Dibalik Awan Kelabu

Dibalik Awan Kelabu
21 Matematika


__ADS_3

Pagi ini aku telah bersiap untuk pergi ke sekolah. Aku pun berpamitan pada Tante Mita yang sedang menggoreng beberapa lauk untuk dagangan di kios.


" Tante, Mayang pamit dulu ya. Assalamualaikum." pamit ku sambil mencium tangan Tante Mita.


" Iya Mayang, hati-hati. Wa'alaikum salam."


Aku berjalan menyusuri gang, belok ke kiri dan sampai lah pada jalan besar.


Di pinggir jalan ini aku biasanya menunggu angkot lewat.


Setelah 5 menit menunggu, akhirnya angkot pun datang. Aku langsung naik ke dalam angkot. Disana sudah ada beberapa anak sekolah dan orang-orang yang akan pergi ke pasar.


Aku memilih berangkat agak pagi karena pada saat jam segini angkot belum terlalu sesak.


Kalau aku telat 10 menit saja, angkot sudah penuh penumpang dan bahkan nggak mau berhenti. Kalau pun berhenti, nanti juga akan berdesak-desakan di dalamnya.


Tak terasa angkot telah tiba di depan sekolah. Aku pun bergegas turun.


Aku berjalan pelan masuk ke dalam sekolah.


Tiba-tiba dari arah belakang ada yang menubruk ku. Kelihatan sekali dia baru saja berlari.


" Aduh May, aku panggil-panggil kamu kok kamu nggak denger sih." katanya sambil ngos-ngosan.


Ternyata Bella.


Sejak kapan dia jadi berangkat sepagi ini ke sekolah. Biasanya dia akan datang 5 menit sebelum gerbang di tutup.


" Eh tumben, jam segini udah datang." tanyaku.


" Yee.. sahabat nya sedang berusaha menjadi lebih baik untuk datang ke sekolah pagi malah di ledekin gitu." sungutnya kesal.


" Eeehh, bukan gitu Bel. Kan biasanya kamu tuh datang 5 menit sebelum pintu gerbang ditutup." balasku.


Kita berjalan menuju taman sekolah. Disana ada beberapa bangku untuk duduk-duduk.


" Heheh, aku semalaman mikirin Zen May. Duuuh, kayanya aku sedang jatuh cinta deh." katanya sambil memasang wajah sok gemas.


" Uuuhh, pantesan hari ini datang ke sekolah pagi-pagi sekali." ejek ku sambil menahan tawa.


" Eh Mau, bantuin aku jomblangin sama Zen dong. Bilangin gitu kalau aku tuh suka dia dan jatuh cinta padanya pada pandangan pertama." ucapnya sok puitis.


" Bukan cuma kamu aja kali Bel yang suka sama Zen." kataku


" Nha terus maksud kamu, kamu juga suka gitu sama Zen? Uh sok jual mahal banget. Kemarin aja di ajak pulang bareng gaya-gaya nggak mau. Padahal mah suka juga." jawabnya sebal.


" Bukan aku maksudnya Bel. Tapi temen-temen cewek di kelas itu juga pada godain Zen. Kalau aku mah bodo amat. Aku masih nggak mau mikirin soal cinta yaa. Aku mau fokus belajar dan berkarya. You know." elak ku keras.


" Nha gitu dong. Kalau kamu nggak suka kan peluang ku semakin besar. Jadi aku juga nggak perlu saingan sama kamu buat dapetin Zen." ucap nya sumringah.


Dia masih tersenyum-senyum sendiri memikirkan tentang Zen dan aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat nya.


****


Pelajaran Matematika adalah pelajaran pertama hari ini. Dan akan ada ulangan harian hari ini.


Aku sangat suka dengan pelajaran ini. Karena bagiku, menghitung dan mencari rumus adalah tantangan yang unik dan menarik.

__ADS_1


Berbeda dengan teman-teman yang lain


Mereka sangat benci pelajaran ini.


Sebenarnya kalau mereka santai dan tidak menjadikan beban, pelajaran ini sungguh menyenangkan.


" Hai May, ini buku nya. Terimakasih." ucap Zen.


Aku tidak menyadari panggilannya karena aku sibuk mengutak-atik rumus matematika ini.


" Eh iya, sama-sama. Gimana? Ada kesulitan nggak?" tanya ku.


" Nggak sih, eh belum Ding." jawab nya sambil nyengir kuda.


Aku hanya mengernyitkan dahi karena kebingungan. Lalu aku kembali ke soal matematika yang di berikan oleh Bu Sani.


Dia tampak celingukan, mau tanya nggak jadi. Mau tanya nggak jadi.


Aku pun jadi risih karena tingkahnya.


" Ada apa Zen?" tanya ku heran


" Aduh, aku bingung nih cara ngerjainnya gimana. Bisa bantu nggak? Mau tanya yang lain juga masih keki nih. Sungkan." jawab nya jujur.


" Oh ini, ini rumusnya sama seperti yang dipapan itu. Yang ini tinggal dipindah kesini setelah itu ditambah ini dan dikalikan yang ini." jelas ku.


