
"Iya, Tant. Emangnya kenapa? "
Claudia tersenyum dan menggeleng. Heh, Egy berdecih dalam hati. Wajah terkejut dan tegang Claudia tadi bisa ditangkap mata oleh Egy. Mati-matian Egy berusaha tersenyum. Dia harus bisa mengendalikan tubuhnya yang rasanya seperti bergetar. Bayangan kejadian masa lalu itu membuat Egy menjadi emosional. Rasanya ia ingin mencakar-cakar wajah sok suci Claudia dan Aris.
Rizky mengamati wajah ayah dan bundanya. Ia dapat melihatnya, kedua orang tuanya nampak terkejut mendengar nama Egy. Meski ekspresi itu hanya sesaat, tapi Rizky paham dan tahu. Kedua orang tuanya pasti mengingat nama seorang anak yang telah mereka bunuh. Tak dapat dipungkiri, wajah mereka menyiratkan sebuah ketakutan. Namun Rizky berharap, kedua orang tuanya itu tidak tahu bahwa Egy memanglah anak kecil yang pernah mereka bunuh, namun masih selamat. Ia tidak ingin orang tuanya kembali melukai Egy dengan alasan menghilangkan bukti.
"Hahaha.... Kenapa jadi canggung gitu sih, Bun? Lagian, nih, Bun. Yang bakal jadi pacar Egy itu aku, " celetuk Galih tiba-tiba. Ia menyadari bahwa keadaan mulai canggung, jadi dia ingin menghilangkan kecanggungan. Raut wajah Aris dan Claudia tidak dapat ia pahami. Cukup aneh saat Aris dan Claudia terlihat terkejut begitu Egy memperkenalkan diri.
Namun, Galih maupun yang lainnya berusaha berpikir positif. Galih tidak ingin memikirkan hal-hal yang tidak bisa ia bayangkan.
Aris yang tadinya mematung menatap Egy, kini beralih pada Galih yang menyengir. Apalagi saat mendapatkan tatapan tajam dari sahabat-sahabatnya, Galih tergelak.
Aris menghela nafas. "Kalian ini bersahabat. Menyukai gadis yang sama itu bukan hal baik, " ucapnya sembari kembali menatap Egy.
Hati Aris gelisah secara tiba-tiba. Apalagi saat mendengar Egy memperkenalkan diri. Nama yang disebutkan, mengingatkannya akan dosa masa lalunya. Dosa yang terus membayanginya hingga kini.
Four Star tertegun mendengar ucapan Aris.
Mereka bahkan langsung menatap wajah Aris. Wajah yang memiliki beberapa kerutan itu menunjukkan ekspresi serius. Farel langsung menunduk. Yang dikatakan Aris adalah benar.
"Kami bersaing secara sehat, Ayah! "balas Galih. Meski yang dikatakan Aris adalah benar, tapi Galih akan menyangkalnya. Ia begitu yakin bahwa persahabatan mereka tidak akan hancur hanya karena cinta seorang gadis.
Aris tersenyum kecut. "Ya. Jika kalian tidak merasa cemburu satu sama lain maka Ayah akan tenang. Sayangnya ... emm, Ayah mengenal kalian dan juga, rasa cemburu itu juga tidak baik. Kalian terbiasa mendapatkan apa yang kalian inginkan. Jangan munafik dengan mengatakan bersaing secara sehat. Sekarang hati kalian saling memusuhi, " ucap Aris.
Four Star bungkam. Mereka memang tidak pernah bisa membantah ucapan Aris. Pria paruh baya itu sangatlah bijak dan berwibawa. Sering kali mereka merasa beruntung memiliki Aris yang begitu bijak, namun ada kalanya mereka tertekan karena ucapan-ucapan Aris yang selalu saja benar.
Seperti kali ini, Aris menyadarkan mereka bahwa mereka bersaing untuk mendapatkan Egy maka artinya mereka bermusuhan. Meski mereka mengatakan akan bersaing dengan adil, semua itu tidak dapat menjamin bahwa hubungan persahabatan mereka akan tetap baik-baik saja nanti.
"Nak! Apa, kau, menyukai salah satu di antara mereka? "Claudia bertanya pada Egy. Egy terdiam, ia hanya mengamati satu persatu empat pemuda itu.
