Dibalik Awan Kelabu

Dibalik Awan Kelabu
39 Keputusan


__ADS_3

Pagi ini aku bersemangat pergi ke sekolah.


Aku bangun pagi seperti biasa.


Setelah membantu mengupas bumbu dan memotong sayuran untuk jualan, Aku segera mempersiapkan diri untuk pergi ke sekolah.


Tak lupa aku menikmati sarapan pagi bersama Bu Yasmin, Tante Mita, dan juga Rani.


Usai sarapan, aku meminta izin dan bersalaman pada Tante Mita dan Bu Yasmin.


Aku berjalan menuju tempat biasa nya aku menunggu angkot.


Hari ini angkot sedikit agak telat.


Setelah menunggu hampir 10 menit, angkot pun datang.


Aku segera naik agar bisa segera sampai sekolah. Tadi pesan bu Yasmin, jika aku sampai di sekolah, aku harus menemui pak Wahyudi.


Akhirnya aku sampai di sekolah.


Begitu turun dari angkot, aku segera menuju ke ruangan pak Wahyudi, yaitu ruang kepala sekolah.


tok tok tok..


" Permisi...." sapa ku sambil mengetuk pintu.


Sepi. Tak ada sahutan.


Ku ulangi sekali lagi


" Permisi pak, Assalamualaikum.."


" Wa'alaikum salam, eh Mayang. Masuk Nak." jawab pak Wahyudi. Ternyata beliau baru dari kamar mandi.


Aku pun masuk ke dalam ruangan pak Wahyudi.


" Mari, silahkan duduk." ujarnya sambil mempersilahkan aku duduk.


Aku pun menurut. Mengambil tempat duduk di hadapan beliau


" Kapan kembali dari desa?" tanya pak Wahyudi mengawali perbincangan pagi ini.


" Kemarin sore pak." jawab ku dengan sopan.


" Langsung saja ya May. Jadi gini, sekolah kita menerima undangan untuk mengikuti lomba olimpiade fisika dan matematika untuk acara di dinas provinsi. Kemarin setelah melakukan musyawarah dengan beberapa guru, maka kami sepakat kamu lah yang akan mewakili sekolah kita. Mengingat nilai akademik kamu bagus di bidang matematika dan fisika. Bagaimana May? Kamu bisa?" jelas pak Wahyudi kepadaku.


Aku pun tersenyum dan menjawab,


" InsyaAllah Mayang bisa pak."


" Syukurlah, terimakasih ya Nak. Semoga kamu bisa berhasil dalam olimpiade nanti. Kalau pun tidak bisa menjadi juara, bapak tidak apa-apa. Yang penting kamu sudah mewakili sekolah kita." ujar pak Wahyudi lagi.


" Iya pak. Mayang akan berusaha sebaik mungkin dan semoga bisa jadi yang terbaik." jawab ku.


" Iya May, kalau kamu bisa mendapat juara, maka kesempatan untuk bisa kuliah di universitas manapun yang kamu mau semakin lebar."


Mendengar itu, aku pun jadi lebih bersemangat. Semoga aku bisa mewujudkan cita-cita ku.


Setelah sedikit berbincang dengan pak Wahyudi, aku pun pamit ingin segera kembali ke kelas.

__ADS_1


Aku berjalan menuju kelas dengan hati yang sangat gembira. Sampai di depan ruang perpustakaan ada seseorang yang memanggil ku.


" May, tunggu..."


Aku pun menoleh. Ternyata dia...


" May, aku rindu banget sama kamu. kapan kamu kembali?"


Dia adalah Zen. Dia sedikit berlari menghampiri ku, hingga napas nya terdengar memburu.


" Kemarin aku sampai nya." jawab ku singkat.


Aku melanjutkan berjalan ke ruang kelas.


Zen mengejarku.


" May kamu masih marah sama aku?" tanya nya setelah posisi berjalan kami beriringan.


Aku menghentikan langkah. Berbalik menatap ke arah nya.


" Zen, aku tidak marah sama kamu. Hanya saja, aku minta maaf. Untuk sekarang aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita. Aku mau fokus untuk belajar dan mengejar cita-cita ku. Aku harap kamu bisa ngerti." terangku pada Zen.


