
Aku sangat bersyukur kepada Tuhan atas segala Rizki dan nikmat yang Tuhan beri.
Mulai dari kesehatan, kelancaran usaha, serta teman dan keluarga yang saling menyayangi.
Rasanya hidupku ini sungguh sangat membahagiakan. Aku sangat sangat bahagia.
Dulu, aku sempat terluka ketika ibu pergi meninggalkan ku dan ayah.
Dulu aku sempat sedih ketika ayah pergi meninggalkan ku untuk selama-lama nya.
Namun, aku selalu ingat pesan ayah. Bahwa setiap yang datang pasti akan pergi. Setiap yang terjadi pasti ada yang mengaturnya.
Karenanya setelah mendengar nasehat ayah, aku selalu menyerahkan semua nya pada Allah. Aku akan tetap berusaha dan berdoa, namun untuk hasil, aku serahkan pada sang Pencipta.
***
Pagi ini, seperti biasa, aku menyiapkan bumbu dan peralatan untuk keperluan warung.
Aku meracik bumbu-bumbu yang nanti akan dimasak oleh Tante Mita.
Hari ini pesanan nasi kotak dan kue juga lumayan banyak.
Oleh karena itu, beberapa pegawai datang pagi-pagi ke warung.
Mereka telah menyiapkan segalanya.
Kerja tim kami sangat bagus. Kami saling bantu membantu jika ada yang memerlukan bantuan.
Pukul 06.30
Aku bersiap untuk pergi ke sekolah.
Aku berjalan menuju gang untuk menunggu angkot.
Aku berjalan sedikit tergesa karena takut ketinggalan angkot.
Dan benar saja.
Baru juga keluar dari gapura gang, angkot itu sudah berjalan. Aku berteriak dan memanggilnya. Namun pak sopir tidak dengar.
" Yah, telat deh. Kalau aku nunggu angkot datang lagi, pasti nanti sudah sesak dengan penumpang dan anak-anak sekolah" aku bergumam pelan.
Aku pun berjalan menuju tempat pangkalan ojek. Baru beberapa melangkah, ku dengar ada seseorang yang memanggil ku dari belakang. Aku pun berhenti dan menoleh.
Aku terkejut dibuatnya.
Ada sebuah mobil berhenti dibelakang ku.
Kemudian sang pengemudi turun dan berjalan ke arah ku.
" Ayo bareng aku aja May." sapa lelaki itu.
Ya. Dia adalah Zen.
Sejak kapan dia tau aku biasa nunggu angkot disini, dan sejak kapan dia tau rumah Tante Mita.
" Ayolah, daripada nanti telat. Hari ini di jam pertama kita ada ulangan Fisika loh. Kamu nggak mau telat kan?" Zen membujuk ku
Ku fikir dia benar juga. Hari ini ada ulangan fisika dan di jam pertama, kalau aku nunggu angkot, angkot itu akan ada 15 menit lagi. Kalau aku naik ojek, untuk sampai pangkalan aku juga harus berjalan agak jauh. Aku bimbang.
Tiba-tiba saja dia menarik lengan tanganku dan menuntunnya masuk ke mobil.
Aku yang sedang bingung menurut saja tanpa mencegah
Dia membuka kan pintu mobil dan mempersilahkan duduk. Aku pun menuruti nya seperti anak kecil yang menurut perintah orang tua.
Aku benar-benar diam mematung seperti boneka.
Setelah itu, dia pun duduk disamping ku
Dia menatapku bingung. Lalu dia menggerak-gerakkan tangannya di hadapan ku.
" Hallo May, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Zen sambil mengernyitkan dahi.
Aku yang sudah tersadar, menundukkan kepala dan bersikap salah tingkah
" Eh aku turun aja. Biar aku naik angkot." jawabku pada Zen.
" Kamu mau nanti telat saat ulangan fisika May?" tanya memastikan.
Akhirnya aku pun mengurungkan niat ku untuk turun.
Zen benar. Kalau aku turun, aku pasti telat ke sekolahnya.
" Ya sudah. berangkat yuk. Biar kita bisa segera sampai sekolah." ujar nya.
Sepanjang perjalanan kami terdiam
Kami sibuk dengan pikiran masing-masing.
Zen pun memilih diam.
Karena dia tampaknya bingung mau bertanya apa pada ku.
10 menit berlalu.
Sampai lah kita di sekolah.
Begitu aku turun dari mobil Zen, tampak semua mata memandang ke arah ku.
