Dibalik Awan Kelabu

Dibalik Awan Kelabu
19 Kios Makanan


__ADS_3

Bu Yasmin menginap di rumah Tante Mita selama satu Minggu. Selama itu pula, kami mencoba berbagai resep baru untuk menu cathering kami. Dan yang paling laris sekali adalah nasi gegog.


Nasi gegog adalah nasi yang sudah setengah matang di bungkus daun pisang dan di dalam nya diisa lauk berupa ayam atau tuna, atau juga jamur yang telah dimasak. Jadi istilahnya lauk nya ada di dalam nasi, dan kami menamai nya nasi gegog.


Lauk yang paling banyak dinikmati disini adalah dengan lauk ikan tuna. Selain bergizi, mungkin orang-orang sudah bosan kalau menu nya ayam melulu.


Dan hasil dari hasil penjualan dalam seminggu ini, kami bisa menyewa sebuah kios yang letak nya lebih strategis untuk usaha jualan.


Kios ini berada di sekitaran kos-kosan anak sekolah dan kuliahan. Jadi kios ini bisa sangat membantu mereka dalam urusan makan.


Karena kami menjual nya dengan harga Standart anak kosan.


Jika kami sekolah, kios itu nanti akan dijaga oleh Tante Mita, dan ketika kita sudah pulang sekolah, maka aku dan Bella yang akan meneruskannya.


Omset dari penjualan ini juga lumayan besar. Bella pun kini keluar dari pekerjaan nya dan memilih fokus pada usaha catering ini.


Kami juga bisa mempekerjakan beberapa pegawai untuk membantu di kios.


" May, besuk ada pesanan lima ratus box nasi dan kue. Kamu tidak lupa kan?" tanya Tante Mita malam ini sewaktu kita tengah membereskan kios


" Iya Tan. Mayang nggak lupa." jawabku sambil mengemas plastik.

__ADS_1


Begitu lah hari-hari kami, setiap hari ada saja pesanan dari pelanggan. Aku biasanya memasak nya pada jam 3 dini hari. Jadi nanti pagi atau siang nya tinggal memanasi atau langsung mengemas.


Bukannya apa-apa, kalau aku minta Tante Mita untuk masak, dia bilang tidak PD dalam meracik bumbu. Jadi semua aku yang menghandle. Hanya saja untuk urusan mengupas dan menyiangi bahan dan bumbu, itu tugas Tante Mita dan Bella.


Usai menyiapkan masakan, pagi nya aku tetap bisa bersekolah. Alhamdulillah, kegiatan sekolah ku tidak pernah terganggu. Malah kadang jika di sekolah ada acara, sekolah selalu memesan nasi dan Snack pada kami.


Begitu juga jika bapak atau ibu guru ada acara keluarga di rumah nya. Mereka akan memesan makanan pada kami.


Aku bersyukur sekali diberikan kemudaan dan rejeki yang cukup pada yang kuasa. Diberikan keluarga dan teman yang baik dan selalu saling sayang.


Di kios kami, kami juga masih menyediakan sayur dan lauk matang untuk para ibu-ibu yang tidak sempat memasak. Kami juga berencana membuka warung makan sesuai dengan usulan dari para pelanggan.


Bu Yasmin pun sangat bangga. Dia setiap hari pasti menelpon untuk menanyakan perkembangan usaha kami. Bahkan dia jadi tertarik untuk pindah ke kota dan meninggal kan pekerjaan mengajarnya. Namun aku menolak. Aku tidak mau kalau Bu Yasmin sampai meninggalkan pekerjaan itu.


Tapi dia juga takut kalau aku jadi betah tinggal disini dan lupa untuk pulang.


" May, kamu jadi ambil kios yang dikontrak kan sebelah jalan itu untuk membuka warung makan?" tanya Tante Mita.


" Bagaimana menurut Tante?" aku balik bertanya pada Tante Mita.


" Kalau menurut Tante sih jangan yang itu May. Itu kok kesan nya tempat nya kurang strategis deh. Disamping jalan situ kan juga sudah ada warung makan. Bukan nya apa-apa sih. Tante yakin kok kalau rejeki itu sudah ada yang ngatur, tapi takutnya nanti pemilik warung itu merasa kita menyaingi nya. Karena memang warung kita yang ramai." jelas Tante Mita.

__ADS_1


Iya juga sih sebenarnya. Kios yang di kontrakan itu adalah milik salah seorang pelanggan setia di warung kami. Jadi aku juga tak enak untuk menolak nya. Aku pun jadi bingung.


" Terus gimana dong Tan? Mayang juga nggak enak sih sama pemilik kios yang menyewakan itu. Karena kan dia pelanggan setia warung kita. Dan dia sendiri yang menawari nya. Malah kita di kasih diskon free satu tahun." terang ku balik.


Akhirnya kami pun saling terdiam memikirkan tentang kios tersebut.


" Mungkin kita butuh masukan dari Bella dan Bu Yasmin Tan. Siapa tahu saja mereka bisa kasih kita solusi." usulku


" Ya udah kita pulang yuk sekarang." Ajakku pada akhirnya.


Kita pun pulang dengan berjalan kaki, karena jarak kios dan rumah tidak lah begitu jauh. Rani pun bisa kapan saja menyusul kami jika dia sedang bosan dirumah.


Kadang dia juga ikut bantu-bantu di kios kami. Anak itu sungguh sangat lucu dan menggemaskan.


Dan sekarang, keluarga papa Rani tak pernah lagi menteror Tante Mita untuk meminta Rani padanya. Ternyata mereka melakukan itu agar Tante Mita bisa berusaha lebih baik lagi. Bahkan hubungan mereka sekarang tambah dekat.


Tak jarang mereka berkunjung ke warung atau kerumah untuk menjenguk Rani. Mereka juga sering membawakan oleh-oleh untuk Rani. Mulai dari peralatan sekolah, mainan juga baju-baju untuk Rani.


Tante Mita pernah meminta agar mereka jangan terlalu memanjakan Rani, tapi mereka bilang karena mereka sayang. Mereka belum di karunia anak. Itu juga salah satu alasan mengapa mereka meminta Rani waktu itu.


Tante Mita pernah mengusulkan agar mereka mengadopsi anak saja. Tapi mereka menolak. Mereka ingin punya anak yang ada hubungan darah dengan mereka. Kalau ikut program bayi tabung, mereka belum siap karena biaya nya pun juga tidak sedikit.

__ADS_1


Rani juga sering menginap disana. Kata Rani, disana Rani senang bisa minta apa saja. Namun ketika ditawari untuk tetap tinggal, Rani menolak dan tetap ingin bersama ibu nya.


'Ah Rani, cerdas sekali kamu Nak.' gumam ku geli melihat tingkah lakunya yang menggemaskan.


__ADS_2