
"Emmm.... Gue----"
"AKHHH! ANJ**G! "
Belum selesai Egy bicara, Galih telah meraih paksa tubuhnya dan menggendongnya pergi. Egy berteriak sangat kencang saat Galih menggendongnya layaknya menggendong sekarung beras.
Semua yang ada di kelas menatap mereka yang perlahan hilang di balik pintu. Tatapan iri beberapa siswi jelas terlihat karena Egy menjadi rebutan para pria populer di sekolah ini.
Galih tak ingin mendengarkan jawaban dari Egy. Melihat bagaimana Egy yang nampak tak Keberatan berada dalam pelukan Agil, Galih merasa ia tak akan sanggup jika Egy mengatakan langsung jawaban dari rasa penasarannya. Meski ia menyangkal bahwa Agil dan Egy tidak ada hubungan, namun di sisi hatinya yang lain meringis sedih melihat kedekatan mereka. Hal itulah yang membuatnya membawa paksa Egy pergi dan mencegah gadis itu mengatakan sesuatu yang mungkin akan menyakiti hatinya.
Davit, Farel, dan Rizky membiarkan Galih membawa Egy. Setidaknya mereka merasa lega karena Egy tidak mengatakan sesuatu yang mungkin akan menyakiti mereka. Kini mereka bertiga menatap Agil yang nampak santai dengan tatapan datarnya. Pemuda itu bahkan tak berusaha mengejar Egy.
"Gue tanya sekali lagi, Lo ada hubungan apa sama Egy? " tanya Davit dengan penuh penekanan.
Agil memandang Davit dengan senyum remeh. "Huh! Bukankah semuanya jelas? Hubungan Gue sama Egy, jauh lebih dalam dibandingkan kalian yang hanya memperbudaknya! " balas Agil.
Ucapan Agil mengingatkan mereka bahwa hubungan mereka dengan Egy hanya sebatas perjanjian majikan dan babu. Juga mengingatkan bahwa mereka tak berhak marah andai kata benar Agil adalah pacar Egy.
"Kenapa? Gue bener, 'kan? Kalian cuman memperbudak dia. Gue tekanin sama kalian, dari awal Egy udah nggak suka sama kalian. Jangan harap bahwa Egy akan menyukai kalian pada akhirnya! " Melihat tiga orang di depannya hanya diam, Agil tersenyum miring.
Agil 'pun memilih melenggang pergi. Apa yang ia katakan barusan bukanlah bualan seperti saat ia mengakui Egy sebagai pacarnya. Egy tak menyukai Four Star dan ... itu adalah benar. Bahkan mereka tak tahu bahwa Egy teramat sangat ... MEMBENCI MEREKA!
Dalam hati, Agil berdecak kasihan melihat nasib para teman seangkatannya itu. Agil menyadari bahwa Davit, Farel, Rizky, dan Galih mulai menyukai Egy. Hal ini dimanfaatkan oleh Agil. Ia sengaja mengakui Egy sebagai kekasihnya di depan mereka. Hal itu ia lakukan untuk memancing rasa cemburu mereka dan membuat rasa cinta mereka tumbuh semakin kuat.
Kenapa?
Karena dijatuhkan oleh orang yang dicintai rasanya begitu menyakitkan bahkan hingga membuatmu tak mampu bernafas!
*
*
__ADS_1
*
"Kak Galih, baik-baik aja? " Egy memperhatikan Galih yang sejak tadi hanya diam.
Setelah membawanya pergi ke ruang osis, Galih kini justru terlihat mengabaikannya. Di ruangan yang sepi ini, tak ada hal menarik yang dapat Egy nikmat untuk mengusir rasa bosan. Egy diam memandangi wajah Galih, pemuda itu terlihat sangat tampan. Pantas saja banyak sekali yang menyukainya.
Tapi, raut wajah itu sangat berbeda dari biasanya. Jika biasanya bibir itu selalu dihiasi oleh senyum tengil yang menawan, namun kini yang ada hanya raut wajah suram. Galih terlihat memendam emosinya.
"Sebentar lagi bel masul akan berbunyi, Gue balik ke kelas aja, deh, " ucap Egy hendak beranjak pergi.
Grep!
Sebelum itu terjadi, Galih menarik tangannya hingga membuatnya terpaksa duduk kembali, namun kini ia terduduk dipangkuan Galih.
