Dibalik Awan Kelabu

Dibalik Awan Kelabu
42 Teman Baru


__ADS_3

Pagi ini aku sudah selesai menyiapkan segala keperluan yang akan aku bawa selama seminggu mengikuti olimpiade di luar kota.


Semua administrasi dari sekolah juga telah disiapkan oleh pihak sekolah.


Aku juga sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang.


Hari ini, aku akan dijemput oleh mobil sekolah yang akan membawaku dan Bu Retno, guru pendamping ku, menuju luar kota.


Perjalanan dari kotaku ke kota yang dituju kurang lebih 5 jam an dengan mobil pribadi. Kalau naik kendaraan umum tentu waktu yang ditempuh akan semakin lama karena harus berganti-ganti kendaraan.


Pukul 08.00 tepat, mobil jemputan telah sampai. Didalam nya sudah ada Bu Retno.


Aku pun meminta izin pada Bu Yasmin dan Tante Mita. Aku memeluk mereka dan minta doa restunya.


Usai berpamitan, aku segera masuk ke dalam mobil. Mobil pun segera berangkat meninggalkan halaman rumah Tante Mita.


Dalam perjalanan, Bu Retno menyuruhku untuk beristirahat agar aku tidak kelelahan nantinya.


Akupun memilih menyandarkan kepalaku ke bangku belakang mobil. Memejamkan mata yang memang tak mau terpejam.


Dalam diam, aku melihat bayangan Zen.


Usai menengoknya kemarin, aku tidak tahu lagi bagaimana kabarnya.


Aku memang sengaja sedikit menjauh agar Zen juga bisa melupakanku. Aku tidak mau dia terus-terusan mengharapkan aku.


Aku juga melihat bayangan Ali.


Lelaki yang beberapa waktu yang lalu menyatakan perasaan nya padaku.


Lelaki yang aku sayangi. Sahabat yang sangat mengerti.


Aku tahu dia terluka karena aku ternyata telah menerima cinta orang lain. Tapi, aku juga tidak bisa membohongi hatiku bahwa aku memang mencintai Zen.


Semua bayangan-bayangan itu muncul dan menari-nari dalam otakku.


Aku jadi gelisah dibuatnya.


'Ya Allah, tolong aku menyelesaikan semuanya. Semoga aku tidak salah dalam mengambil keputusan.' doa ku dalam hati.


Tak terasa mataku pun mulai terlelap.


***


Aku membuka mata ketika Bu Retno mengusap pelan tubuhku.


"May kita sudah sampai. Ayo bangun."


ucap Bu Retno.


"Eh Oh iya Bu" jawabku sambil membuka mata. Merapikan rambut dan bergegas turun dari mobil.


Ternyata kita sudah sampai di sebuah wisma yang menjadi tempat dimana olimpiade ini diadakan.


Alasan panitia memilih wisma ini karena disini sudah ada tempat untuk menginap dan ada sebuah aula yang cukup besar untuk menampung peserta lomba.


Aku pun berjalan mengikuti Bu Retno masuk kedalam area wisma. Kami berhenti di lobi bawah untuk check in peserta. Rupanya sudah banyak yang datang dan beberapa sudah ada yang mulai masuk ke dalam kamar masing-masing.


Selesai check in, kami pun mencari kamar sesuai no yang diberikan oleh petugas wisma. Satu kamar terdiri dari dua sekolah, yaitu 4 orang. Satu peserta dan satu pendamping.


Kebetulan saat ini di dalam kamar yang akan kami tempati belum ada peserta lain yang masuk. Kami pun beristirahat dulu di dalam kamar.


Acara pembukaan akan dilakukan nanti malam selepas sholat Maghrib.

__ADS_1


Masih ada waktu 4 jam untuk kami beristirahat sembari mempersiapkan diri untuk lomba esuk hari.


"Kamu bersih-bersih dulu gih May, setelah itu baru istirahat." perintah Bu Retno padaku. Beliau merapikan sebuah lemari kecil untuk tempat beberapa bajunya.


"Baik Bu."


Aku pun segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Siraman dari air mengalir ini begitu segar menyejukkan tubuh.


Membuat fikiran dan tubuh ini kembali bersemangat.


Tak berapa lama aku pun selesai dan keluar dari kamar mandi.


Kulihat Bu Retno pun bersiap akan membersihkan diri juga.


Sembari menunggu Bu Retno mandi, aku pun membaca-baca buku panduan yang akan digunakan untuk olimpiade besuk.


Setiap harinya, olimpiade ini dilakukan mulai pukul 8 pagi sampai jam 2 siang. Selebihnya kami diizinkan untuk beristirahat.


Malamnya, akan diadakan workshop dalam pembelajaran lain untuk mengisi waktu kosong.


Pada acara workshop ini, akan dihadiri oleh dosen dari beberapa kampus ternama.


Ada juga pelatihan kursus untuk bisa masuk ke universitas luar negeri.


Ketika aku sedang asyik membaca, ada suara orang tengah mengetuk pintu.


tok tok tok


"Permisi..."


Aku berdiri dan membukakan pintu.


Tampak dua orang dengan membawa tas dan ransel di balik pintu.


"Iya bu. Benar. Apakah ibu dan mbak ini berada di kamar ini juga?" kataku pada ibu itu


"Iya nak. Kami baru datang karena tadi ada bis yang mogok." jelas ibu itu padaku.


"Oh mari silakan masuk Bu. Biar saya bantu bawakan tasnya." izinku pada seorang ibu itu.


Tampak mereka sangat lelah sekali.