Ada tatapan sinis dan tak suka.
Ada yang berbisik-bisik.
Aku tahu mereka yang nggak suka adalah mereka yang nge-fans sama Zen.
__ADS_1
Saat ini, Zen memang menjadi idola sekolah.
Selain dia ganteng, dia juga kaya.
Pantaslah jika mereka semua ingin dekat dengan Zen.
Entah mengapa, aku tidak tertarik untuk memikirkan hal itu.
Kami pun berjalan bersama menyusuri lorong kelas menuju ruangan kelas kami.
Mata-mata tajam itu tak berhenti melirikku kasar.
" May? Kalian bareng? Katanya nggak suka sama Zen. Tapi tetep mau juga kan?" aku diberondong pertanyaan oleh Bella.
" Engga Bell, tadi tuuhh...."
" Udah lah May,."
Belum sempat aku menjawab pertanyaan Bella, tapi dia sudah pergi meninggalkan ku sendirian di tengah kebingungan.
Zen kembali muncul.
" Ada apa May? Kenapa nggak masuk kelas?" tanya Zen padaku.
Tadi sewaktu melewati di depan ruang guru, dia dipanggil oleh seorang guru untuk membantu mengangkat memindahkan meja.
"Hallo May.. Kenapa sih?" tanya nya berulang.
Aku tersadar.
" Oh nggak apa-apa kok Zen. Iya ini mau masuk." jawabku seadanya.
***
Hari ini, semua soal ulangan terasa sangat sulit. Biasanya paling lama 20 menit aku telah selesai mengerjakannya.
Tapi waktu 45 menit berlalu namun belum selesai juga.
Fikiranku sangat rancau.
Aku kepikiran Bella.
Pasti dia marah pada ku gara-gara tadi aku berangkat bareng Zen.
Seharusnya tadi aku menolak saja tawaran Zen untuk ke sekolah bareng.
" Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?" tanya ku dalam hati.
______________________
Jam sekolah pun telah usai.
Aku ingin segera bertemu dengan Bella.
Aku ingin menjelaskan pada nya.
Namun ketika aku masuk ke dalam kelas, tak ku jumpai orang yang aku cari.
Aku mengernyitkan dahi bingung.
Kemanakah Bella?
Aku pun bertanya pada salah seorang teman Bella. Dia bilang kalau hari ini Bella izin tidak masuk sekolah.
Aku pun mengambil hp yang ada di dalam tas.
Kuhubungi no nya. Tapi tidak aktif.
Aku telp ibunya tapi katanya Bella belum pulang.
'Ya ampun Bell, kamu kemana sih?'
Aku pun memutuskan untuk langsung pergi ke warung.
Aku yakin pasti Bella ada disana.
Sebelum aku sampai di depan pintu gerbang, Zen memegang lengan ku dan menarik nya pelan.
" Biar aku antar pulang aja May. Kamu kayanya lagi kurang sehat."
" Nggak usah." Aku melemparkan tanganku kasar.
Melihat Zen rasanya aku kesal sekali.
Gara-gara dia Bella jadi pergi dan marah pada ku.
Aku pun berlari tanpa tujuan.
Daan tiba-tiba... Pandangan ku gelap.
****
Aku tersadar.
Rasanya badan ini terasa sakit semua. Kepala ku juga berat rasanya.
Aku pun membuka mata pelan.
Kulihat ada Zen disamping ku. Dia tertidur. Dia juga masih memakai seragam sekolahnya.
Aku mengedarkan pandangan di sekeliling.
Semua serba putih. Ini pasti rumah sakit.
Aku mencoba mengingat yang terjadi.
__ADS_1
Dan Ya.
Tadi sewaktu aku berlari, ada sebuah motor yang berjalan lumayan kencang dari belakang ku. Dan setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi.
Aku menggerakkan tangan ku. Kemudian Zen terbangun.
Rupanya tangan ku sejak tadi di genggam nya. Jadi ketika tangan ku ku tarik, dia tersadar dari tidur nya.
" Kamu sudah sadar May?" tanya nya sambil tersenyum.
Aku hanya mengangguk pelan untuk menjawab pertanyaan nya.
" Mau minum? Atau kamu lapar?" tanya Zen penuh perhatian.
Aku menggeleng lemah.
" Aku kenapa?" tanyaku akhirnya.
