
Dengan senyum mengembang, Davit berdiri di depan cermin besar. Senyuman itu tidak pernah pudar mengingat sebentar lagi ia akan jalan berdua dengan Egy. Davit memastikan penampilannya telah sempurna sebelum pergi menjemput Egy.
Benar-benar berbeda dari Davit yang biasanya. Cinta mengubah pemuda itu menjadi lebih hangat. Davit berusaha membuat Egy nyaman padanya, sehingga ia membuang sifat cueknya dan memberikan Egy perhatian lebih. Yang tidak bisa lepas dari Davit adalah sikap mendominasi dan tak suka penolakan.
*
*
*
Egy keluar dari rumah mengenakan dress selutut berwarna dongker dengan di balut jaket jeans. Penampilannya yang feminim itu membuat Davit terpukau. Egy terlihat sangat cantik di matanya, apalagi dengan rambut tergerainya itu yang diselipi jepitan kecil dengan hiasan kepala kucing.
"Imut, " batin Davit.
Egy tersenyum menunjukan deretan gigi putihnya. Ia melangkah mendekati Davit. "Kak Davit ganteng, " puji Egy.
Egy baru menyadari bahwa mereka terlihat seperti sweat couple, pasalnya Davit memakai kemeja yang memiliki warna sama seperti dressnya.
"Benarkah? Gue lupa siapa yang waktu itu ngatain wajah Gue mirip tembok rumah kosong, " balas Davit.
Egy tertawa. Ucapan Davit mengingatkannya pada pertemuan pertama mereka di depan papan mading sekolah. "Gue juga nggak tahu, " sahut Egy menanggapi.
Mereka berdua sama-sama tertawa.
"Lo juga cantik, " ucap Davit.
Egy diam tertegun, lalu kembali tertawa tapi ia tertawa dengan canggung. "Tentu saja! Gue selalu cantik, " seloroh Egy berusaha bersikap setenang mungkin.
Egy melirik rumah Agil. Ia sudah memberitahu kakak tercintanya itu bahwa dia akan ke luar bersama Davit. Egy juga mewanti-wanti Agil agar dia tidak keluar saat Davit datang. Egy takut mereka akan bertengkar jika bertemu. Apalagi Agil selalu memancing-mancing emosi para Four Star.
"Emm, Nggak papa nih, kita pergi berdua? " tanya Davit.
Biar apapun juga, yang Davit tahu Egy sudah punya pacar. Davit sebenarnya merasa tidak benar mengajak jalan gadis yang telah punya pacar seperti ini, apalagi tanpa sepengetahuan si pacar. Tapi Davit juga tidak ingin mengalah, Ia, 'kan sudah bertekad merebut Egy dari Agil.
Lagipula, jika Egy putus karena ini, ia justru sangat bersyukur. Dengan begitu ia bisa mendapatkan Egy. Dari sini, ia mungkin akan semakin sering mendekati Egy dan membuat Egy putus dari Agil. Lalu mereka bertengkar dan putus, ah, Davit sudah tak sabar menantikannya.
__ADS_1
"Takutnya pacar Lo, marah, " lanjut Davit.
"Bukannya itu emang mau Lo?! " batin Egy, namun ia tetap tersenyum pada Davit.
Dalam senyumnya, ia berusaha membuat Davit simpati padanya. "Kak Agil nggak mungkin marah, dia nggak pernah ngajak Gue jalan berdua. Dia nggak peduli sama Gue, " lirih Egy.
Rencananya ia memang akan menjelek-jelekkan Agil di depan Davit. Biarkan Davit menganggap Agil pacar yang buruk. Davit akan semakin berimpati padanya dan akan merebutnya dari Agil. Egy benar, Davit sudah merasa bahwa Agil tak pantas untuk Egy.
"Kenapa Lo, bertahan sama dia? Lo bisa putus, " usul Davit.
"Nggak semudah itu, Kak. Gue sayang sama dia, " balas Egy.
Davit mendesah kecewa, ternyata Egy sangat menyayangi pacarnya itu. Lihat saja, Davit akan membuat Egy mencintainya dan meninggalkan Agil. Davit juga yakin, di antara para sahabatnya dialah yang akan Egy pilih.