Setelah membawakan tas mereka masuk, aku kembali menutup pintu dan kembali ke ranjang ku.


Disini ada 4 ranjang kecil yang akan kami gunakan untuk tidur nantinya.


"Ibu kelihatan sangat lelah. Kalau boleh tau ibu berasal dari sekolah mana ya?" sapaku pada ibu dan gadis itu.


"Iya Nak, padahal kami tadi sudah berangkat dari pagi-pagi sekali. Tapi kami harus berebut bis dan beberapa angkot, makanya kami datang terlambat. Kami dari SMA Diponegoro. SMA swasta yang ada di salah satu kabupaten Tulungagung Nak. Kalau kamu darimana?"


"Saya dari SMA Negeri 48 Jakarta Bu." jawabku dengan tersenyum.


"Oh iya, nama kamu siapa? Perkenalkan nama ibu Saudah dan ini anak ibu, Aini."


"Nama saya Mayang Bu. Salam kenal dari saya ya. Oh iya, berarti ibu ini guru pendamping sekaligus ibu dari Aini ya Bu?" tanyaku pada Bu Saudah.


"Iya Nak Mayang. Ibu ini bekerja sebagai guru honorer di sekolah Aini. Ibu sudah mengabdi 20 tahun di sekolah, tapi ya belum rejeki. Sampai sekarang belum ada angkatan untuk jadi ASN untuk ibu." jelas Bu Saudah sambil tertawa ringan.


Aku pun membalas dengan senyuman simpul.


"Oh iya, kamu sendiri?" tanya beliau lagi.

__ADS_1


"Tidak Bu. Saya bersama guru pendamping juga. Tapi beliau masih mandi." jawabku.


Tak lama kemudian Bu Retno pun selesai mandi lalu mereka bersalaman dan saling memperkenalkan diri.


***


Pukul 18.00


Saat ini kami tengah menikmati menu makan malam di sebuah resto kecil milik wisma.


Kami berempat memilih tempat duduk di sebuah sudut pinggir kolam renang. Disini suasananya lebih sejuk karena angin bisa leluasa masuk dari arah luar.


Kami pun membawa piring yang telah diisi dengan nasi dan teman-temannya.


Kami menikmati makan malam ini dengan bersendau gurau ringan.


Dan tak terasa panitia memanggil kami semua untuk segera masuk aula untuk mengikuti acara pembukaan.


Kami duduk di deretan bangku tengah agak depan. Karena bangku depan sudah diisi oleh peserta lain.


Acara pembukaan ini tidak berlangsung lama.


Panitia mengucapkan selamat datang pada kami, dan menjelaskan tentang beberapa aturan dan jadwal pelaksanaan olimpiade esuk hari.


Para panitia juga membagikan sebuah catatan kecil yang berisi jadwal serta materi untuk pembelajaran besuk.


Setelah itu, kami semua diizinkan untuk beristirahat. Mengingat dari kami ada beberapa peserta yang baru saja datang.


Sesampainya di kamar, Bu Saudah dan Bu Retno memutuskan untuk segera tidur. Sedangkan aku dan Aini memilih duduk di balkon luar kamar.


Kami bercerita tentang sekolah kami.


Aini bercerita kalau ayahnya sudah lama meninggal. Dia hanya hidup berdua dengan ibunya.


Selama ini, ibunya berjuang keras untuk sekolahnya. Ibunya ingin Aini bisa melanjutkan sekolah dan bisa menjadi orang sukses.


Awalnya, kepala sekolah di tempat sekolah Aini tidak menyetujui kalau ia mengikuti olimpiade ini. Bukan karena Aini tidak pandai, tapi karena jarak dari kotanya ke Bogor itu tidaklah dekat. Belum lagi biaya diperjalanan yang tidak sedikit. Itulah alasan kenapa kepala sekolah Aini awalnya melarang. Namun, ibu Aini meyakinkan kepala sekolah bahwa mereka akan menggunakan biaya mandiri untuk transport dan akomodasi lainnya. Akhirnya kepala sekolah itupun setuju dan memberikan sedikit bantuan untuk biaya perjalanan.


Aini bercerita sambil sedikit terisak. Aku sangat kagum pada Bu Saudah. Beliau sangat memperjuangkan pendidikan untuk anak semata wayangnya. Beliau semangat sekali dalam mengejar pendidikan.


Aku memeluk Aini. Memberikan semangat kepada nya.


"Kamu beruntung punya ibu yang sangat sayang kepada mu Ai." ucapku pada Aini.


Ah, aku jadi iri sama Aini. Aku bahkan pernah ditinggal pergi oleh ibu kandungku.


Membiarkan aku menjalani kerasnya kehidupan ini sendirian.


Tapi ya sudahlah. Tak ada gunanya aku terus-terusan mengingat semua nya. Itu hanya akan membuat aku semakin dan semakin sakit.


Aku mengajak Aini untuk beristirahat agar besuk kita bisa lebih semangat lagi menjalani olimpiade ini.


______________


Hallo-hallo pembaca setia Mayang.


Maaf yaa lama nggak upload. Soalnya kemaren lagi sibuk mempersiapkan bulan puasa ini.


Oh iya, author ucapin selamat menunaikan ibadah puasa yesss bagi kalian yang menjalankan. Maaf juga telat ngucapin nya. hehehe


Terimakasih karena kalian udah setia menunggu update verita dari Mayang.


Kritik dan sarannya author tunggu ya.

__ADS_1


salam sayang


dari author yang kece badai. 🤭


__ADS_2