Dia manggut-manggut. Entah lah dia paham atau enggak. Aku pun lanjut mengerjakan


15 menit berlalu, akhirnya aku telah selesai mengerjakan ke 10 soal itu. Aku mengumpulkan lembar jawaban itu ke depan dan kembali ke tempat duduk ku.


Ku lihat Zen memainkan bolpoin nya. Ku lirik lembar jawaban nya masih kosong. Aku hanya bisa menghela napas ringan.


30 menit berlalu.


Tapi dari teman-teman ku belum ada yang mengumpulkan lembar jawaban nya ke depan. Padahal sebentar lagi akan ganti jam pelajaran selanjutnya.


" Ayo anak-anak, waktu hampir habis. Sudah selesai apa belum mengerjakan nya?" tanya Bu Sani.


" Belum Bu," jawab mereka kompak.


" Ibu tunggu 5 menit lagi ya." tambahnya.


5 menit pun berlalu, namun mereka belum juga maju ke depan kelas.


" Mayang tolong bantu ambilkan lembar jawaban teman-teman kamu dan bawa kesini." perintah Bu Sani.


" Baik Bu." jawab ku.


Aku pun berdiri dan mengambil satu persatu kertas lembar jawaban dari teman-teman ku.


Kebanyakan dari mereka memang belum selesai mengerjakan soal nya. Bahkan punya Zen masih terlihat bersih. Belum ada coretan sama sekali.


' Ini anak apa aja sih yang dilakukan. Niat sekolah nggak sih?' pikirku dalam hati.


Dia hanya nyengir aja waktu ku ambil kertas lembar jawaban nya.


" Ini Bu."

__ADS_1


Aku pun kembali ke tempat duduk.


" Anak-anak, sebenarnya matematika itu tidak susah jika kalian tidak menganggapnya sebagai beban. Coba lihat Mayang. Dalam waktu 15 menit dia sudah selesai mengerjakan semua soal dan jawaban nya benar semua. Nha kalian yang terlalu stres, waktu 45 pun masih kurang. Bahkan ada yang lembar jawaban nya masih bersih. Mungkin dia sayang mau mencorat-coret nya." terang Bu Sani panjang lebar.


" Ya sudah, ibu akhiri dulu pertemuan kita. Selamat siang."


"Siang Bu" jawab kami serentak.


Usai Bu Sani meninggalkan kelas, Zen bicara pada ku.


" Hebat banget sih kamu. Ngerjain matematika nya kaya ngerjain kaya punya anak SD." pujinya.


" Ya seperti yang Bu Sani bilang tadi, kalau kita tidak menjadikan nya beban. Maka rumus itu ngalir gitu aja. Makanya kamu jangan stres kalau menghadapi matematika. Jadikan dia sebagai teman, agar dia juga dekat dengan mu." terang ku.


" Eh nanti pulang sekolah ajarin matematika dong May." pintanya.


" Tapi aku nggak bisa Zen. Aku harus menjaga warung. Aku ini kalau pulang sekolah harus kerja. Aku harus nabung buat nanti kuliah." jawabku.


" Gimana kalau nanti kita belajar nya sambil nungguin warung kamu." Zen berusaha menego.


" Nggak bisa Zen, warung ku pasti ramai karena bertepatan dengan jam makan siang orang-orang kantor." tolakku.


Sebenarnya bisa saja sih aku mengajarinya, tapi aku nggak mau terlalu dekat dengannya. Aku nggak mau menyakiti hati Bella. Karena baru pagi tadi Bella bilang suka pada Zen.


" Yeaah, kapan dong bisa nya?" dia tampak begitu kecewa


" Teman-teman pak Dodik hari ini tidak masuk. Beliau meminta kita merangkum buku bab 8 dan dikumpulkan nanti siang."


Toni, sang ketua kelas memberikan pengumuman pada kami.


Aku pun segera mengeluarkan buku dan mulai menulis.


Sepanjang kegiatan menulis, Zen tak henti-hentinya mengajak ku bicara. Mulai dari cerita tentang dia dan dia tanya-tanya tentang aku.


'Kepo sekali sih' pikirku


15 menit aku sudah menyelesaikan tugasku. Lalu aku memberikannya pada Toni agar nanti bisa dikumpulkan.


" Ceper banget sih May nulisnya." kata Zen heran


" Makanya kalau nulis itu jangan sambil bicara. Jadi nggak selesai-selesai kan?" jawabku kesal.


" Nha kan kamu sudah selesai nulis. Kamu mau kan mengajari ku matematika?" tanya nya lagi


Akhirnya aku pun mengalah dan mengajari nya rumus matematika.


****


Seperti biasa aku dan Bella pulang sekolah naik angkot. Saat ini kami sedang menunggu angkot lewat.


Lagi-lagi sebuah mobil sedan berhenti di hadapan kami.


" Ayo May, barengan sini." ajak nya.


" Makasih Zen, aku naik angkot aja." tolak ku


Dan tak berapa lama angkot pun datang. Kami pun segera naik. Dia hanya terbengong menatap kepergian kami.

__ADS_1


__ADS_2