"Tidak, " jawab Egy.
__ADS_1
Jawaban itu membuat Aris dan Claudia terhenyak dan tergelak. Heran saja karena ada gadis yang menolak Galih, Davit, Rizky, dan Farel. Pantas saja mereka berempat menyukai Egy, ternyata gadis itu memang berbeda.
Lain lagi dengan Four Star, ekspresi wajah mereka berubah masam.
"Ah, kalian lihat? Gadis itu tidak menyukai kalian, " ujar Aris dengan penuh ejekan.
"Benar! Kalian menyerah saja, " cetus Claudia ikut mengejek.
"Yah, Bun! Bukannya dukung, eh, ini malah ngejatuhin. Anakmu ini benar-benar jatuh cinta tahu! " kesal Rizky.
Claudia memandang Aris yang berdiri di samping ranjang. Ia memberikan senyuman yang entah apa artinya hingga membuat Aris menghela nafas berat.
"Kalian jatuh cinta? "
Mendapati pertanyaan dari Aris, Four Star mengangguk dengan mantap sebagai jawaban.
"Dahlah. Nanti kalau ditolak nangis...! " cetus Aris.
"Ayah.... " rengek Four Star bersamaan.
"Baiklah-baiklah. Terserah kalian saja! " pasrah Aris.
Biar saja, dia tidak ingin melarang. Mereka tidak akan percaya sampai kejadian yang ia ucapkan benar-benar terjadi. Bukannya Aris ingin hubungan persahabatan mereka hancur, hanya saja kemungkinan itu terjadi sangat besar. Persahabatan bisa hancur karena cinta.
Aris beralih menatap Egy yang sejak tadi hanya diam mengamati. Egy balas menatap dengan senyuman manis. Aris membalas dengan senyum tipis lalu memalingkan wajah. Ia tak ingin lama-lama menatap netra Egy.
"Tatapan gadis itu entah mengapa membuat hatiku gemetaran takut. Tidak! Tidak mungkin! Anak itu sudah mati!"
*
*
__ADS_1
*
"Ayo masuk! "
Fika menggeleng. Kali ini ia benar-benar tak ingin mengikuti perkataan Agil, meskipun mereka sudah sampai di depan supermarket. Tadi ia sudah menolak untuk ikut Agil. Ancamannya saja justru membuat Agil kesenangan. Ia pikir dengan mengancam Agil akan menciumnya, pemuda itu mungkin saja ilfil. Eh, ternyata malah suka.
"Apa lagi? "
Fika resah. "Kak, motor Gue, tadi kita tinggal dipinggir jalan. Itu motor, Gue minjam, Kak. Kalau diambil orang gimana? "
"Ck! Gue udah suruh orang buat bawa motor, Lo, ke bengkel, " ucap Agil pada akhirnya membuat Fila bernafas lega.
"Ayo! " ajak Agil lagi untuk masuk ke dalam supermarket dan lagi-lagi Fika menggeleng membuat Egy menggeram kesal.
"Mau, Lo, apa sih? " kesalnya.
"Gue nggak mau apa-apa. Gue cuman mau pulang! " balas Fika yang membuat Agil semakin kesal.
"Nggak! "
Fika memelas. "Pokoknya Gue mau pulang! Pulang, pulang! Pokoknya pulang! " jeritnya.
Agil memijit pangkal hidungnya. Ingin rasanya ia langsung mengarungi Fika dan membawanya pulang daripada di sini membuatnya malu. Lihatnya, orang-orang yang ada di dalam supermarket saja menatap ke arah mereka.
"Ikut Gue dulu, " seru Agil lebih lembut, namun tetap tak membuat Fika luluh.
"Nggak! Pokoknya Gue mau pulang! Pulang! Titik, pokoknya pulang! " pekiknya, Fika bahkan mencak-mencak nggak jelas.
Agil mengacak rambut sendiri merasa gemas akan tingkah Egy.
"Oke. Kita pulang, tapi Gue punya satu syarat! " ucap Agil.
__ADS_1
"Syarat apa? " tanya Fika.
"Lo, jadi selingkuhan Gue. Jadi, ayo selingkuh! "