Dibalik Awan Kelabu

Dibalik Awan Kelabu
10 Teman Rasa Keluarga


__ADS_3

Semenjak saat itu, jika ada waktu luang, aku pasti ke tempat Ali untu membantunya membuat kerajinan dari tanah liat itu. Sekarang disana tidak hanya menjual macam-macam alat dapur saja. Tapi aku menambahya dengan aneka vas bunga, celengan, bahkan hiasan meja yang telah di bentuk cantik dan di cat warna-warni.


Tak terasa masa-masa disekolah Menengah pertama ini hampir usai. Dua bulan lagi kami akan melaksanakan ujian akhir. Masa-maa penantian menyambut kelulusan sebentar lagi tiba. Bu Yasmin memintaku agar lebih banyak belajar. Pesanan kue pun sekarang di handle oleh Bu Yasmin. Aku sangat beruntung bisa memiliki ibu seperti Bu Yasmin. Meskipun aku bukan anak kandungnya, tapi beliau begitu menyayangi ku.


Malam ini, usai makan malam, aku dan Bu Yasmin sedang duduk-duduk di ruangan tengah.


"Setelah ini kamu mau lanjutin sekolah dimana May?" tanya Bu Yasmin memulai obrolan.


"Mayang bingung Bu. Sekolah Negeri disini hanya ada di kota. Kalau Mayang bersekolah disana dan pulang pergi pasti akan membutuhkan waktu yang lama karena jaraknya jauh. Tapi kalau Mayang harus kos, Mayang nggak tega ninggalin ibu sendiri." jawabku


Bu Yasmin hanya tersenyum mendengar jawabanku.


Ya, aku memang sedang bimbang dengan keputusanku untuk memutuskan sekolah dimana. Sebenarnya, dalam hati ku, aku ingin bisa bersekolah di sekolah Negeri yang ada di kota. Tapi aku juga tidak bisa meninggalkan bu yasmin sendiri disini.


"Kalau kamu mau bersekolah di kota nggak apa apa sayang. Ibu nggak apa apa kok sendiri. Kan kamu bisa pulang tiap bulan, atau tiap minggu. Atau kalau Ibu kangen ibu akan pergi ke kota untuk mengunjungi mu.. bagaimana?" tawar bu Yasmin.


Aku masih diam dan berfikir. Mungkin memang tidak ada salahnya mencoba. Siapa tahu nanti Ali juga akan melanjutkan ke Sekolah Negeri dengan beasiswanya dan kami bisa bareng lagi. Jadi kan aku tidak sendiri.


Aku pun tersenyum membayangkan hal itu.


"Baik Bu. Terima kasih yaa Ibu sangat baik sekali pada Mayang. Mayang sayang Ibu." kataku sambil memeluk bu Yasmin.


__________________________________________


Pagi ini, seperti biasa aku menunggu Ali, sang pangeran kodok ku, di depan pintu masuk sekolah.


"Selamat pagi tuan putri ku" sapa Ali

__ADS_1


"Pagi juga pangeran kodok ku" jawabku


Yaa, sebutan itu adalah panggilan kami sehari-hari. Kami begitu sangat dekat.


"Al, sebentar lagi kan kita akan lulus, kamu jadi lanjut sekolah dimana?" tanya ku sambil berjalan ke kelas


Dia terdiam dan menghentikan langkah nya. Dia menatapku. Aku pun mengernyitkan dahi tak mengerti


"Kok diem?" tanyaku penasaran


Dia tersenyum. Terlihat lesung pipit kecilnya di pipi itu. Senyum yang sangat manis.


"Aku belum tahu May." jawabnya singkat.


"Apa kamu tak ingin sekolah di Negeri dengan beasiswa seperti cita-cita kamu?" tabya ku lagi.


"Tapi??"


"Tapi aku tidak bisa May?"


"Kenapa?" tanyaku semakin penasaran


"Kalau aku pergi,siapa nanti yang akan bantuin bapak? Aku pun juga tidak bisa meninggalkan bapak sendiri walau sebenarnya bapak pun ingin aku melanjutkan sekolah ke sekolah Negeri, tapiĀ  aku tidak tega melihatnya terus bekerja keras. Apalagi Akbar juga masih sangat membutuhkan biaya untuk sekolahnya May. Mungkin aku tidak akan melanjutkan sekolah setelah ini."


"Ya jangan dong Al. Meskipun tidak bersekolah di sekolah Negeri pun kamu kan bisa melanjutkan sekolah disini. Dan nanti pulang sekolah pun kamu masih tetap bisa bantuin bapak kamu. Yaa sama seperti sekarang ini."


Aku menarik napas dalam.

__ADS_1


"Sebenarnya aku sangat berharap kita bisa belajar bareng terus Al, Bisa bersekolah di sekolah yang sama terus. Tapi kalau keadaan kamu begini, Aku maklum kok. Tapi aku berpesan, jangan sampai putus sekolah. Jangan sampai kamu berhenti untuk masa depan kamu."


Kami pun terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga kami pun tiba di depan kelas.


Dia berhenti.


"Kenapa? Ayo masuk." ajakku


Dia hanya mengangguk pelan dan berjalan mengikuti ku


*****


Sepanjang jam belajar, kami saling diam. Aku sibuk dengan pikiranku sendiri. Begitu pun Ali.


Rasanya aku ingin menangis. sedih sih, tidak bisa bersekolah bersama lagi. Tapi aku paham keadaan Ali. Jadi aku memakluminya.


Pada saat pulang sekolah, Kami berjalan bersama.


"May,.." panggilnya


Aku menghentikan langkahku dan menatapnya.


"Kalau nanti kamu jadi bersekolah di kota dan aku disini, apa kamu akan lupa dengan ku? dengan pangeran kodok mu ini?" tanyanya dengan khas banyolannya.


"Ya tentu tidak dong pangeran kodok ku." jawabku sambil mencubit hidung bangirnya.


Kita pun melanjutkan perjalanan pulang.

__ADS_1


Ada banyak canda dan tawa selama perjalanan ini. Dan aku pun bahagia bisa seperti ini


__ADS_2