Dibalik Awan Kelabu

Dibalik Awan Kelabu
26 Bu Yasmin pergi ke kota


__ADS_3

2 hari setelah kejadian itu, Bu Yasmin menyusul ke kota. Sekarang beliau pindah ke sini. Rumah nya dan rumah ku peninggalan ayah kini kosong. Bu Yasmin minta tolong pada pak RT setempat kalau-kalau ada yang mau mengontrak dari pada kosong.


Bu Yasmin pun telah resign dari sekolah. Beliau memilih tinggal di kota. Agar bisa dekat dengan ku alasannya.


Jadilah sekarang Bu Yasmin ikut bantu-bantu di warung kami.


Perkembangan keadaan papa Zen sekarang sudah membaik.


Kemarin beliau sudah sadar, dan rencananya setelah kondisi tubuh nya dirasa siap, maka operasi pemasangan ring akan dilakukan.


Rencana nya sepulang sekolah nanti, kami, Aku, Bella, Tante Mita dan Bu Yasmin, akan menjenguk papa Zen.


Kata Zen, papa nya ingin sekali makan nasi gigog buatan kami.


***


tok tok tok


Aku mengetuk pintu pelan.


Tak lama setelah itu, Zen muncul dari dalam dan membuka kan pintu. Zen mempersilahkan kami masuk.


" Mari silahkan masuk." katanya


" Selamat siang oom." sapa ku pada papa Zen.


" Selamat siang. Pasti kamu yang namanya May ya. Zen sering cerita pada mama nya kalau dia menyukai gadis cantik dan pintar yang bernama May." kata papa Zen menyambut kedatangan kami.


Aku jadi tersipu malu mendengar ucapan papa Zen. Pipi ini rasanya panas. Hatiku berdegup kencang.


" Ini oom, Aku bawain nasi gegog dengan isian tuna buat oom." Untuk menghindari arah pembicaraan yang membuat ku malu-malu mau, aku memberikan oleh-oleh yang aku bawa.


Oom Hans, papa Zen, berusaha duduk. Lalu Zen pun membantu papa nya duduk.


" Waaah, dari bau nya enak sekali ini. Mau dong kalau disuapin calon mantu." ucap oom Hans


Terdengar suara ibu, Tante dan Bella tertawa tertahan.


Rasanya nanti habis aku kena Bulian mereka.


Aku hanya menggigit bibir menahan gejolak hati ini.


Aku pun membuka bungkusan nasi lalu menyuapi oom Hans pelan-pelan.


" Oh iya, mama kamu kemana Zen?" tanya Tante Mita memecahkan keheningan ruangan ini.


" Mama hari ini pamit pulang Tante. Mama mau beberes dan mengambil pakaian ganti untuk ku dan papa." jawab Zen.


" Mama Zen begitu baik. Dia sangat sayang sekali pada Zen. Dia telah merawat Zen dari SD." cerita Oom Hans.

__ADS_1


Dari cerita Zen dan papa nya, kelihatan nya mama Zen adalah orang yang baik dan sabar. Aku belum pernah sekalipun bertemu dengan mama Zen.


Aku jadi penasaran dan ingin jumpa dengan mama Zen.


Tanpa terasa, papa Zen telah menghabiskan satu bungkus nasi gegog ukuran sedang.


Zen yang ada disana sampai heran. Padahal biasanya papa nya hanya bisa makan 5-6 sendok bubur atau makanan jatah rumah sakit. Tapi dengan suapan ku, Papa Zen menghabiskan satu bungkus sedang.


" Waah, kamu hebat May. Lihat tuh, makanan papa hampir habis. Biasanya papa sangat sulit kalau disuruh makan. Ini disuapi kamu makannya lahap banget." ucap Zen kagum.


" Ya jelas dong. Kan yang nyuapi calon mantu." ucap papa Zen sambil tertawa dan disusul dengan tawa yang lain.


Aku benar-benar sangat malu dibuatnya. Pipiku semakin memanas. Aku pun hanya bisa memejamkan mata


" Sudah-sudah. Papa ini apaan sih. Tuh lihat pipi May sampe kepiting rebus itu loh. Kasihan dia." kata Zen mencoba membela ku.