Aku berjalan lagi. Membiarkan Zen yang sedang berdiri mematung.


****


Dalam kelas, aku pun belajar seperti biasa.


Aku sering mengisi waktu disela-sela pergantian jam dengan membaca buku.


Sebenarnya, itu aku lakukan untuk menghindari Zen.


Kulihat dia tampak lesu hari ini. Dia tidak bersemangat belajar.


Bella yang duduk di samping ku lalu menyenggol lengan ku,


" Dia kenapa?" tanya nya.


" Siapa?" aku balik bertanya.


" Ya pacar kamu lah. Kok kelihatan suntuk gitu."


" Bukan pacar ku lagi sekarang." jawabku santai.


"Hah.." Bella terkejut.


Suaranya tak bisa di kontrol. Semua mata memandang ke arah kami.


" Ada apa Bella?" tanya guru bahasa Indonesia.


" ennggg, nggak apa-apa kok Bu. Ini tadi pena saya tadi jatuh. Maaf Bu." ucap Bella.


Aku pun terkekeh melihatnya


Bella pun cemberut kesal. Dia malu dan kesal karena mendengar jawabanku, dia jadi kaget dan jadi pusat perhatian orang-orang.


" Makanya, kalau sekolah tuh jangan ngobrol mulu. Jadi nya malu sendiri kan?" goda ku sambil tetap terkekeh.


" Awas ya kamu." geram Bella.

__ADS_1


****


Pulang sekolah, seperti biasa, aku dan Bella pergi warung untuk jaga warung


Kami pun naik angkot bersama.


" Kamu nggak lihat keadaan Zen gitu May?" tanya Bella penasaran.


Aku hanya menggelengkan kepala sambil terus fokus membaca buku.


Bella yang kesal dengan ku, akhirnya merebut buku ku


Aku kaget.


" Apaan sih Bell?" tanyaku sedikit berteriak.


Sontak semua mata yang ada di angkot melihat tajam ke arah kami.


Dia mengembalikan lagi buku yang aku baca..


"Lagian. katanya aku ini sahabat kamu. Tapi kamu tidak cerita padaku." kata Bella dengan wajah cemberut.


Aku tersenyum. Aku tahu. Bella butuh penjelasan dari aku


"Oke. Jadi tadi pagi aku mutusin Zen Bell. Kamu tahu kan, dia itu anak tiri ibuku. yaa jadi sekarang ini dia jadi saudara tiri aku kan? Biarpun bukan saudara kandung, tapi rasanya aneh aja. Kita pacaran tapi dengan satu ibu.


Bisa-bisa kaya sinetron yang ada di Indomaret itu dong. Ibuku adalah mertuaku. Hahahah"


Aku menjelaskan panjang lebar pada Bella yang aku akhiri dengan candaan agar nggak garing.


Bella pun ikut tertawa bersama


Hingga sampai tak sadar, kita sudah sampai di depan warung Tante Mita.


Kita turun dari angkot.


Kita berjalan menuju warung.


Namun baru sampai di halaman, ada seorang ibu-ibu yang memanggil ku.


" Mayang.."


Aku menoleh. Rupanya dia adalah ibuku.


Aku berhenti.


Dia kemudian memelukku. Aku membiarkan saja dia memelukku sambil menangis. Tapi aku tetap diam. Aku juga tidak membalas pelukannya.


Setelah dia melepas pelukannya, aku mengajak nya masuk untuk berbicara di dalam.


Aku mempersilakan dia duduk untuk menunggu sembari aku berganti pakaian ke dalam.


Kini aku dan dia duduk berhadapan.


Dia memegang tanganku. Seakan tak ingin lagi jauh dari ku


" Ada apa Bu?" tanya ku pada nya.


" Ibu minta maaf Nak. Maafin ibu. Ibu khilaf." katanya sambil tetap menitikkan air mata.

__ADS_1


" Saya sudah memaafkan ibu. Ini juga sebagai pesan Ayah. kata Ayah nanti kalau ibu pulang, saya harus bisa memaafkan ibu. Meskipun berat, saya akan mencoba nya." jawabku dengan tenang.


" Terimakasih sayang."


__ADS_2