"Kak? "
"Sebentar aja! " Galih melingkarkan kedua tangannya di perut Egy. Dari belakang, ia menghirup aroma tubuh Egy dalam-dalam. Terasa menenangkan.
"Kak Galih, baik-baik aja? " Lagi, Egy melontarkan pertanyaan yang sama. Galih biasanya selalu mengajaknya ribut tapi sekarang ia terlihat sangat manja.
"Kak Galih, kenapa? Nggak biasanya Kakak kayak gini, " bingung Egy.
Egy bukannya tidak peka. Ia tahu perasaan Galih memburuk sejak pertemuannya dengan Agil tadi. Hanya saja ia heran, benarkah Galih memiliki perasaan padanya? Itu seperti hal yang mustahil karena mereka baru kenal beberapa hari ini bahkan itu belum ada satu minggu.
Egy membiarkan Galih memeluknya dengan erat. Tak bisa ia pungkiri bahwa ia merasa menyukai pelukan dari Galih.
"Menurut Lo, Gue orang yang kayak gimana? Apa Lo nggak suka sama Gue? Bagian mananya yang nggak Lo sukai dari Gue? " Galih melontarkan pertanyaan yang membuat Egy bingung. Pemuda itu bahkan dengan santai menopangkan dagu di pundaknya.
"Kak Galih ganteng, " jawab Egy dengan jujur.
"Huh! Semua orang juga bilang kalau Gue ganteng, " sahut Egy.
__ADS_1
"Lalu? "
"Bisakah Lo, katakan gimana Gue menurut Lo! Di mata Lo, seperti apa Gue ini sebagai seorang pria? " tanya Galih. Hembusan nafas hangat itu begitu terasa di kulit leher Egy. Seolah-olah Galih dengan sengaja menghembuskan nafasnya di sana.
"Kak Galih bukan tipe Gue! "
Jleb!
Ugh! Galih merasa ada yang menancap di hatinya begitu mendengar jawaban Egy. Bukankah Egy terlalu jujur? Setidaknya ia harusnya sedikit berbohong agar ia tidak sakit hati. Ck, ini memang salahnya karena menanyakan hal ini pada Egy.
"Bisakah Lo, sedikit berbelas kasih? Berbohonglah, setidaknya Gue nggak merasa malu, " cetus Galih.
Galih menjauhkan wajahnya dari leher Egy. Ia menatap Egy dengan datar dari samping. Dalam hatinya sekarang, ia benar-benar bertekad menjadikan Egy miliknya meskipun gadis itu telah punya pacar. Galih tidak peduli! Ia akan mendapatkan Egy.
"Hahaha! " Egy tertawa. " Kenapa Kakak malu? Kakak suka sama Gue? "
"Kalau iya, gimana? "
Egy langsung menghentikan tawanya. Ia merasa baru saja mendengar Galih mengatakan 'Ya'. Uh, apa Galih benar-benar menyukainya. Ucapan itu sebenarnya mampu membuatnya baper. Bukankah itu reaksi yang normal saat cewek digombali cowok? Ya, Egy merasa sedikit berbungah, sayangnya ia menepis jauh-jauh perasaannya itu. Ia teringat akan rencana awalnya.
"Lo aneh! Suka sama Gue, sama aja Lo mau mati secara perlahan! " batin Egy.
Tangan Galih beralih mengusap pundak Egy yang tertutup seragam. Ia lantas mendaratkan bibirnya di pundak Egy. Meski tertutup seragam, Egy dapat merasakan kecupan itu saat Galih sedikit menekannya.
Egy membiarkannya, setidaknya permainan semakin menarik. Jika bukan karena rencana Agil, bagaimana mungkin Egy akan tahu bahwa Galih dan mungkin juga tiga sahabatnya itu menyukainya.
"Anggap saja Gue sedang menandai Lo! Setelah ini Lo milik Gue! " batin Galih.
____
Terima kasih banyak untuk teman-teman yang telah mampir untuk membaca karya ini. Aku harap kalian menyukai karya ini. Terima kasih yang telah tap Favorit, jangan bosen menantikan kisah Egy dan pemuda-pemuda tampan yang memperebutkannya.
__ADS_1
Setiap mampir, jangan lupa tinggalkan kritik dan saran kalian di kolom komentar.
I LOVE YOU.... 💜