
"Ya, tapi Gue nggak bisa berhenti khawatir! "
"Maksud, Kak Rizky? "
Rizky tersenyum, tangannya memegang kedua pundak Egy. "Meski hidup tak perlu menyenangkan orang lain, tapi tetap masih harus dengar apa yang mereka katakan. Gue minta maaf ... semua orang tahu bagaimana tingkah pacar, Lo, itu. Dengan kelakuan dia yang kayak gitu, Gue khawatir sama Lo, " jawab Rizky.
"Gue bukan siapa-siapa Lo! Tapi Gue mau yang terbaik buat Lo, Gy, " imbuh Rizky.
Dengan senyuman Rizky itu, Egy memahami satu hal. Meski ditolak, mereka tetap mempedulikan Egy. Ya, memang dengan kepribadian Agil yang urakan itu akan membuat orang berpikir ulang untuk mendekatinya. Mungkin hal ini juga yang membuat Rizky begitu khawatir padanya, dia takut Agil melukai Egy.
Egy tersenyum pada Rizky. Di antara mereka berempat, jujur saja Egy lebih menyukai kepribadian lembut Rizky. Selalu terasa menenangkan jika dekat dengannya.
"Ya. Tapi Kak Agil juga nggak seburuk yang orang lain kira, dia baik. Gue suka dia apa adanya, " balas Egy.
Pada akhirnya Egy akan tetap membela Agil. Seburuk apapun Agil, Egy tak akan memberikan celah untuk orang lain menghinanya. Selain karena memang aslinya Agil baik, juga untuk membuat Four Star cemburu dan sakit hati.
Mereka benar-benar tidak tahu harus apa sekarang. Seharusnya mereka senang karena rumor tentang mereka yang lekas padam, tapi mereka tak peduli karena sedari awal memang tak mempedulikannya. Egy yang kelihatan sekali ingin menjauh dan sikapnya yang dengan terbuka di depan mereka mengatakan menyukai Agil apa adanya membuat dada mereka semakin remuk redam.
Bagaimana cinta bisa sesakit ini?
"Apa kita nggak punya kesempatan? "
Davit angkat suara membuat semua orang menatapnya. Egy menelan ludah susah ketika bertemu tatap dengan mata tajam Davit. Nada bicara mungkin memohon tapi tatapan itu sangat mengintimidasi.
Davit mendekat, mengambil alih pundak Egy dari cengkeraman Rizky. Ia menatap Egy lamat-lamat hingga yang ditatap seperti itu gugup setengah mati.
__ADS_1
"Sedikit saja, kasih Gue kesempatan buat membuktikan cinta Gue, " mohon Davit. Dari raut wajahnya benar-benar terlihat seperti seseorang yang sangat-sangat cinta.
"Ya, Egy. Kita hanya butuh kesempatan dari, Lo. Kita butuh, Lo, untuk buka pintu hati Lo. Izinkan kita masuk, kalau akhirnya, Lo, bakal ngusir Gue ataupun mereka, kita siap pergi. " sahut Galih.
"Ya, setidaknya semua orang punya kesempatan, 'kan? " Farel menimpali dengan senyum mengembang.
"Egy, satu kesempatan saja. Oke? " Rizky ikut memohon.
Four Star sekarang punya tekad, ketika Egy memberikan kesempatan maka mereka akan benar-benar membuktikan rasa cinta mereka. Akan percuma jika mereka berjuang namun Egy enggan membuka hati. Kini, jika Egy membuka pintu hatinya maka mereka akan masuk dan berusaha menetap di hati Egy ... selamanya.
Egy menatap wajah pemuda-pemuda itu, mereka tersenyum dengan binar memohon dan berharap. Aih, rasanya Egy tak kuasa bertindak semena-mena seperti ini.
Egy bingung harus menjawab bagaimana. Ia belum membicarakan rencana lanjutannya dengan Agil. Egy bahkan belum bicara dengan Agil sejak kemarin, pemuda itu terlihat masih marah padanya dan enggan untuk bicara. Egy paham, wajar jika Agil marah.
"Tapi, Kak, Gue udah ada pacar. Walaupun kalian berusaha, akhirnya Gue tetap harus pilih pacar Gue! " Egy berusaha mengelak. Susah sekali menghindari mereka.
Degh!
Ucapan Rizky selayaknya anak panah yang melesat tepat ke hati Egy. Ucapan Rizky itu menyadarkannya bahwa dia bisa saja berubah nanti. Hal ini justru membuatnya semakin tak ingin lama berada di dekat mereka. Ia takut hatinya akan berubah, ia tak siap untuk itu.
"Karena itu Gue ingin jauhin kalian. Gue nggak mau benci ini berubah jadi cinta, " batinnya.
"Kalian bisa mendapatkan seseorang yang lebih baik dari Gue dan tentunya yang belum punya pacar, " ucap Egy berusaha membujuk mereka.
"Kita maunya, Lo! "
__ADS_1
"Gue tuh, bodoh orangnya! "
"Asalkan itu Lo, kita nggak peduli! "
"Gue bar-bar. "
"Kita nggak peduli! "
"Gue suka kentut, loh.... "
"Asalkan nggak sampai membunuh orang, kita nggak takut! "
Akhh!
Egy kesal sendiri. Mereka selalu bisa membalas ucapannya. Segala perkataan Egy untuk membuat mereka ilfil justru tiada pengaruh sama sekali.
Lihatlah mereka. Mereka terlihat seperti anji*g kecil yang tidak patuh sekarang. Ingin sekali Egy menendang mereka jauh-jauh.
Egy menyeringai kala otak kecilnya itu memikirkan ide yang luar biasa brilian.
"Gue ... udah nggak v*rg*n! "
Diam.
Diam tak ada yang menjawab. Raut wajah Four Star jelas terkejut. Tentu saja mereka terkejut, tak pernah mereka memikirkan hal ini. Gadis sebar-bar Egy sudah tak suci. Rasanya mereka sidikit tak percaya mengingat Egy yang sebenarnya juga baik hanya saja memang bar-bar.
__ADS_1
"Nah, loh diam. Apa sekarang, nyerah, 'kan? Lagian, siapa juga yang mau sama cewek yang udah nggak v*rg*n. Gue aja carinya yang perja*a, anjay.... Hahaha.... "Egy tertawa dalam hati. Lihat saja, mereka akan kalah.
Nah, 'kan apa mereka masih mau sama Egy?