Dicintai Pria Tampan

Dicintai Pria Tampan
Rahasia


__ADS_3

Rizky berjalan dengan senyum mengembang. Di tangannya, ada sebuah susu kotak rasa strawberry yang hendak ia berikan untuk Egy. Saat memasuki kelas Egy, matanya dibuat heran lantaran kelas itu kosong tanpa penghuni. Rizky melirik kiri kanan, setelah tak dapat menemukan apa-apa, Rizky berjalan mendekati bangku Egy.


Ia tersenyum manis, ia 'pun meletakkan susu kotak itu di atas meja Egy. Ia berharap, Egy akan menyukai pemberiannya ini saat Egy kembali ke kelas nanti. Rizky 'pun memutuskan untuk kembali ke kelasnya kemudian.


Brukh!


Langkah Rizky terhenti saat tanpa sengaja ia menyenggol tas Egy dan membuatnya jatuh. Rizky buru-buru mengambilnya. Tepat saat tas itu terangkat, sebuah kertas foto kecil jatuh dari tas Egy yang terbuka. Rizky mengernyit dan mengambilnya juga.


Degh!


Jantung Rizky berdetak jauh lebih cepat melihat foto siapa itu. Keringat dingin lantas membasahi tubuhnya yang menegang kaku. Detik ini juga, Rizky merasa dunia berhenti berputar. Lututnya lemas seperti tak mampu menopang bobot tubuhnya.


Rizky menghela nafas gusar saat mengingat kejadian tadi siang di kelas Egy. Ia menatap bayangannya di cermin, Rizky dapat melihat penampilannya yang nampak acak-acakan. Ia benar-benar tak menyangka ini akan terjadi. Setelah sekian lama dibayang-bayangi rasa bersalah, kini justru ia merasakan rasa takut yang amat besar.


Foto yang ia temukan di tas Egy tadi mengingatkannya pada kejadian beberapa tahun yang lalu, tepatnya saat ia masih SMP.


*


*


*


Saat malam itu ia yang haus 'pun terbangun dari tidur dan pergi ke dapur. Sesampainya di dapur, ia melihat Ayah dan Bundanya sedang ada di sana. Rizky tersenyum dan mencebik, ia pikir kedua orangtuanya sedang bermesraan dan tidak tahu tempat. Namun pembicaraan antara kedua orangtuanya justru membuatnya terpaku dan terkejut.


"Ayah, Bunda selalu merasa bersalah. Setiap malam, Bunda selalu bermimpi bertemu dengan mereka. Mereka berlumuran darah, Ayah. "


Rizky dapat melihat Claudia menangis di pelukan ayahnya, Aris. Ia mengernyit bingung mendengar ucapan Claudia.


"Bunda, lupakanlah kejadian itu. Semua sudah berlalu, " ucap Aris berusaha menenangkan Claudia.

__ADS_1


"Bagaimana bisa, Yah? Kita telah membunuh mereka! Kita pembunuh! Pembunuh, Yah! "


Degh!


Degh!


Nafas Rizky terasa tercekat mendengar ucapan Claudia. Rizky memang tidak tahu situasinya bagaimana tapi ia paham akan apa yang Claudia ucapkan. Bagaimana mungkin Bundanya yang lembut penuh kasih menjadi pembunuh? Siapa! Siapa yang mereka bunuh?!


Kejadian itu membuat Rizky menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi. Ia bahkan selalu mengikuti gerak-gerik Aris secara diam-diam. Ia ingin membuktikan bahwa dugaannya salah. Orang tuanya bukanlah seorang pembunuh. Namun apa yang ia temukan di ruang pribadi ayahnya membuat Keyakinannya patah.


Di ruang kerja ayahnya, ia menemukan bukti bahwa ayahnya memanglah telah merenggut nyawa seseorang. Rizky menemukan sebuah foto berisi seorang lelaki yang tengah memeluk seorang perempuan yang sedang menggandeng tangan seorang anak perempuan yang diperkirakan berusia sepuluh tahunan, terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia.


"Maaf telah merenggut kehidupan kalian! "


Rizky membaca sederet kalimat yang tertulis di foto itu dengan bibir bergetar.


Tidak!


Rizky terus menyangkalnya. Ayahnya adalah orang yang sangat baik dan bijaksana. Ayahnya tidak mungkin merenggut kehidupan orang lain. Apalagi bundanya, dia adalah seorang yang lembut dan penuh kasih. Rizky tak akan percaya bahwa bundanya mampu mengakhiri hidup orang lain.


Namun fakta-fakta yang ia temukan setelahnya membuat ia merasa bagai seorang anak yang tak mengenal orang tuanya. Ternyata, ayah dan ibunya memang telah merenggut kehidupan orang lain. Tak hanya mereka, ternyata tak hanya kedua orang tuanya. Orang tua dari Davit, Farel, dan Galih juga andil dalam pembunuhan ini.


Rizky merasa sangat kecewa, orang tua yang ia anggap paling baik di dunia ternyata tak sebaik yang ia duga. Mereka seorang pembunuh, mereka membunuh kehidupan bahagia sebuah keluarga kecil. Rizky semakin merasa bersalah saat kini .Keluarganya juga tiga keluarga lainnya justru hidup bahagia tanpa beban.


