Dibalik Awan Kelabu

Dibalik Awan Kelabu
30 Kembali ke Sekolah


__ADS_3

Dua Minggu sudah hari libur akhir semester genap telah terlewati.


Kini saat nya kembali masuk sekolah.


Hari ini adalah awal aku memasuki kelas XII SMA. Dimana pada tahun ajaran ini aku harus belajar lebih ekstra agar bisa dapat nilai yang bagus dan bisa melanjutkan pendidikan ke PTN ( Perguruan Tinggi Negeri )


Selama dua Minggu pula aku melarang Zen untuk menemui ku. Aku ingin dia bisa sabar menahan rasa rindu nya


Setiap malam kami selalu ngobrol lewat telp.


Hari pertama, kedua, ketiga, dia selalu merengek minta ketemu. Tapi aku selalu meyakinkan dia bahwa dia bisa menahan ujian cinta ini. Dan dia pun menurut.


Kadang aku tertawa geli melihat sikap nya yang seperti anak kecil ditinggal ibu nya pergi.


Tapi kadang kasiha juga mendengar nya memelas jika sedang di telepon.


' Zen Zen. Kamu ini sungguh aneh.


Kadang kamu tuh nyebelin, kadang juga ngangenin. Tapi banyak ngangenin nya sih.' kata ku dalam hati sambil tersenyum geli.


Kata Zen, setiap dia pulang kerja, papa nya selalu godain dia. Tapi papa nya bangga melihat perubahan Zen. Papa sangat berharap semoga kelak aku bisa menjadi istri Zen.


***


Pagi ini aku bangun pagi seperti biasa.


Setelah sholat subuh, aku pergi ke dapur untuk bantu-bantu mempersiapkan masakan.


Namun Bu Yasmin dan Tante Mita melarang ku. Mereka menyuruh ku untuk bersiap-siap pergi ke sekolah saja.


Aku pun hanya bisa menurut perintah mereka.


Sambil menunggu waktu, aku kembali membaca buku-buku pelajaran waktu kelas XI kemarin agar tidak terlalu lupa pada pelajaran.


ddrrrtttt dddrrrtttt


hp ku berdering. Dengan langkah gontai aku melangkah mengambil hp yang aku letakkan di atas tempat tidur.


Dari Zen ternyata


" Selamat pagi sayang. Pagi ini aku jemput ya ke sekolah nya. Sekalian buat melepas rindu gitu." pinta nya tanpa mengatakan salam terlebih dahulu.


" Nggak usah repot-repot Zen. Kan jalan kita nggak searah. Nanti malah kamu kesiangan." tolak ku dengan halus.


" Enggak kok. Ini aku udah mau berangkat. Jadi 30 menit lagi aku sampai dirumah kamu. Oke" Zen pun langsung mematikan hp nya.


Aku tahu, kalau menunggu jawaban dari ku pasti aku akan menolak. Untuk itu dia langsung menutup telp nya.


Aku pun segera bersiap-siap untuk ke sekolah.


30 menit berlalu,


Aku sudah menunggu nya di gang depan rumah. Karena mobil Zen nggak bisa masuk sampai depan halaman rumah Tante Mita.


Tak beberapa lama, mobil Zen datang dan berhenti di depan ku.


Dia turun dan membukakan pintu untukku.


" Silakan masuk sayang ku." ucap Zen mempersilahkan aku masuk.


Aku hanya tersenyum melihat nya.

__ADS_1


" Makasih sayang." jawab ku untuk menyenangkan Zen


Dia terlihat sangat senang mendengar aku memanggilnya sayang.


Senyum simpul yang manis itu merekah sangat lebar. Sudah lama sekali aku tidak melihat senyum itu sejak liburan kemarin.


Rasanya memang sanagt rindu. Tapi aku malu mengungkapkan nya.


Dia kembali masuk di balik kemudi, kemudian menjalan kan mobilnya pelan.


Tangan kirinya memegang tangan ku dan meremas nya mesra.


Kadang dia juga mencium nya sambil sesekali menoleh ke arah ku.


Kita terdiam menikmati perjumpaan yang telah lama kami impikan.


Dan kemudian, tiba-tiba dia memberhentikan mobilnya di pinggir jalan.


Menoleh ke arah ku. Kemudian menatap ku lebih dekat


" Aku sayang kamu sayang," jawabnya sambil lebih mendekatkan bibir nya ke pipiku.


Rasanya jantung ini berdebar lebih kencang. Pipiku memanas dan reflek aku memejamkan mata ku.


Tapi...


Dia hanya mengelus pipiku dengan tangan nya dan kembali membenarkan posisi duduknya.


Aku membuka mata perlahan kemudian melirik ke arah Zen. Dia menoleh ke arah ku sambil tersenyum menggoda.


" Kenapa kamu pejamin mata? Membayangkan yang iya iya yaaaa?" goda Zen pada ku.


" Iih apaan sih.'' jawabku dengan gugup.


Aku memang membayangkan yang tidak-tidak.


Ini adalah yang pertama untukku. Aku benar-benar tidak bisa menahan gejolak hati ini. Tapi aku masih bisa berfikir jernih untuk tidak melakukan hal-hal yang dapat merusak masa depan ku.


