
MoonStar Hight School merupakan sekolah elit menengah atas yang terbaik di seluruh negeri. SMA ini diisi oleh murid-murid pilihan yang tentunya berbakat. Mereka yang ingin sekolah di SMA ini harusnya orang yang memiliki bakat dan kepintaran. Meski ini adalah sekolah elit, tapi kekayaan bukan prioritas di sini.
Egy 'pun sama, sekolah di MoonStar Hight School karena kepintaran yang ia miliki. Pertahunnya sekolah ini hanya menerima sekitar dua ratus lima puluh siswa melalui ujian ketat. Lalu lima puluh orang lagi bisa masuk dengan membayar biaya jauh lebih tinggi dibanding siswa yang lolos ujian.
Egy adalah murid kelas sebelas. Sebenarnya baginya sendiri, dia itu tidaklah pintar. Di kelas, dia belum pernah masuk sepuluh besar ranking kelas. Menurutnya yang pintar adalah si juara umum setiap semesternya.
"Fisik dan harta bukanlah jembatan terkuat. Hanya ilmu yang mampu membawamu menuju kesuksesan! "
Egy mengangguk setuju dengan tulisan yang baru saja ia baca. Gadis pendek yang tingginya tak sampai satu setengah meter itu saat ini tengah berdiri di depan papan mading. Matanya menyelusuri setiap kertas poster dan pengumuman bahkan puisi yang tertempel 'pun ikut ia baca.
Bibir mungilnya berucap mengikuti setiap kata yang tertulis di sana.
"Oh, langit.... Oh, bumi.... Izinkan aku memeluk matahari. " Egy membaca sebuah puisi.
Egy bergidik. "Lah, si otan. Puisi kayak gini juga ditempel di mading. Sengklek otaknya yang buat, " ucapnya. Puisinya terlalu lebay.
Egy bebas mengekspresikan kritikannya lewat kata-kata, sekolah masih sepi. Itu sebabnya tak mungkin ada orang yang mendengarkan ucapannya. Ini adalah salah satu kebiasaan Egy, datang sekolah pagi-pagi hanya untuk melihat mading. Saat sepi, ia bebas berkspresi. Jadi intinya, dia bebas menghujat yang menurutnya jelek dan tertempel di mading.
Mata Egy kembali mengitari setiap kertas yang tertempel. Hingga kertas poster dengan gambar empat orang pemuda berhasil membuat matanya menyipit.
"Contoh orang yang gak hanya tampan tapi juga pintar! "
Egy berdecih begitu membaca judul poster tersebut. Terlebih saat melihat gambarnya.
"Wajah mereka selalu ada di mading, " cetus Egy lantas berkacak pinggang.
"Muka kalian gak ada yang ganteng! Jelek! Jelek! Jelek! Huh! "
Poster itu berisi gambar empat orang pemuda yang merupakan siswa-siswa paling berbakat di sekolah ini. Sesuatu yang wajar saat wajah mereka terus menghiasi mading. Tak jarang, kertas yang tertempel bukan hanya tentang kata-kata mutiara ataupun motivasi. Namun lebih banyak pujian-pujian untuk para siswa berbakat itu.
Dan Egy, ia merasa kesal. Dia tidak tahu siapa yang membuat poster ini, tapi menurutnya mereka yang ada di poster itu sangat menyebalkan dan narsis. Apalagi satu sekolah memuja mereka, terlebih para ciwi-ciwi.
Egy sendiri adalah tipe orang yang julid dan cerewet. Setiap harinya ia selalu terlihat ceria. Gadis remaja sepertinya juga sangat suka merumpi. Menghujat orang lain seolah merupakan bakat terpendamnya.
"Ck, ck, ck! Yang satu mukanya kayak tembok rumah kosong, satunya lagi kayak telapak kaki kuda! " Egy menyeringai penuh ejekan.
"Ini lagi, nih! Mukanya sok polos, mirip selimut rumah sakit jiwa. Apalagi ini, mukanya dah mirip banget pan*at babon, " lanjutnya sembari menunjuk satu persatu wajah pemuda yang ada di poster.
Ah?
Apa dia baru aja ngehina muka, Gue?
Apa muka Gue mirip telapak kaki kuda?
Siapa yang bilang Gue polos?
Ini pertama kalinya mendengar seseorang menghina wajah tampanku.
__ADS_1
Sayangnya waktu tak bisa berhenti, jika bisa maka wajah konyol empat pemuda itu merupakan pemandangan yang sangat bagus dan tak rela terlupakan. Egy tak menyadari, bahwa mereka yang ada dalam poster itu telah berdiri di belakangnya sejak gadis itu mengatakan bahwa mereka jelek. Mereka saling lirik tak percaya. Ini adalah pertama kalinya mendengar orang lain menghina wajah mereka.
"Isi hati jangan dipendam. Ya, Gue rasa mengungkapkan isi hati ini buat Gue jadi lega. Apa cuman Gue yang bilang mereka jelek? Woah, Gue udah pecahin Guines of Record! " seru Egy yang masih belum menyadari keberadaan target hujatannya pagi ini.
"Oh, gitu? Udah lega sekarang? "
"Udah puas ngehina-hina muka Gue? "
"Seneng ya, ngehina orang? "
"Pengen Gue lipat-lipat tuh, mulutnya! "
Degh!
Eugh...?
Egy memegang dadanya, jantungnya berdetak cepat. Suara-suara itulah penyebabnya. Tunggu-tunggu, Egy mengusap tengkuknya. Tiba-tiba hawa di belakangnya terasa begitu dingin. Apa itu tadi suara setan? Oh, tidak! Egy benci setan.
