
Sepulang dari sekolah, aku segera berganti baju. Hari ini Tante Mita izin mau mengunjungi saudaranya dan akan pulang sore atau malam hari. Jadi aku dirumah sendirian.
Selesai ganti baju, aku pun pergi ke kamar. Aku mencari surat yang Ali berikan padaku. Dia meminta ku agar aku membacanya ketika sudah sampai di kota.
*Dear Tuan Putriku
Saat kamu membaca surat ini, kamu sudah berada di tempat tinggal baru mu. Aku harap kamu betah dan bahagia disana.
Tuan Putri,
Aku minta maaf padamu karena kemarin aku tidak bisa mengantar keberangkatan mu. Aku terlalu takut.
Karena sebenarnya hati ini begitu berat melepas mu.
Ketika dirimu pergi, ada separuh jiwaku yang telah hilang.
Aku sangat kehilangan sosok penyemangat dalam hidupku.
Aku tak tahu, apa aku bisa melewati hari ku tanpa dirimu.
Karena aku begitu sangat membutuhkan mu.
Lupakan tentang aku.
Aku harap dirimu disana baik-baik saja dan selalu dalam kebahagiaan.
Semoga kamu bisa dapat sahabat pengganti ku.
Kalau boleh aku berharap, semoga sahabat mu itu perempuan, Karena jikalau sahabat mu laki-laki pasti aku akan cemburu.hehehe
Kamu harus selalu ingat pesan ayah kamu May, kamu harus semangat belajar dan melanjutkan hidup.
Aku yakin kelak kamu akan jadi orang yang sukses.
Dan jika itu terjadi, aku harap kamu tak pernah melupakan aku.
Orang yang begitu sayang pada mu.
Aku pasti akan sangat merindukan masa-masa indah yang kita lalui bersama.
Bercanda bersama, menghadapi susah dan senang bersama-sama.
__ADS_1
Aku rindu saat kita berjalan kaki sepulang sekolah.
Rindu saat kamu selalu setia menunggu ku di depan pintu gerbang dan membawakan bekal untukku.
Aku akan sangat rindu ketika kita bersama-sama membuat kerajinan di rumah ku.
Membayangkan dirimu pergi saja kepala ku sudah nyut-nyutan May.
Aku terlalu larut dalam perasaan.
Aku begitu takut jauh dari kamu.
May, aku akan slalu menjaga hati ku untukmu.
Aku sayang sama kamu Mayang, Tuan Putriku.
Jaga dirimu baik-baik ya my honey.
salam sayang
pangeran kodok*
Tanpa terasa air mataku menetes di pipi saat membaca surat ini.
Aku pun memeluk surat ini hingga terlelap.
****
Aku terbangun ketika waktu sholat Ashar.
Aku pun segera ke kamar mandi untuk mandi dan segera melakukan shalat.
Tampaknya Tante Mita belum pulang juga.
Setelah aku selesai melakukan shalat, aku menuju ke dapur.
Aku membuka kulkas. Aku akan menyiapkan makan malam untuk Tante Mita dan Rani.
Kali ini aku akan memasak sup telur.
Aku pun segera meracik bumbu dan menyiapkan sayur untuk aku masak.
__ADS_1
Setelah selesai masak, ku lihat jam sudah menunjukkan waktu sholat Maghrib.
Aku pun memutuskan untuk melakukan ibadah sholat Maghrib terlebih dahulu.
Usai sholat, terdengar pintu gerbang depan dibuka. Ku intip di balik jendela. Rupanya itu Tante Mita. Tapi dimanakah Rani?
Aku pun bergegas membuka pintu dan menyambut Tante Mita.
"Assalamualaikum May, maaf ya Tante perginya lama." sapa Tante Mita
"Wa'alaikum salam, iya Tante. Rani mana?"tanyaku pada Tante seraya mencium punggung tangan Tante Mita.
"Itu. Tadi Rani rewel ketika mau di ajak pulang . Karena disana banyak saudara-saudara yang seumuran nya. Jadilah dia minta izin nginep disana. Terus Tante pulang sendiri. Tante kepikiran kamu
Takutnya nanti kamu kalau Tante tinggal nginep disana nggak berani tidur sendirian lagi" terang Tante Mita sambil bercanda.
Seperti biasa, aku pun hanya tersenyum menanggapi candaan Tante Mita.
"Oh iya tante Mayang tadi sudah masak buat tante. Tante lapar kan?" kataku ketika kita berjalan masuk ke dalam rumah.
"Makasih ya May, kamu jadi kerepotan di rumah Tante."
"Nggak apa apa kok tan. Mayang kan suka masak. Lagian semua bahan juga sudah tersedia."jawabku.
"Ya sudah, Tante mandi dulu ya. Habis itu kita makan bareng nanti."kata Tante Mita sebelum dia masuk kamar mandi.
Aku menunggu nya beberapa saat. Setelah itu kami makan bersama.
"May, Tante mau minta pendapat kamu." kata Tante Mita membuka percakapan setelah kami terdiam saat makan.
"Iya Tante.." jawabku
"Sebenarnya,.. Rani itu mau diminta sama keluarga papa nya. Katanya biar Rani ikut sama mereka saja. Kalau ikut Tante, takutnya ga ke urus gitu. Tante bingung. Tante sebenernya nggak rela. Karena Tante juga tidak punya siapa-siapa lagi selain Rani. Tapi Tante takut kalau Rani tidak bisa bahagia sama Tante. Kamu kan tahu Tante ini hanya tukang jahit rumahan. Jadi mereka pikir Tante nggak bisa menyekolahkan Rani. Makanya Rani mau diminta sama mereka." Tante Mita bercerita panjang padaku. Ternyata di balik sifat santai nya, dia juga memendam masalah.
"Kalau menurut Mayang sih ya tan, lebih baik Rani ikut tinggal sama Tante. Karena biar bagaimanapun, Tante itu adalah ibu kandungnya. Biar pun mungkin hidup nya pas pasan, Mayang yakin Rani tetap pilih ikut Tante. Masa anak-anak Rani tak akan pernah bisa terulang Tan. Jangan sampai dia nanti jadi seperti Mayang. Yang tidak punya saudara kandung." kelasku pada Tante Mita.
Beliau hanya mengangguk angguk.
Aku membereskan ruang makan dan meminta Tante Mita untuk beristirahat. Kelihatannya dia begitu capek.
Aku pun pergi ke kamar.
__ADS_1
Aku masih teringat surat Ali. Aku membacanya sekali lagi hingga terlelap