
Egy dan Fika dengan berjalan di pinggir lapangan basket. Mereka berdua hendak pulang. Meski jam pelajaran telah berakhir namun masih banyak murid yang berada di sekolahan. Sebagian besar sedang mengikuti ekstrakurikuler. Lapangan basket juga banyak siswa-siswa yang bermain.
"Gimana sama rencana, Lo? " tanya Fika sembari menyedot es boba miliknya. Matanya melirik Egy yang berjalan di sampingnya.
"Lupain aja, deh, " jawab Egy dengan lesu. Ia jadi tak bersemangat jika mengingat kejadian tadi di kantin. Para pemuda itu benar-benar menguras emosinya.
Fika menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa? Mereka nggak setuju sama rencana, Lo? Yah, padahal Gue udah daftar buat jadi pacar Farel, " ucap Fika.
Egy memutar bola matanya malas. Bagaimanapun juga Fika adalah penggemar berat Farel.
"Sebenarnya mereka setuju asalkan.... " Egy menggantungkan ucapannya membuat Fika penasaran.
"Asalkan? "
"Asalkan Gue yang jadi pacar mereka? " sambung Egy. Ia mengusap tengkuknya merasa sedikit malu dengan apa yang ia katakan.
"WHAT?! " Fika memekik saking terkejutnya.
"Ish, jangan teriak-teriak dong! " cetus Egy kesal. Teriakan Fika berhasil mengundang beberapa atensi beberapa orang yang juga hendak menuju parkiran. Egy sedikit menarik lengan Fika agar mereka cepat sampai ke parkiran.
"Wait, wait! Apa maksud Lo dengan 'jadi pacar mereka', hah? " tanya Fika kurang paham. Ia menghentikan langkahnya membuat Egy 'pun ikut berhenti.
Egy menghela nafas kasar.
"Ya, seperti yang Lo pikirkan, " balas Egy. Iya tahu bahwa Fika paham akan apa yang ia katakan.
"This is really dam*! Bagaimana mereka bisa berpikir seperti itu? Woah, nggak habis pikir Gue, " seru Fika dengan heboh.
"Lo aja ngerasa gitu, apalagi Gue, " sahut Egy.
Fika mangut-mangut lalu mengucapkan kalimat yang membuat Egy kesal. "Tapi kalau Gue sih, mau-mau aja. Secara mereka itu idola sekolaj, ganteng, kaya lagi. Bisa jadi pacar salah satu dari mereka aja udah beruntung banget, apalagi bisa dapatin mereka semua. Wah, nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan. "
__ADS_1
Membayangkan bagaimana jika Egy benar-benar menjadi pacar dari empat cowok sekaligus membuat Fika terkekeh geli. Pantas saja jika Egy menolak usulan dari Four Star. Jangankan berpacaran dengan empat cowok sekaligus, Egy bahkan belum pernah pacaran.
Jadi di sini siapa yang harusnya disebut tidak normal?
"Dih najis! " umpat Egy sedangkan Fika mengerucutkan bibirnya kesal.
Egy tertawa melihat ekspresi Fika. "Muka Lo lebih najis, " ejeknya sembari kembali melangkah pergi.
"Bangs*t! " pekik Fika mengejar Egy.
Egy berlari kecil dengan diiringi tawa. Beberapa saat kemudia mereka telah sampai di pakiran.
"Gue duluan, " ucap Fika masuk ke dalam mobilnya. Jangan heran jika Fika pulang maupun berangkat sekolah menggunakan mobil. Rata-rata siswa-siswi kaya yang sekolah di MoonStar High school mengendari kendaraan pribadi seperti mobil dan motor. Bahkan ada yang selalu diantar jemput sopir pribadi. Egy hanya melihat mobil Fika hingga hilang dari pandangannya.
*
*
*
Egy mengamati sekelilingnya. Benar-benar ramai. Cuaca nampak panas siang ini namun tak sedikitpun mampu membuat Egy menyingkir dan berteduh. Gadis itu tetap melanjutkan langkahnya.
Ekspresi wajah itu tak sama seperti saat di sekolah. Ekspresi Egy terlihat datar dan sayu. Langkah kakinya bahkan sangat pelan dan tak terlihat bersemangat. Senyum yang selalu ada di bibirnya tak lagi ia perlihatkan.