Hal inilah yang menjadi salah satu alasan ia memilih tinggal sendiri. Setiap kali melihat wajah orang tuanya, Rizky selalu merasa kecewa dan bersalah. Malam-malam yang ia lalui selalu suram. Ia selalu dihantui rasa bersalah. Meskipun bukan ia pelakunya, ia tetap merasa bersalah sebagai anak. Ia menanggung beban berat karena merahasiakan hal itu dari orang lain. Bahkan dari sahabat-sahabatnya. Ia tak ingin sahabat-sahabatnya kecewa seperti dirinya saat tahu orang tua mereka adalah seorang pembunuh.


Ia merahasiakan hal itu karena sebagai anak ia merasa harus melindungi orang tuanya. Rizky tak ingin orang tuanya dipenjara. Ya, anggap saja dia egois. Namun ia juga menyayangi kedua orang tuanya sehingga ia tak mampu melihat mereka berada dalam masalah. Rizky hanya mampu menutupi rasa kecewanya dengan sikap penurut dan lembutnya. Ia berusaha berpura-pura tidak tahu apa-apa.


*

__ADS_1


*


*


"Kenapa ini terjadi sama Gue? Egy ... ternyata dia adalah satu di antara mereka. Dia masih hidup, Gue harus gimana? Apa Gue, harus senang karena Egy masih hidup? Dia belum mati, orang tua Gue nggak membunuhnya! " lirih Rizky. Ia memejamkan matanya, tak terasa setetes air mata keluar dari sudut netranya.


Foto yang ia temukan di tas Egy, sama seperti foto yang ia temukan di ruangan ayahnya. Ia mengira bahwa mereka semua telah mati, tapi ternyata Egy masih hidup. Anak perempuan yang ada dalam foto itu masih hidup dan dia adalah Egy.


Saat ia pertama kali mengetahui nama Egy, ia sempat terkejut karena nama itu sama seperti nama anak perempuan dalam foto itu. Dulu, dia sempat mencari data lengkap tentang identitas orang-orang yang ada di dalam foto itu. Namun saat mengetahui nama orang tua Egy sekarang dan nama lelaki dan perempuan dalam foto itu berbeda, Rizky merasa lega. Ternyata Egy bukan anak kecil dalam foto itu.


Tapi Risky salah. Kenyataannya memang benar bahwa Egy adalah anak kecil perempuan di dalam foto itu.


Rizky tak tahu, haruskah ia senang atau sedih. Senang karena jika Egy masih hidup artinya orang tuanya tidak membunuh tiga orang. Tapi ia juga merasa sedih dan takut, takut jika Egy membalas perbuatan orang tuanya. Ia takut, jika Egy tahu bahwa dia adalah anak dari orang yang telah membunuh orang tuanya, mungkin Egy akan membencinya.


Ternyata, berpura-pura tidak tahu juga sangat menyakitkan. Setiap hari Rizky terus dihantui oleh rasa bersalah. Kini ia semakin merasa bersalah karena mungkin seharusnya ia memberi tahu Egy tentang kebenaran ini. Tapi ia tak ingin Egy membencinya.


Rizky berada dalam posisi serba salah.


"Gue nggak mau Egy benci sama Gue. Gue cinta sama dia. " Rizky merasa frustasi.


"AKH! AYAH, BUNDA! KALIAN SEMUA, SEANDAINYA KALIAN MAU MENOLONG MEREKA, KEJADIANNYA PASTI TIDAK AKAN SEPERTI INI! SEHARUSNYA TAKDIR NGGAK BEGITU KEJAM SEPERTI INI! " Teriak Rizky.


Prang!


Rizky memukul kaca yang ada di kamar mandi hingga hancur berkeping. Ia tidak peduli akan darah yang keluar dari tangannya. Rizky menangis, ia merasa takdir begitu kejam padanya.


"Kenapa, Tuhan?! Kenapa ini harus terjadi padaku? " Rizky menangis dengan sesenggukan.


Ia menyadari rasa cintanya pada Egy telah tumbuh semakin kuat. Rizky berusaha membuat Egy membalas perasaanya. Bahkan pengakuan Agil sebagai pacar Egy saja tidak mampu menyurutkan tekadnya untuk mendapatkan Egy. Ia tidak peduli meski harus merebut Egy dari Agil, Rizky bahkan sampai bersaing dengan sahabat-sahabatnya.

__ADS_1


Rizky tak ingin Egy membencinya. Ia yakin, jika Egy tahu bahwa dia adalah anak dari orang yang telah merenggut nyawa orang tuanya, Egy pasti akan membencinya. Risky tak mau itu terjadi. Dia sangat mencintai Egy sekarang.


"Gue sayang banget sama Lo, Gi. Gue akan buat Lo jatuh cinta sama Gue. Gue akan buat Lo cinta mati sama Gue sampai Lo, nggak mampu untuk membenci Gue. "


__ADS_2