggu depan Rani juga ulangan loh kak. Rani akan rajin belajar biar Rani bisa pintar kaya kakak." sahut gadis kecil lucu itu.
" Iya dong. Rani harus rajin belajar supaya nanti bisa jadi orang sukses." kata ku menyemangati Rani.
***
Aku sedang duduk di bangku kelas ketika Zen datang.
" Pagi cantik. Duh makin cantik aja nih hari ini." sapa Zen mengagetkan ku yang sedang membaca.
Aku menoleh sebentar ke arah nya, kemudian kembali menatap buku lagi.
" Cantik-cantik kok jutek sih. Nanti nggak jadi menjadi mantunya pak Hans loh." katanya sambil terkekeh
Mendengar nama oom Hans aku tertarik untuk menatapnya.
" Bagaimana kabar oom Hans? Sudah sadar kan?" tanya ku antusias
" Cieeee, sang calon mantu. Mulai perhatian nih. Nanti jangan-jangan lebih perhatian ke mertua di banding ke suami." dia semakin menggoda ku.
" Idiih, siapa juga yang jadi mantunya oom Hans. Orang masih belum keluar kata-kata kok." jawab ku keceplosan. Aku yang tersadar langsung memalingkan muka.
Aku benar-benar malu. Aku berharap Zen tidak mendengar ucapan ku barusan.
" Apa May?" tanya Zen pura-pura nggak dengar.
" Eh enggak kok. Aku nggak ngomong apa-apa." jawabku gugup.
Jika bisa menghilang, aku ingin saat ini bisa menghilang dari hadapan Zen.
Sungguh, aku sangat malu.
Dia tersenyum begitu manis.
Sangat manis dari gulali yang ada di pasar malam.
Dia semakin mendekat. Dia meraih tangan ku dan menggenggam nya.
" Aku......"
teng teng teng
Dia menghentikan kalimatnya dan aku pun menarik tangan ku.
__ADS_1
Bel tanda masuk berbunyi.
Kami pun tertawa masing-masing
***
Saat pulang sekolah, aku ingin cepat-cepat pulang. Karena aku masih malu sama Zen
Tiba-tiba dia menarik tanganku pelan lalu menggenggam nya erat.
Hatiku begitu berdebar tak karuan.
Aku sangat grogi.
Kami pun berjalan beriringan menuju taman sekolah.
" Kenapa kamu ajak aku kesini Zen?" tanya ku polos.
Zen membimbingku duduk di sebuah bangku samping bunga mawar dan dia sendiri berjongkok dihadapan ku.
" Zen apaan sih? Jangan gitu ah. Malu dilihat orang. Kalau mau sok romantis disini aja. Duduk disamping ku." cegah ku lada Zen sebelum dilihat banyak orang.
" Yeaaahhh, padahal kan aku ingin kaya di film-film gitu May. Yang cowok berjongkok dihadapan cewek nya kemudian memberikan bunga dan mengatakan cinta." katanya terus terang.
Aku pun reflek tertawa lepas.
Aku tidak bisa menahan tawa saat Zen bilang supaya kaya di film-film itu.
Zen tampak cemberut.
Aksi romantis nya gagal. Dan dia pun menunduk.
" Zen.." panggilku
" Kenapa?
Maaf, aku nggak bermaksud menyinggung kamu." aku pun meminta maaf pada Zen. Aku merasa bersalah padanya.
" Aku suka sama kamu May. Aku cinta sama kamu. Mau kah kamu menjadi pacar ku?" tanya Zen to the poin.
Aku mengernyitkan dahi dan berkata.
" Masa cara nembak nya langsung to the poin gitu sih?" tanya ku pada Zen.
" Habisnya kamu sih. Orang mau bersikap romantis eeh malah ditolak. Kan aku jadi bingung harus memulai dari mana. Tapi kalau nggak dimulai-mulai nanti kamu nggak jadi mantunya pak Hans dong" jawabnya sambil nyengir.
Akhirnya kami pun tertawa bersama.