Ting!
Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke handphone Egy.
[Perhatikan jalanmu, jangan melamun!]
Egy membaca pesan yang baru saja masuk ke gawainya. Seketika Egy menoleh kiri kanan mengamati sekeliling. Ia lantas kembali menatap gawainya.
__ADS_1
[ Jangan pikirkan apapun! ]
Lagi pesan itu kembali masuk dari nomor yang sama. Pengirim pesan juga orang yang sama yang mengiriminya pesan saat ia berada di UKS kemarin.
[ Kau memata-mataiku, Kak? ] Egy mengirimkan balasan.
[ Aku selalu ada di sampingmu jika Kau lupa. ]
Pesannya langsung di balas.
Egy memejamkan matanya sejenak. Ia lantas memasukkan gawainya itu ke dalam saku seragam. Helaan nafas panjang terdengar darinya. Sebelum kembali melanjutkan langkahnya, Egy sempat tersenyum sekilas. Ia memberikan tanda kepada seseorang yang tengah memata-matainya bahwa ia baik-baik saja.
Siapa yang paling mengenal Egy di dunia ini? Siapa yang tahu isi hati Egy? Tidak ada! Yang orang kenal tentang Egy mungkin hanyalah Egy si gadis cantik yang cerewet dan ceria. Dia selalu tersenyum dan tingkahnya selalu bar-bar. Kehidupan Egy terlihat sangat menyenangkan hingga membuat beberapa orang iri kepadanya. Semua orang tahunya Egy berasal dari keluarga kaya. Mereka bahkan berpikir bahwa kehidupan Egy begitu sempurna dengan limpangan harta dan kasih sayang.
Namun di balik itu semua, adakah yang tahu apa yang Egy rasakan?
Tidak ada yang mengenal Egy dengan baik, bahkan Fika sekalipun. Apa mereka tahu betapa kesepiannya Egy selama ini? Tidak ada yang tahu! Kehidupan yang Egy jalani tak seindah yang terlihat. Sejujurnya, ia tidaklah terlalu bahagia sampai-sampai selalu tersenyum setiap hari. Hanya saja ini memang cara yang ia gunakan agar orang lain tak menganggapnya lemah.
Jika sedang sendiri, Egy lebih sering melamun. Kehidupannya selalu dihantui oleh masa lalu. Masa lalu yang sebenarnya ingin ia lupakan namun nyatanya ia sendiri tak rela melakukannya. Masa lalu yang memberikan trauma dan meninggalkan sebuah luka dan rasa sakit.
Egy pernah kehilangan orang yang paling ia sayangi. Kehilangan orang-orang yang paling berarti dalam hidupnya. Sejak saat itu, hati Egy selalu dipenuhi benci dan dendam. Dari dulu sifatnya memang ceria, tapi kini keceriaannya hanyalah topeng yang menutupi bagian terbusuk dari hatinya.
Orang-orang yang berpikir dia gadis yang baik-baik saja, mereka salah. Nyatanya Egy tak sebaik itu. Kini, tujuan hidup Egy adalah balas dendam. Ia ingin menghancurkan orang-orang yang telah menghancurkan sumber kebahagiaannya. Hati Egy seolah telah terisi penuh oleh dendam dan kebencian. Ia selalu merasa tersiksa setiap kali harus pura-pura tersenyum dihadapan orang lain.
Kini, objek balas dendamnya telah terpampang di depannya. Egy tak menyangka akan menjadi sedekat ini dengan orang-orang yang akan ia hancurkan. Seolah-olah target telah ada dalam genggaman. Hanya perlu meremasnya pelan hingga hancur berkeping-keping.
"Kalian pikir, kalian bisa selamat? Gue sudah menahan diri begitu lama. Sekarang biarkan Gue membuat kalian menikmati permainan Gue, " batin Egy.
Ting!
Lagi-lagi sebuah pesan masuk ke gawai milik Egy. Egy langsung mengeceknya. Isi pesan itu membuatnya menyeringai tipis.
__ADS_1
[Aku akan kembali ke sekolah besok! ]