Dicintai Pria Tampan

Dicintai Pria Tampan
Akibat dari scandal yang viral


__ADS_3

"Ho'oh. Emangnya kenapa, Lo, kok nangis histeris kayak gitu? "


Mata Egy bergulir ke kiri, ia mendelik sinis tapi para pemuda itu tidak melihatnya karena Egy yang masih menundukkan kepalanya. Suasana hening, semuanya nampak memperhatikan Egy dan menunggu gadis itu menjawab pertanyaan mereka.


Ini adalah kali pertama mereka melihat, Egy si julid dan bar-bar bisa menangis seperti itu. Bahkan jika diingat kembali, tangisannya terdengar sangat menyedihkan. Entahlah, mereka hanya tak yakin saja jika penyebab Egy menangis hanya karena syok semata.


"Tidak ada! Hanya takut saja, " jawab Egy.


Heh, takut? Gue cuman lagi nahan diri aja, supaya nggak bunuh kalian di sini. Batin Egy dalam hati yang jauh berbeda dengan apa yang ia ucapkan.


Jujur saja, setiap kali melihat wajah mereka, Egy selalu ingat para pembunuh itu. Kejadian itu terus membayanginya, jika Egy tak meminung obat penenang mungkin saja ia akan benar-benar gila. Egy sudah pernah gila hingga ingin mengakhiri hidupnya sendiri. Dan untuk sekarang, Egy masih sama gila, gila akan pembalasan dendam.


Egy pandai berakting. Para pemuda itu tidak akan pernah tahu isi hatinya. Four Star hanya tahu bahwa Egy adalah gadis cantik yang bar-bar tapi baik. Kadang juga julid, hal itulah yang membuat mereka menyukai Egy. Egy nampak berbeda di mata mereka. Mereka hanya tak menyadari bahwa Egy lah yang akan menjadi kehancuran untuk mereka.


Hidup mereka akan hancur brantakan karena ... dendam Egy.


Davit yang sedari tadi hanya diam, kini bangkit berjalan ke arah Egy. Ia berjongkok di depan gadis itu. Ia menatap lekat-lekat Egy yang terus menunduk. Davit menyentuh perban di tangan Egy.


"Sorry, ini semua salah Gue, " gumam Davit, yang membuat Egy langsung menatapnya. Egy memperhatikan wajahnya yang penuh penyesalan.


"Bukan! Ini bukan salah, Kak Davit. Ini salah Gue sendiri, Gue yang terlalu ceroboh. Akibatnya Kak Rizky jadi terluka, " ucap Egy menoleh menatap Rizky yang berbaring di ranjang rawat.


Rizky tersenyum menatapnya. Entahlah, meski terluka namun hati Rizky berbunga-bunga. Sejak kejadian di mana Egy memeluknya, Rizky selalu mengembangkan senyum di bibirnya. Bahkan ketika dokter mengobatinya, ia terus tersenyum seolah-olah tidak merasaka sakit sama sekali. Dokter dan suster bahkan sampai heran. Huh, orang yang sedang jatuh cinta memang gila.


Egy kembali menatap Davit saat merasakan tangan pemuda itu menggenggam jari-jemarinya. "Tetap saja Gue yang salah! " ucapnya lirih.


Davit merasa kecelakaan ini adalah salahnya karena pergi begitu saja meninggalkan Egy. Andai ia tak perlu malu hanya karena masalah ibunya, Egy mungkin tak akan terluka, Rizky juga. Namun karena dia yang terlalu malu untuk bertemu Egy membuatnya harus mengabaikan gadis itu.

__ADS_1


"Heum! Lain kali, Kak Davit, jangan lari dari masalah. Apapun masalahnya pasti ada jalan keluarnya, kok. Kak Davit, jangan merasa paling tersiksa atas apapun, " seru Egy. Kata-katanya terdengar untuk menenangkan hati Davit yang masih kalut akan masalah Ranny.


Davit menyesal, ia menyadari bahwa dia terlihat seperti bocil yang labil. Hanya karena masalah ibunya, ia sampai malu dan membuat Egy terluka. Malu ... euh, itu bukan dirinya banget.


*


*


*


Di tempat lain, terlihat seorang wanita cantik tengah duduk di depan laptop. Ia menggigit kukunya dengan gelisah ketika menatap layar laptop yang menyala. Semakin ia lihat, semakin ia emosi.


