
"Kenapa Kakak, nyebarin rumor itu sampai ke sosial media? Bahkan itu sampai viral. "
Egy berguling dari atas tubuh Agil, kini ia berbaring di samping pemuda itu. Matanya manatap langit-langit kamar, membiarkan Agil memeluknya dari samping.
"Kenapa? Bukannya kamu, suka? " Agil balik bertanya.
Egy mengerucutkan bibirnya. "Ya! Hanya saja mereka tidak mau melepaskanku sebelum nama mereka bersih dari rumor itu, " ucapnya kesal.
"Rumor sudah lenyap, meski begitu pasti akan tetap meninggalkan kesan buruk di masyarakat. Kamu tahu, pria tua bodoh itu memberikan banyak uang untuk membungkam semua rumor itu. Ck, aku mendapatkan banyak keuntungan karena trik kecilmu ini. " Agil berdecak senang.
"Hih! Pokoknya besok kita pergi ke Mal, aku mau shopping, " ujar Egy.
"Enak aja! Itukan uang Aku! Mana boleh buat kamu shopping, " sahut Agil.
Egy mendelik, ia mencubit pinggang Agil hingga pemuda itu mengaduh kesakitan. "Kalau bukan karena Aku, mana ada kakak bakal dapat uang. Pokoknya besok kita shopping, Aku mau beli baju banyak! " tekan Egy tidak mau dibantah.
"Baiklah, baiklah.... " lirih Agil meringis ngilu akibat cubitan di pinggangnya.
Rumor memang telah lenyap sekarang. Tommy Anggara memang tak segan-segan. Pria itu bahkan sampai mau mengeluarkan uang banyak hanya demi membungkam akun-akun penyebar rumor itu.
"Emang Kakak, dapat uang berapa sih dari pria tua itu? " tanya Egy penasaran.
"Nggak banyak, sih, cuman lima puluh juta per satu akun gosipnya, " jawab Egy santai.
"Apa?! Itu banyak banget loh, emang Kakak, buat berapa akun gosip? "
"Udah aku bilang nggak banyak. Kakak cuman buat dua puluh lima akun palsu, " jawab Agil lagi dengan begitu santainya.
"ANJ**G! " Egy memekik keras. Ia sangat tak percaya mendengar ucapan Agil.
Agil yang terkejut akan teriakan Egy 'pun langsung menutup mulut Egy. "Jangan teriak-teriak, bagaimana jika ibu tahu? "
Egy memukul tangan Agil, ia bahkan menatap pemuda dengan gelengan kepala tak percaya. "Bibi pasti terkejut jika tahu Kakak, punya banyak uang. Bibi juga pasti lebih terkejut jika tahu Kakak, jadi penipu, " ucap Egy.
__ADS_1
"Penipu apanya?! Pria itu sendiri yang menawarkan uang, Kakak hanya tidak bisa menolak rezeki yang datang, " kilah Agil. Ia tak mau di sebut penipu. "Lagipula mereka terlalu bodoh, hanya demi membersihkan rumor-rumor itu mereka rela membuang uang banyak demi membungkam akun-akun gosip yang jelas-jelas palsu, " imbuh Agil.
Sebenarnya dengan kekuasaan dari empat keluarga kaya itu, mudah bagi mereka untuk membereskan masalah kecil seperti rumor itu. Mereka seharusnya tak sampai mengeluarkan uang banyak hanya untuk membereskannya. Nyatanya mereka tak mampu melakukannya karena Agil yang terlalu cerdik. Akun-akun palsu yang anak buahnya buat tidak dapat di lacak data pembuatnya.
Hal ini membuat mereka pada akhirnya lebih memilih mengeluarkan uang dari pada rumor itu terus berlanjut. Mereka tidak bisa membiarkan rumor itu lama-lama karena dapat menjatuhkan citra dan memberi pengaruh buruk pada bisnis mereka.
Egy mangut-mangut dan berkata, " tapi, Kak, bagaimana jika mereka tahu bahwa Kakak adalah dalang di balik menyebarnya rumor itu? Mereka pasti menyelediki masalah ini dan mereka akan menangkap Kakak. "
Agil tersenyum, ia kembali memeluk Egy dengan eratnya.
"Jangan khawatir! Aku memiliki otak yang cerdik, kamu pikir aku akan meninggalkan jejak? Tenang saja, mereka tidak akan menemukan Kakak. "
*
*
*
Rizky melirik teman-temannya yang nampak diam menikmati makanannya. Dia tahu, teman-temannya itu pasti merasa canggung seperti dirinya.
Rizky menarik nafas dalam sebelum berucap, " apa kita perlu memanggil Egy? "
Sontak saja teman-temannya itu langsung menatapnya. Rizky menaikkan sebelah alisnya meminta persetujuan.
