Dibalik Awan Kelabu

Dibalik Awan Kelabu
33 Awan yang Kelabu


__ADS_3

Pagi ini rasanya badanku sakit semua.


Semalaman aku menangis di pangkuan Bu Yasmin.


Kepala ini terasa begitu berat.


Bu Yasmin pun datang dan memeriksa keadaan ku.


" Kamu sakit sayang, badan kamu anget. Hari ini nggak usah berangkat sekolah dulu ya." perintah Bu Yasmin padaku.


Aku pun mengangguk kan kepala saja karena rasanya untuk pergi ke sekolah tubuh ku tidak kuat.


" Nanti sehabis sarapan kita pergi ke dokter yaa. Ibu tidak mau kamu kenapa-napa." imbuh Bu Yasmin


Aku pun hanya menurut saja perintah ibu.


Aku pun pergi ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi.


Setelah itu aku kembali lagi ke kamar.


Hari ini aku lagi malas ngapa-ngapain.


Bu Yasmin masuk dan membawakan sarapan untuk ku. Aku pun disuapi sama Bu Yasmin.


Baru beberapa suap, aku menolak nya. Makanan ini rasanya hambar seperti hati ku.


Bu Yasmin pun mengambilkan aku susu dan dia kembali ke dapur.


Ku dengar dia sedang menelpon ke sekolah untuk memintakan izin agar aku tidak bersekolah.


Setelah beberes dan membatu Tante Mita menyiapkan keperluan warung, Bu Yasmin mengajakku untuk pergi ke dokter.


Sebenarnya obat dari sakit ku ini ada dalam hatiku. Memang saat ini aku masih belum bisa menerima kenyataan pahit ini.


Ketika kita sampai di depan halaman rumah Tante Mita, Ibu datang.


Aku berusaha menghindar tapi ibu terlebih dulu memegang lengan ku.


" Mayang maafkan ibu Nak." pinta ibu terhadap ku.


Aku tak bergeming.


Ibu lalu berusaha memelukku dan meronta melepaskannya.


" Maaf, kita sedang buru-buru." ucapku ketus.


Aku pun menggandeng tangan Bu Yasmin meninggalkan ibu yang terus menangis.


Sebenarnya aku tidak mau bersikap seperti itu pada ibu. Namun rasa sakit hatiku teramat dalam sehingga membuat ku seperti ini.


Mata ku pun terasa memanas. Aku tak kuasa menahan air mata ini jatuh.


Aku memeluk Bu Yasmin erat.

__ADS_1


Bu Yasmin paham bagaimana perasaan ku saat ini. Lalu beliau mengajak ku pergi ke sebuah tempat yang penuh dengan bunga.


Bu Yasmin mengajakku berjalan menyusuri jalan setapak yang dikelilingi denga bunga warna warni.


Kami pun sampai disebuah danau.


Disini suasana sangat sejuk.


Lalu kami pun duduk di sebuah bangku di bawah pohon yang rindang.


Aku merebahkan badan ku di batang pohon.


Menghirup udara dan menghembuskan nya pelan.


Perlahan-lahan, hati ku mulai tenang.


Aku mengamit tangan Bu Yasmin. Aku ingin bercerita banyak padanya.


" Bu.." panggilku


" Ya sayang." jawab Bu Yasmin


" Dulu, sebelum ayah pergi, ayah pernah berpesan pada Mayang. Bahwa Mayang harus memaafkan kesalahan ibu. Tapi hati Mayang masih belum bisa menerima semua yang telah ibu lakukan. Apa Mayang salah Bu?" tanya ku pada Bu Yasmin.


" May, kamu tau kan bahwa setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan." kata Bu Yasmin menjawab pertanyaan ku dengan pertanyaan lain.


Dia diam sejenak, kemudian meneruskan "Dulu sewaktu ibumu pergi meninggalkan kamu dan ayah, saat itu kamu masih kecil. Kamu tidak tahu alasan apa yang membuat ibu mu pergi. Yang kau tahu hanya ibu tidak merasa bahagia. Sebenarnya diluar itu, ibu mu pasti punya alasan lain mengapa ia sampai pergi. Padahal kamu juga merasakan sendiri bahwa sebelum ibu mu pergi, kehidupan kalian sangat bahagia. Ya walaupun hidup sederhana, tapi kalian adalah sebuah keluarga yang bahagia kan?"


Aku meresapi perkataan Bu Yasmin sambil mengangguk-angguk kan kepala.


Memang selama ini aku tidak pernah tahu apa alasan ibu sampai tega meninggalkan aku dan ayah.


" Saat ini memang kamu masih marah pada ibu mu, tapi cobalah berdamai dengan perasaan kamu May. Jangan sampai ini juga membuat hubungan mu dan Zen harus berakhir. Zen pun tidak menginginkan semua ini. Demikian juga dengan ibu mu. Dia tidak menginginkan anak kandung nya dan anak tiri yang selama ini ia jaga menjadi jauh gara-gara dia." imbuh Bu Yasmin.