"AAAKHH! SI ALAN! " pekiknya melempar laptop itu ke dinding hingga hancur.


Ranny, wanita itu sedang stres memikirkan skandal yang tengah menimpanya. Melihat video tentangnya telah menyebar luar dengan beragam tanggapan, lantas membuatnya resah. Terlebih lagi banyak sekali yang memberikan hate comment.


Berita baru menyebar beberapa jam, tapi ia sudah kalut. Pasalnya sudah beberapa klien yang membatalkan kerja sama dengannya. Berita viral itu benar-benar memberinya dampak buruk. Jika terus dibiarkan, reputasi yang telah ia jaga selama ini pasti akan hancur.


"Anda tidak bisa membatalkannya begitu saja! "


Seorang lelaki yang merupakan manager Ranny nampak sedang bernegosiasi dengan klien yang juga ikut membatalkan kerja sama. Kebanyakan dari mereka adalah klien yang belum mendatangi kontrak kerja sama. Namun ada juga yang rela membayar denda hanya untuk membatalkan kontrak dengan Ranny.


"Iya, Pak. Tap---"


Tut!


Tut!

__ADS_1


Tut!


"Ck! Ini sudah klien ke sepuluh kita yang membatalkan kerja sama! " Sang Manager menggeram kesal. Ia duduk di sofa dengan kesal.


Ranny meliriknya. "Si alan! Staf rend*han itu pasti sudah bekerja sama dengan seseorang untuk mencelakai karirku. Brengs*k! Siapa yang berani melakukan ini?! " berang Ranny.


"Ini semua salahmu. Sudah berapa kali kukatakan, jaga sikapmu. Jangan sembarangan! Kau, memang susah dikasih tahu. Kau, ini artis dan model top, banyak parparazzi yang memburumu, " sahut sang manager dengan kesal. Pasalnya sudah ribuan kali ia mengingatkan Ranny agar menjaga sikapnya, tak hanya di depan publik namun juga dibalik layar.


Ranny tidak pernah mendengarkan ucapan sang manager. Ia yang selalu mendapatkan kemudahan seolah lupa pada kemungkinan-kemungkinan buruk yang terjadi. Ia hanya tahu bahwa semuanya bisa di selesaikan dengan uang. Sekarang, sudah seperti ini. Mereka berdua bahkan belum menemukan siapa pelaku penyebar video itu.


"Aku akan membunuhnya, jika aku tahu siapa yang menyebarkan video itu! " desis Ranny dengan tajam.


Sang manager memutar mata malas melihat sikap angkuh Ranny. "Lebih baik, Kau, pikirkan reputasimu sekarang. Kita belum bisa membungkam media. Sekarang banyak wartawan yang menunggumu di luar, " ucapnya.


"Aku akan menemui ketua, dia sepertinya sangat marah karena hal ini! " Sang manager berlalu keluar dari ruangan Ranny.


Selepas manager-nya pergi, Ranny berjalan ke arah cendela. Ia menyibak sedikit tirai yang tertutup. Dari sana, ia dapat melihat ke bawah di mana di depan pintu masuk perusahaan bantak sekali wartawan. Semuanya datang untuk mencarinya.


Mereka terlihat berdesakan ingin memasuki kantor, sayangnya tidak bisa karena dijaga ketat oleh petugas keamanan. Saat ini perusahaan masih melindunginya karena Ranny telah memberikan banyak keuntungan untuk perusahaan. Namun jika scandal ini terus berlanjut, mungkin saja mau tak mau perusahaan akan membuangnya..


Ranny tidak akan membiarkan itu terjadi.


Ranny mengepalkan kedua tangannya. Ia sangat marah, namun ia masih berusaha tenang. Tidak ada yang tidak bisa ia atasi.


Ia tersenyum miring menatap gawai dalam genggamannya. Layarnya menunjukkan panggilan telepon kepada seseorang. Tak sampai menunggu lama, panggilan itu langsung terjawab.


"Kau, sudah melihatnya, 'kan? Aku ingin, Kau, menghapus berita itu. Aku tidak mau tahu pokoknya! Aku tidak mau reputasiku hancur! "

__ADS_1


__ADS_2