"Ide, bagus. Dari pagi tadi Gue belum ketemu sama dia, " timpal Farel menyetujui. Mengingat bahwa mereka belum menemui Egy dari tadi pagi. Gadis itu pasti kesenangan karena sejenak lepas dari kekangan mereka.
"Baiklah, Aku akan mengirimkan pesan padanya. "
Rizky mulai mengambil handphone-nya dan mengirimkan pesan pada Egy. Lalu mereka kembali melanjutkan makan tanpa pembicaraan sepatah katapun.
Di sisi lain, Egy tak akan datang ke kantin. Gadis itu tengah duduk tertidur di bangkunya hingga pesan yang masuk ke gawainya terabaikan. Fika, sahabat satu bangkunya itu juga tidak ada di kelas. Gadis itu saat ini di kantin dan meninggalkan Egy yang tidur di kelas.
Hingga menit pun berlalu, para remaja tampan itu nampak kesal menunggu Egy yang tak kunjung datang. Bahkan hingga makanan mereka telah habis, Egy tak kunjung menampakkan batang hidungnya.
__ADS_1
Akhirnya mereka berempat memutuskan untuk mengunjungi Egy di kelasnya. Lihat saja apa yang akan mereka lakukan pada Egy jika saja gadis itu sengaja mengabaikan perintah mereka.
Saat mereka telah tiba di kelas Egy, empat pemuda itu tertegun memandang Egy yang nampak damai dalam tidurnya. Gadis itu menumpukkan kepalanya di atas lipatan tangannya di meja. Melihat wajah damai Egy membuat kekesalan mereka lenyap seketika.
Entah sejak kapan mereka menjadi sebucin ini?
"Kenapa sampai tertidur di kelas? " gumam Farel sembari melangkah mendekat.
Mereka telah berdiri di samping bangku Egy dan mengamati Egy dengan saksama. Mereka bahkan mengabaikan tatapan penuh kebingun beberapa teman sekelas Egy yang ada di sana. Mereka begitu terlarut-larut dalam mengagumi gadis yang sama.
Dalam benak mereka berpikir, ah, Egy sangat menggemaskan saat tidur. Lihatlah pipinya, itu sangat imut. Ternyata Egy tetap cantik saat tidur.
Sepertinya benar yang dikatakan orang, saat kita sedang kasmaran, jangankan orang yang sedang tidur, orang yang lagi ber*k pun akan tetap mempesona jika kita menatapnya penuh cinta. Benar-benar cinta yang penuh dengan rasa nano-nano.
"Huh, dia begitu damai saat tidur. Entah mengapa kita bisa jatuh cinta dengan gadis ini? " gumam Galih. Ia sungguh masih merasa tak percaya akan pengakuan mereka malam tadi. Benar-benar sulit di percaya.
"Entahlah. Gue harap, Gue bisa milikin Egy secepatnya, " ucap Davit yang langsung mendapatkan lirikan sinis teman-temannya. Namun sayangnya Davit hanya bersikap acuh.
"Dengar! Kita akan sama-sama memperjuangkan cinta Egy, jangan berpikir untuk berbuat curang dengan melakukan hal-hal kotor. " Farel memperingatkan.
"Gue yang harusnya bilang kayak gitu. Secara cuman Gue yang paling polos di antara kalian, " sahut Rizky. Tiga sahabatnya itu menatapnya datar. Mereka begitu heran melihat Rizky yang ternyata juga bisa sangat narsis.
"Kalian jangan banyak berharap, toh, juga nantinya Egy bakal jadi milik Gue! "
Mereka terus beradu argumen tentang masalah perebutan cinta ini. Mereka yang sama-sama enggan mengalah pun juga enggan bersikap toleran. Sekuat tenaga mereka akan memperjuangkan Egy mati-matian.
Sekarang mereka akan beradu di perang yang sama, namun bukan sebagai teman melainkan lawan.
Saat empat pemuda itu begitu asik otot-ototan dan masing-masing begitu yakin akan mendapatkan Egy, mereka tak menyadari kehadiran Agil yang berdiri di ambang pintu menatap mereka dengan seringai penuh ancaman. Agil menatap Egy yang nampak sama sekali tak terganggu dengan keributan yang Four Star buat, gadis itu justru nampak damai-damai saja. Dengan ini, detik ini juga sebuah ide cemerlang muncul bagai penerang jalan untuk Agil.
Agil berjalan mendekati mereka dengan gaya cool-nya. Kedua tangannya bahkan telah dalam posisi sempurna di dalam saku celana.
"EGY SAYANG! "
__ADS_1