"Sudahlah, Kak. Kita, 'kan mau nonton. Ayo berangkat sekarang, " ajak Egy.
Davit mengangguk dan tersenyum. "Ayo!"
Egy perlahan masuk ke dalam mobil Davit. Mereka 'pun bergegas pergi ke bioskop sebelum malam semakin larut.
"Lo tunggu sini sebentar. Gue mau beli tiket sama popcorn, " ucap Davit dan Egy hanya mengangguk.
Setelah beberapa saat Davit telah kembali dengan membawa tiket, popcorn,dan juga minuman.
"Kakak beli tiket film horor? " tanya Egy begitu melihat tiket yang diberikan Davit.
"Ya. Tenang aja, Lo nggak usah takut, ada Gue, " jawab Davit. Ia nampak berdiri pongah.
Ia sengaja memilih film horor, karena banyak yang bilang ini adalah cara ampuh mendekati perempuan. Jika nanti saat mereka menonton dan Egy ketahuan karena film ini, Davit akan menjadi penenang Egy. Dengan begitu, Egy pasti akan berpikir bahwa Davit adalah pemuda yang hebat karena tidak takut apapun, termasuk hantu.
Davit sudah tak sabar menantikan adegan di mana Egy akan memelukanya seperti adegan yang ada di drama-drama.
"Ya, ya, baiklah, " ucap Egy.
*
__ADS_1
*
*
Film telah di mulai dari setengah jam yang lalu. Namun selama film berlangsung, ternyata Egy tidak takut sama sekali. Gadis itu terlihat begitu menikmati film horor yang sedang diputar. Davit memijit pelipis, sepertinya ia salah memilih strategi. Egy bukanlah tipe gadis penakut.
"Lo suka film horor? " Egy menoleh saat Davit melontarkan sebuah pertanyaan.
"Lumayan. Gue sering nonton barenga Kak Agil, " jawab Davit.
Raut muka Davit berubah datar begitu Egy menyebut nama Agil. Sayangnya Egy tak menyadari itu. Ia lupa bahwa Davit tidak suka pada Agil. Egy justru fokus menyaksikan film yang sedang diputar.
Davit mendengus kasar, mungkin seharusnya tadi ia memilih film romantis. Dengan begitu mungkin akan menciptakan suasana romantis antara dirinya dan Egy. Seperti yang ada di drama-drama, bisa jadi, 'kan menimbulkan adegan kiss*ng.
Davit lebih memilih film horor karena berpikir jika saja Egy takut, mungkin saat film di mulai dan tiba saat adegan horor. Egy akan terlonjak takut dan memeluknya. Di situlah dia akan mengambil kesempatan. Siapa sangka bahwa Egy tidak takut sama sekali.
Ini tidak seperti apa yang ia bayangkan!
"Seharus Gue pilih film romance tadi, " ungkap Davit penuh sesal.
Egy mendengarnya, ia kembali menoleh pada Davit. "Kenapa, Kak? Gue suka kok film ini, " ucap Egy. Wajah Davit terlihat murung, ia berpikir mungkin Davit mengira dirinya tak menyukai film pilihan Davit.
"Gue yang nggak suka, " gumam Davit.
Egy mengernyit heran dan bertanya, " kenapa? Kan ini pilihan Kak Davit sendiri. "
Davit menatapnya dengan muram. " Gue pikir Lo bakalan takut sewaktu nonton film horor. Dengan begitu Lo mungkin bakal meluk Gue pas takut, kayak di adegan drama-drama korea itu, " jawab Davit dengan begitu jujurnya.
Egy tertawa mendengar jawaban Davit yang terlampau jujur. Sebisa mungkin ia menahan tawanya agar tak mengganggu pengunjung lain. Entah mengapa, tingkah Davit begitu menggemaskan. Ternyata beginilah jika pria dingin sedang jatuh cinta.
"Memeluk, Kakak? Seperti ini, 'kah? "
Tubuh Davit menegang kaku saat Egy tiba-tiba memeluk lengan kekarnya. Egy bergelayut manja di lengannya, membuat Davit panas dingin. Ia menelan susah payah salivanya.
"E--Egy.... "
__ADS_1
"Ya, kenapa? Bukannya ini yang, Kak Davit mau? "