" Tadi sewaktu kamu berlari, ada sebuah motor di belakang kamu yang sedang melaju cukup kencang Mau, dan kamu akhirnya keserempet. Kata dokter kamu hanya syok aja. Ada sedikit luka di kening kamu akibat benturan itu. Dan untuk yang lainnya semua aman." terang Zen padaku.
" Apa kamu sudah menghubungi Tante Mita?" tanya ku lagi.
" Sudah. Tapi katanya tadi masih menyelesaikan pesanan yang terlanjur diterima. Jadi dia memintaku untuk menjagamu disini." Jawabnya sambil tersenyum manis. Sangat manis.
" Bella. Ada dimana Bella?" tanya ku.
Dia hanya mengedikkan bahu yang artinya tidak tahu.
" Bella marah pada ku." ucap ku pada Zen
" Kenapa?" tanyanya.
" Karena kamu." jawabku jutek. Aku kembali membencinya. Padahal sejak tadi dia menunggui ku disini. Bahkan dia belum pulang sama sekali.
Sungguh sangat egois memang.
Tapi aku tidak mau kehilangan sahabat ku lagi.
" Baiklah, jika aku ada hanya merusak persahabatan kalian, aku akan pergi."
dia pun beranjak dari tempat duduk nya, mengambil tas dan keluar dari kamar.
Aku pun menangis sedih.
Sebenarnya aku mulai ada rasa sama Zen. Tapi aku tidak mau melukai Bella.
' Maafin aku Zen.' ucapku lirih
Tak lama setelah Zen pergi, pintu kamar ku di buka. Aku yang baru saja menangis memilih memejamkan mata pura-pura tidur.
Orang itu kembali menutup pintu pelan.
Aku tidak berani membuka mata. Tapi aku juga penasaran siapa sih yang masuk ke kamar ku ini.
Kurasakan ada belaian lembut yang mengusap pelan rambutku. Lalu dia mengecup keningku.
" Alhamdulillah kamu tidak apa-apa May. Kalau sampai kamu kenapa-napa aku harus bilang apa sama ibumu?"
Ternyata itu suara Tante Mita.
Dia datang menjenggukku.
Ingin sekali aku membuka mata dan memeluk nya. Tapi aku takut kalau nanti dia tau aku baru saja menangis.
Namun rasa gelisah dihatiku sangat kuat.
Aku pun membuka mata dan memeluknya erat. Aku terisak dalam pelukannya.
" Kamu sudah sadar May? Ada yang sakit kah?" tanya Tante Mita setelah aku melepaskan pelukanku.
Aku menggelengkan kepala pelan.
" Kamu kenapa menangis sayang?" tanya nya lagi.
" Crita dong sama Tante."
" Tante, Tante pernah nggak jatuh cinta?" tanya ku saat itu. Akhirnya aku memulai mencurahkan isi hati ku pada Tante.
" mmmmhhh, pernah." jawab Tante Mita singkat namun disertai senyum penuh arti
Aku pun jadi salah tingkah dibuat nya. Aku malu.
" Kamu sedang jatuh cinta ya?" tanya Tante Mita.
" sama Zen?" imbuhnya lagi
Mendengar namanya hati ku bergetar. Ada rasa aneh di dalam nya. Tapiii..
Setelah tersenyum, aku memasang muka masam.
" Lhoh? jatuh cinta kok mukanya sedih gitu sih?" tanya Tante Mita.
" Tan, Aku mau cerita. Tapi Tante janji jangan cerita sama siapa pun yaa." pintaku pada Tante Mita.
" Iya Tante janji." jawab Tante Mita sembari membetulkan posisi duduknya.
" Kalau harus pilih antara cinta dan sahabat. Kira-kira Tante pilih mana?" tanya ku lada Tante Mita.
Tante membelalakkan mata kebingungan.
Dia terdiam, tampak nya sedang menimang-nimang jawaban apa yang akan di beri kan untuk ku.
" Cinta itu datang dan pergi sesuka hatinya sayang. Tapi kalau sahabat, dia akan selalu ada buat kamu. Sahabat itu adalah cinta sejati yang sebenar-benarnya. Dialah cinta yang tak pernah pergi. Cinta yang tulus. yang datang dari hati."
Nasehat Tante Mita membuat ku lebih tenang.
__ADS_1
Ya, aku tidak salah pilih. Aku lebih memilih sahabatku daripada cintaku yang baru datang beberapa saat. Aku lebih mengutamakan sahabat ku yang telah sekian tahun menemani.
' Sahabat maafkan aku' gumamku dalam hati