" Nah kan, sang pangeran cinta pun membela." canda oom Hans masih berlanjut.


Tiba-tiba..


ddrrrtttt dddrrrtttt dddrrrtt ddrrtttt


Hp Bella berbunyi, Bella pun meminta izin keluar untuk mengangkat telp nya.


Usai sekembalinya Bella, dia meminta izin untuk pulang terlebih dulu karena obat ibunya habis. Kami yang berangkat bareng juga berniat pamit.


" May makasih ya aaa." kata Zen.


" Iya sama-sama.'' jawabku


Akhirnya kami pun pulang bersama.


_____________________________


Minggu depan adalah jadwal ujian akhir semester II.


Minggu depan juga adalah jadwal waktu papa Zen menlakukan operasi.


Zen meminta keringanan pada pihak sekolah untuk dia bisa ikut ujian susulan.


Tapi sepertinya tidak bisa.


Karena ujian ini langsung dai dinas dan sekolah hanya menyediakan tempat.


Akhirnya mau nggak mau, Zen harus rela tidak menunggui papa nya yang sedang di operasi.


Zen terlihat begitu cemas. Berkali-kali dia melihat jam di pergelangan tangan nya. Dia juga sering mengacak-acak rambutnya.


Kelihatannya dia bleng.

__ADS_1


Kulirik, tak satu pun pelajaran di kerjakan nya.


Aku lalu menarik kertasnya dan mengerjakan soal-soal itu.


10 menit kemudian, aku telah selesai mengerjakan nya. Ku serahkan kembali kertas itu pada Zen. Dia tersenyum sangat manis sebagai ungkapan terimakasih nya padaku.


Dan aku hanya bisa membalas nya dengan anggukan kepala. Karena saat ini kita dilarang untuk sekedar mengobrol.


Setelah itu dia berdiri dan berjalan menuju meja guru untuk mengumpulkan lembar jawabannya.


Kemudian kembali ke tempat duduk untu mengambil tas dan peralatan tulisnya.


" Makasih sayang." ucapnya lirih


Hati ku berasa mau copot. Apa aku tidak salah dengar kah? Dia memanggil ku sayang? Sayang atau Mayang?


Pertanyaan itu muncul dalam benakku. Pipiku memerah seperti bakpao. Hangat rasanya.


****


Malam ini aku sudah selesai belajar.


Aku merebahkan diriku ke kasur.


Hari ini warung juga sangat ramai. Lelah sekali rasanya. Aku melirik hp ku disebelah kanan ku.


Aku berniat untuk menghubungi Zen. Menanyakan bagaimana kabar Papa nya. Tapi aku malu. Aku takut aku jadi ke-GR-an karena ucapan Zen tadi siang.


Akhirnya jari-jari ku pun mengetik tombol hijau yang ada di menu panggilan.


tuuut tuuutt tuuutttt.


' hallo Assalamualaikum Mayang.' sapa suara dari seberang.


' wa'alaikum salam Zen. mmmm bagaimana kabar pala kamu?' tanya ku gugup.


' Alhamdulillah tadi operasinya berjalan lancar May, dan ini sedang menunggu papa siuman. Kamu doakan papa ku semoga segera sehat ya May.' pinta nya pada ku. Aku turut lega mendengar kabar baik dari papa nya.


'Iya Zen. Aamiin. mmmm Kamu sudah belajar untuk ulangan besuk Zen?' tanya ku hati-hati.


' Kan ada kamu yang nanti akan membantu ku May.' ucapnya sambil terkekeh


' yeeee. Dibantuin malah keenakan.' jawabku sewot.


' hehehe, enggak kok Mayang sayang. Aku bercanda. Tadi aku sudah belajar. Makasih ya tadi di sekolah udah bantuin aku. Tadi aku bener-bener udah mentok. gak bisa berfikir lagi.' katanya.


Dia memanggilku sayang lagi?


ya Allah....

__ADS_1


__ADS_2