Zen kembali menatap ke depan, kemudian menjalan kan kembali mobil nya.


Tak berapa lama kita pun sampai di sekolah.


" Biar aku turun sendiri aja Zen. Nggak enak dilihat orang-orang." kata ku sebelum kita turun dari mobil.


" Loh emang kenapa? Kan kita sekarang..."


" Iyaaa, tapi kan yang nge-fans sama kamu tuh banyak. Takutnya nanti mereka pada iri lagi padaku yang kamu perlakukan spesial." aku memotong kalimat Zen.


" Baiklah." Zen akhirnya mengalah.


Kami pun berjalan bersama menuju ke arah ruang kelas


" Oh iya, biasanya kalau kelas III gini kan suka di rolling yaa. Nanti kita masih bisa satu kelas lagi nggak ya?" kata ku membuka percakapan kita kali ini.


" Kalau kita nggak satu kelas, aku akan meminta ke pak Wahyudi biar kita bisa sekelas lagi." jawab nya enteng.


" Mana bisa gitu?" jawab ku


" Ya bisa lah. Nanti kalau kita nggak sekelas terus kamu di gangguin cowok lain gimana?" jawab nya asal.


" Yee bilang aja kalau kamu nggak mau jauh dari aku."

__ADS_1


" Emang iyaa. Masa udah dua Minggu nggak boleh ketemu, sekarang giliran ketemu harus jauhan lagi. Nggak ah. Pokoknya aku nggak mau." jawab nya mantab.


" Kita lihat aja ntar."


Akhirnya sampai juga kita di depan pintu kelas XII IPA-1.


Dikelas ini memang sudah di tempel daftar nama-nama siapa saja yang masuk ke dalam kelas ini. Dan Alhamdulillah, aku dan Zen masih bisa tetap satu kelas. Malah Bella sekarang juga satu kelas lagi sama kami.


" Yesss tuh kan. Aku dan kamu nggak mungkin berpisah. Kan kita udah jodoh gitu." jawab nya penuh percaya diri


" Iyaa iyaaa iyaaa. Kalau jodoh emang nggak kemana kok." tiba-tiba Bella datang di belakang kami.


" Hai Bell, kita sekarang sekelas ya. Enak dong nanti bisa belajar bareng sepulang dari warung." kata ku sambil memeluk Bella untuk menyambut kedatangannya.


" Bella aja yang tiap hari ketemu dipeluk. Lah aku, yang dua Minggu nggak boleh ketemu, boro-boro dipeluk, dicium pun juga kagak." jawab nya iri.


" Nih, cium nih buku. Biar pinter kaya Mayang." kata Bella sambil memberikan sebuah buku pada Zen


" Hahahaha, " kami pun serempak tertawa bersama.


****


Hari ini kegiatan belajar mengajar belum dimulai. Jadi kami semua pulang pagi.


Zen mengajak aku dan Bella jalan-jalan sebentar sebelum pulang.


Awalnya aku menolak, tapi Zen memohon sehingga aku pun tak tega menolak nya.


Rafid, teman dekat Bella, pun juga ikut. Karena kuliah nya juga belum waktunya masuk.


Rafid berkuliah di Perguruan Tinggi Swasta di kota ini karena dia juga nyambi kerja.


Kalau di perguruan tinggi negeri, biasanya untuk semester awal jadwal kuliah nya full.


Zen mengajak kami pergi ke sebuah taman yang berada agak jauh dari kota.


Perjalanan kami kurang lebih 30 menit dari sekolah


Sebelum pergi tadi aku sempat minta izin pada Bu Yasmin, dan beliau pun mengizinkannya.


Sampai sana, Zen memilih sebuah tempat gazebo dengan empat kursi dan sebuah meja bundar.


Zen memesan 4 ice dalgona coffe dengan stik ayam bumbu saus barbeque.


Kami makan sambil bercerita-cerita. Bercanda dan kadang tertawa bersama.


Rafid yang banyak mengeluarkan cerita tentang pengalaman di masa-masa kelas III ini.


Pada kelas III ini, kami nanti akan diadakan les pada semester kedua. Juga sedikit pekerjaan rumah tambahan setiap harinya.


Tapi kata dia, kalau kita mengerjakan dan menganggap itu santai, maka kita bisa enjoy ngejalaninnya.


Sebenernya nilai Ujian Rafid cukup bagus. Kalau dia meneruskan sekolah di perguruan tinggi negeri masih bisa di terima. Tapi ya karena alasan itu tadi. Dia harus kuliah sambil kerja.


Meskipun kuliah di perguruan tinggi swasta, bagi ku sama saja. Asal kita bersungguh-sungguh, maka kita bisa jadi orang yang sukses.


Kalau aku, berharap bisa masuk perguruan tinggi negeri agar aku bisa masuk melalui jalur bidik misi atau SNMPTN. Mengingat aku ini hanya memiliki otak untuk bisa mengejar cita-cita ku. Kalau untuk biaya, rasanya tabungan ku tidak cukup untuk berkuliah disana


Tak terasa hari sudah mulai siang.


Pukul 12.00 kami akhirnya pulang.

__ADS_1


__ADS_2