Mendengar Bu Yasmin mengatakan itu, aku langsung memeluknya erat.


Lalu kami pun terdiam.


Kami sibuk dalam pikiran masing-masing.


Aku memejamkan mata, mencoba mengikhlaskan semua yang telah terjadi. Mencoba berdamai dengan hatiku sendiri


" Bu, jika suatu saat nanti aku bisa memaafkan ibuku, Bu Yasmin masih mau kan menganggap Mayang sebagai anak ibu. Mayang boleh kan tetap tinggal bersama ibu?" ucap ku pada Bu Yasmin.


Aku merasa lebih nyaman jika bersama dengan Bu Yasmin.


" Boleh lah May, selamanya kamu akan tetap jadi anak ibu. Karena ibu tidak punya siapa-siapa lagi selain kamu." jawab Bu Yasmin menenangkan hatiku.


Sudah berjam-jam kami disini.


Aku merasa sangat betah ada disini.


Kepala ku yang tadinya berat, sekarang jauh lebih membaik. Hatiku pun jauh lebih tenang.

__ADS_1


Kuucapkan syukur pada illahi, karena Dia telah mengirim sosok bidadari pengganti ibuku.


Hari pun sudah mulai masuk waktu sore, Bu Yasmin pun mengajak ku untuk pulang.


" Ayo kita pulang dulu May. Kita disini sudah terlalu lama. Takutnya nanti Tante Mita nyariin kita lagi." ajak Bu Yasmin.


Aku pun mengangguk dan segera bangkit untuk mengikuti Bu Yasmin pulang dari sini.


Di sepanjang perjalanan, kami sama-sama diam.


Aku diam memikirkan langkah apa yang akan aku lakukan, sedangkan Bu Yasmin diam untuk membiarkan ku berpikir.


Tak terasa kita sudah sampai di depan gang rumah Tante Mita.


Aku menghentikan kaki saat aku tahu ada mobil Zen parkir di samping gang.


Lalu Bu Yasmin menggandeng tanganku dengan menganggukkan kepala. Memberi isyarat bahwa aku pasti bisa.


Kita lanjut berjalan memasuki halaman rumah Tante Mita. Dan benar saja, Zen telah menunggu ku di depan rumah Tante Mita. Dia masih memakai seragam sekolah.


Hari sudah sore.


Sepertinya dia tadi menungguku sejak pulang sekolah.


Saat mengetahui kedatangan ku, Zen berdiri. Dia hendak memelukku, namun aku menghindar.


" Maaf Zen. Aku butuh waktu untuk sendiri. Dan aku minta tolong bilang pada mama kamu untuk memberi ku waktu untuk menenangkan hati ini." kataku sambil berlalu meninggalkan Zen yang masih terbengong.


Aku pun masuk ke dalam kamar, mengunci diri disini.


Ku dengar dia mengobrol sama Bu Yasmin.


" Maaf Zen, Mayang benar. Dia masih butuh waktu untuk menata hati nya. Ini terlalu cepat buat dia. Kamu berdoa saja biar semua bisa kembali baik-baik saja. Dan untuk Bu Sarini, tolong bilang sama dia untuk sementara ini jangan menemui Mayang dulu.


Ibu yakin kok Mayang itu orang nya pemaaf. Jadi tolong beritahu mama kamu untuk bersabar." Bu Yasmin memberikan pengertian pada Zen.


Zen pun akhirnya pamit untuk pergi dan menitipkan sebuket bunga mawar kuning sebagai tanda maaf nya.


Hidupku bagai diselimuti awan kelabu lagi. Setelah sekian lama awan itu tidak muncul, kini dia datang lagi.


Datang untuk menguji ku


Menguji seberapa besar rasa iman ku, seberapa tebal rasa sabar dan seberapa banyak rasa syukurku.


Aku yakin, Tuhan tak akan memberikan cobaan untuk umat-Nya diluar batas kemampuan.


Kalau Tuhan menguji ku dengan masalah ini, berarti Tuhan rasa aku mampu untuk menghadapinya.


Karena, pasti akan hadir pelangi setelah hujan. Akan ada kebahagiaan setelah kesedihan.


Setidaknya, aku masih memiliki orang terkasih seperti Bu Yasmin, Tante Mita, dan juga Bella.


Aku juga masih diberikan kesehatan dan juga kewarasan. Walau aku pernah berpikir mungkin lebih baik jadi gila. Agar tak sesakit seperti sekarang.

__ADS_1


' Ayah, ibu telah kembali yah. Tapi tak seperti dulu. Dia kembali sebagai orang asing bagi Mayang. Dia kembali dengan keluarga baru nya. Dan Mayang saat ini belum bisa memaafkan ibu. Mayang terlalu sakit.'


__ADS_2