
Kami terdiam cukup lama. Berada dalam fikiran dan bayangan masing-masing.
Aku mencoba untuk menata kembali hatiku yang berkecamuk.
Ada rasa lega setelah aku mengatakan ini semua pada Zen.
Aku harap semoga Zen bisa mengerti dan bisa kembali sehat.
"May, aku minta maaf. Aku telah merebut hak kamu sebagai seorang anak. Aku telah menikmati kasih sayang dari seorang ibu yang telah lama kamu rindukan.." kata Zen setelah kami terdiam lama.
"Semua ini memang diluar keinginan kita. Tak ada yang menginginkan semua ini terjadi. Tapi aku harap, suatu saat nanti kamu masih mau menerima ku sebagai orang yang ada di hatimu. Sebagai belahan jiwamu. Sebagai kekasihmu. Aku memang terlalu berharap banyak pada kamu May, karena memang hanya kamu semangat ku. Semenjak ada kamu, aku jadi bersemangat dalam belajar. Karena kamu aku bisa belajar tentang arti kehidupan, dan tanpa kamu aku jadi hampa." Zen melanjutkan ucapannya . Aku hanya terdiam mendengar nya.
"May, izinkan aku terus mencintai kamu. Izinkan aku memupuk rasa sayang ini. Dan izinkan aku untuk selalu menjaga kamu."
Kini tangan Zen meraih tangan ku.
Tak terasa setitik air mata jatuh membaaahi pipiku.
"Zen, aku tahu ini memang berat. Tapi andai nanti kita tidak bersama dalam jalinan cinta, aku tetap mau jadi sahabat kamu. Aku akan ada untukmu sebagai teman. Di luar sana masih banyak gadis lain yang lebih baik dari aku Zen. Yang sangat menyayangi kamu dan berlomba-lomba mendapatkan kamu." jawabku sambil melepaskan pegangan tangan Zen.
__ADS_1
"Zen, kalau kamu sayang sama aku, Kamu harus berusaha untuk sembuh. Kamu harus tetap semangat melanjutkan hidup dan jangan putus asa." Imbuhku.
"Tapi aku sangat berharap kita tetap bisa bersatu May. Aku mendambakan bisa hidup bareng sama kamu." ucapnya penuh penekanan.
"Zen, lusa aku akan mewakili sekolah untuk ikut olimpiade. Tolong bantu aku. Jangan buat aku terus terbebani dengan keinginan kamu ini. Aku nggak mau mengecewakan sekolah, dan aku berharap aku bisa berhasil dalam olimpiade ini agar aku bisa melanjutkan kuliah ke luar negeri." terangku pada Zen.
"Kamu akan kuliah ke luar negeri May?" tanya Zen tak percaya.
"Iya Zen. Tolong doakan aku ya. Supaya aku bisa meraih cita-cita ku." kataku dengan nada halus.
"Ya sudah, aku permisi dulu. Bella pasti sudah menunggu ku lama. Kamu cepat sembuh ya. Makan yang banyak. Jangan seperti anak kecil." ucapku berpamitan pada Zen.
Aku pun beranjak dari kursi dan melangkah meninggalkan Zen yang sedang bengong. Mungkin dia tak percaya kalau aku ingin melanjutkan kuliah ke luar negeri. Tapi aku semakin yakin untuk kuliah di luar negeri. Agar aku juga bisa melupakan semua kejadian di sini.
Aku menganggukkan kepala dan mengajak Bella untuk pulang. Tampak papa Zen ingin menyampaikan sesuatu.
"May,. Oom mau ngomong sama kamu." kata papa Zen mencegah kami pamit.
"Iya Oom, mau ngomong apa?" tanyaku.
__ADS_1
"Oom tau, kamu sangat sangat kecewa sama ibu kamu. Kamu sakit hati sekali sama ibu kamu. Tapi tolong, jangan rubah perasaan kamu sama Zen. Tolong teruslah mencintai Zen." kata papa Zen sedikit terisak.
Aku hanya bisa menggigit bibir dengan penuh penekanan.
"Baru kali ini Zen berani jatuh cinta pada seseorang. Tapi semua harus kandas tanpa kesalahan yang dibuatnya. Semalaman dia terus mengigau menyebut nama kamu. Badan nya sangat panas. Oom sangat khawatir sama Zen kalau penyakitnya yang dulu kambuh." papa Zen kembali melanjutkan bicara nya.
"Maaf kalau boleh tau, Zen dulu sakit apa Oom?" tanyaku penasaran.
"Dulu, sewaktu mama Zen meninggal, Zen sangat terpukul dan depresi. Kata dokter, otaknya sedikit bermasalah karena dia terlalu lama memendam rasa sedihnya. Dan ini berakibat buruk pada kesehatan Zen. Untuk itulah, setelah ibu kamu bekerja di rumah Oom, Zen jadi mulai bersemangat kembali melanjutkan hidupnya. Ibu kamu lah yang mengembalikan Zen seperti sekarang. Tapi kata dokter, otak Zen terlanjur kena imbas dari depresi nya. Jadi dia tidak boleh memikirkan sesuatu secara berlebihan."
Aku benar-benar terkejut mendengar cerita dari papa Zen. Aku tak menyangka bahwa Zen mempunyai banyak masa lalu kelam dalam hidupnya.
"Tolong May, jangan tinggalkan Zen." ucap papa Zen dengan memohon.
"Untuk itu, Mayang belum bisa memutuskan Oom. Sekarang kami mohon izin karena hari sudah mulai sore."
Akhirnya kami pun meminta izin untuk pulang.
Dalam perjalanan pulang, aku masih terus memikirkan ucapan papa Zen. Apa benar kalau Zen sakit separah itu.
__ADS_1
Tak terasa kami sampai dirumah. Aku langsung masuk dan berganti baju.
Setelah itu ikut membantu di warung.