Setelah hening beberapa saat,
" Terus gimana May?" tanya Zen pada ku.
" Apa Zen? Maksud aku yang gimana apa nya?" tanya ku pura-pura tak mengerti
" Ya cinta nya. Diterima nggak?" tanya nya meminta kepastian
" mmmm diterima nggak ya? Aku nggak tau Zen. Aku tanya ibu dulu yaa." kata ku berpura-pura
" Nggak usah sayang, aku sudah meminta izin pada Bu Yasmin kemarin, dan kata beliau terserah kamu aja. Kalau kata papa sih suruh cepet-cepet ngawinin malah. Soalnya dia tak sabar ingin punya mantu. Tapi nggak tau juga ini mantu nya mau apa enggak." jawab Zen panjang.
__ADS_1
" Kamu tanya ibu?" tanya ku meyakinkan.
" Iya. Aku meminta izin pada Bu Yasmin dan Tante Mita, bolehkan aku mengajak kamu berpacaran. Kalau Tante Mita sangat mendukung. Kalau ibu...." dia tak melanjutkan kalimatnya.
" Ibu kenapa?" tanya ku penasaran.
" Ibu mengizinkan kita berpacaran asal kan kamu tidak lupa belajar dan tetap melanjutkan cita-cita kamu." jelas Zen membuat ku lega.
" Oke. Baiklah. Aku nurut pada ibu." jawab ku akhirnya
" Alhamdulillah. Makasih ya sayang." katanya senang.
" Iya sama-sama." jawabku.
Setelah itu, kami pun pulang bersama.
Dalam perjalanan pulang, Zen mendapat telp video call dari papa nya. Dia meletakkan hp nya di kaca depan. Jadilah papa Zen bisa melihat isi mobil.
" Eh Zen, gimana misi hari ini?" tanya papa Zen.
" Aman pa. Ini lihat siapa yang ada di samping Zen." Zen pun mengarahkan kamera hp nya kearah ku.
" eh hai Oom. Apa kabar?" tanya ku sambil melambaikan tangan.
" Baik anak mantu." jawabnya.
Zen pun hanya bisa terkekeh melihat kelakuan papa nya.
" Makasih ya May, udah mau terima anak Oom. Tolong bantu dia biar dia bisa jadi anak baik dan pintar kaya kamu ya. Kalau dia nakal, jitak aja kepalanya. Oom rela kok."
" Yeee papa ini apaan sih. Zen kan sekarang sudah jadi anak baik yang nggak pernah nakal lagi pa." sang anak pun tak mau kalah dengan papa nya.
Aku hanya bisa tersenyum geli melihat nya.
" Mama mana pa?" tanya Zen pada papa nya.
" Mama lagi keluar tadi. Sayang yah mama belum bisa bertemu May." kata papa Zen.
" Iya yah pa. Nanti kalau sudah ketemu dan dalam satu rumah pasti kita ditinggal di dapur terus. Secara May kan pinter masak kaya mama." ucap Zen.
" Hahahah iya Zen. Nanti kita bakalan gemuk karena istri kita pinter masak semua Zen." papa Zen pun menanggapi hayalan Zen.
Aku yang mendengarnya hanya bisa tersenyum sendiri.
" Ya sudah ya pa, Zen antar mantu papa ini pulang dulu. Takutnya nanti dicariin lagi sama ibu nya. Papa istirahat lagi supaya lekas sehat dan segera pulang." ucap Zen mengakhiri percakapan nya dengan oom Hans.
Tak terasa kami pun sampai di warung.
Pengunjung warung selalu ramai di jam istirahat ini.
Sebelum turun Zen memegang tangan ku.
" May, makasih banget ya. Aku sayang banget sama kamu."
" Iya. Aku juga." ucap ku malu-malu
" juga apa May?" tanya nya
" Ya juga seperti kamu." jawabku tersipu
__ADS_1
" Iya tapi apa?" tanya nya mendesak.
" Iya aku sayang kamu." akhirnya aku lun mengalah