Egy masih belum sadar bahwa hawa dingin di belakangnya berasal dari tatapan dingin dan membunuh para pemuda itu.
"Heh! Malah bengong Lo! "
Egy tersentak dan buru-buru berbalik. Matanya melotot seketika. Empat pemuda berseragam sama sepertinya tengah menatapnya horor. Di sekolah, empat pemuda tampan itu sangatlah terkenal. Egy tak pernah langsung berhadapan dengan mereka. Tapi saat ini, mereka menatap Egy seperti menatap mangsa yang akan diterkam.
Astaghfirullah! Demi cincin saturnus, kenapa mereka ada di sini? Batin Egy menjerit.
"Lo tadi bilang apa, hah? Muka Gue kayak apa? " Salah seorang pemuda bersungut-sungut.
Egy menelan ludah.
"Hehehe. Kak Galih ngomong apa, sih? Emang tadi Gue bilang apa? Hahaha. " Egy cengar-cengir di depan mereka.
Sumpah, Egy rasanya ingin menghilang saat ini juga. Bagaimana bisa mereka ada di sini? Apa keberuntunganku sudah habis?
"Mau pura-pura lupa juga gak berguna. Lo tertangkap basah! " Pemuda lain menyahut.
Galih mengangguk setuju pada temannya yang menjabat sebagai ketua osis, Farel. Dua pemuda lainnya 'pun sama.
"Eh, emm--- "
"Gak usah ngeles deh, Lo! Kita semua udah dengar dengan sangat jelas! " sentak Galih.
Galih merupakan wakil ketua osis. Pemuda itu sangat tampan dengan gaya rambut acak-acakannya. Jauh berbeda dengan Farel, sebagai ketua osis ia selalu rapi baik rambut maupun penampilannya.
"Nggak gitu deh, Kak. Gue bisa jelasin, kok! " ucap Egy.
"Terlambat. Kita sudah paham, " ucap Rizky.
__ADS_1
"Kak Rizky gak boleh gitu. Harus dengerin penjelasan Gue dulu, " pinta Egy.
Egy tersenyum manis pada Rizky. Meskipun Rizky terlihat kalem, tapi tetap saja dia adalah atlet taekwondo terbaik di sekolah ini. Sekali pukul, bukankah Egy bisa patah tulang, ah, atau mungkin mati.
"Hukum! "
"Hah? "
Egy tak paham dengan ucapan sang ketua basket. Ia memandang Davit bingung. Cowok dingin seperti Davit memang sangat irit bicara. Berbicara hanya dengan satu dua kata, membuat lawan bicara sulit memahami apa yang ia katakan.
"Lo dihukum! " seru Galih memperjelas ucapan Davit.
"Loh, kenapa? "
"Karena Lo udah ngehina kita-kita! " jawab Galih.
"Mana ada kayak gitu? Apa kalian belum pernah mendengar orang lain mengomentari kalian? Apa kalian benar-benar tinggal di bumi? " Egy bertanya dengan kesal.
Baru di ejek begitu saja sudah main hukum-hukum aja. Hanya berkomentar sedikit juga sudah marah. Seharusnya mereka menerima komentar Egy dan mulai memperbaiki diri. Egy tak merasa bersalah sama sekali.
"Itu bukan komentar, itu adalah penghinaan. " balas Farel.
Sebagia ketua osis, tentunya citra sebagai pemimpin yang berwibawa jatuh seketika saat mendengar ucapan Egy. Egy bahkan menyamakan wajahnya dengan pant*at babon. Tentu saja ia tak terima. Dia bahkan salah satu murid paling tampan di MoonStar Hight School.
"Gak lah! Pokoknya Gue gak mau dihukum! " lantang Egy.
Empat pemuda itu merasa geram.
"Sini Lo, Cil! " Davit mencekal tangan Egy dan menariknya.
"Eh, eh! Mau ke mana? Lepasin! " Egy memberontak.
Mereka menarik Egy pergi. Namun belum sampai sepuluh langkah, mereka berhenti saat bell pertanda masuk kelas telah berbunyi. Dan Egy baru sadar bahwa sekolah telah ramai. Mereka juga kini menjadi tontonan gratis murid-murid di sana.
Egy melirik kiri kanan. Ia menyentak tangannya yang berada dalam cekalan Davit.
"Kita putus! " teriaknya lantang.
Galih, Farel, Rizky, dan Davit menatap Egy cengo. Egy menatap mereka dengan senyum tengil. Otaknye kecilnya itu sudah merencanakan ide licik.
"Pokoknya Gue mau putus! Gue gak mau punya pacar yang suka sesama jenis! Kalian itu penyuka sesama jenis! "
Egy mundur kebelakang sembari tersenyum mengejek. Ia menjulurkan lidahnya dan melambaikan tangan. Terakhir, ia memberikan kiss bye sebelum berlari kabur.
Empat pemuda itu benar-benar dibuat tercengang. Bisa-bisanya Egy berkata seperti itu di depan puluhan murid-murid yang menonton. Kepala mereka rasanya benar-benar mendidih. Terlebih saat melihat orang-orang yang kini menatap mereka dengan saling berbisik. Mereka mempertanyakan apakah yang Egy katakan benar.
Ucapan Egy bisa menjatuhkan harga diri mereka. Mereka merasa tak percaya bahwa ada gadis seberani Egy. Semua orang tentunya tahu siapa mereka dan menyegani mereka. Namun Egy seolah menunjukkan sisi lain dunia.
__ADS_1