
"Gue suka sama Egy. Gue suka sama tingkahnya dan keberaniannya itu. Gue nggak nyangka bahwa kalian juga suka sama Egy. Ternyata Kita menyukai gadis yang sama, " ucap Farel setelah terdiam beberapa saat.
Galih menatap Farel. "Entah mengapa Gue tertarik sama Egy. Tingkahnya yang dengan berani selalu membantah Gue, buat Gue semakin tertarik sama, tuh, cewek. Selain Mami, nggak ada cewek yang berani ngebantah omongan Gue, " terang Galih menimpali.
Galih adalah tipe cowok yang banyak tingkah dan tidak suka ada yang membantah ucapannya. Hampir sama karakternya seperti Davit yang enggan menerima kata tolakan. Dan satu-satu wanita yang mampu membantah segala ucapannya adalah maminya sendiri. Bahkan maminya itu malah balik memerintah jika berdebat dengannya.
Dan kini Egy, mereka bahkan selalu bertengkar saat bertemu. Egy suka sekali melawannya dan cenderung tak suka padanya. Hal itu membuat Galih merasa tertantang untuk menaklukkan Egy.
"Gue suka sama dia dan Gue nggak tahu kenapa, " ucap Davit tiba-tiba. Sontak saja teman-temannya itu menatapnya.
"Maksud, Lo? "
"Gue juga nggak tahu. Begitu lihat dia, Gue langsung suka, " balas Davit pada Farel.
Jika yang lainnya mungkin menyukai Egy karena tingkah berani gadis itu pada mereka maka Davit tidak tahu apa alasan dia menyukai Egy. Seolah-olah Egy menariknya begitu saja. Ada sebuah rasa aneh yang membuatnya ingin begitu memperhatikan Egy. Mungkin ini yang orang katakan cinta.
Farel menghembuskan nafas lesu. "Bagaimana sekarang? Para wanita tua itu ingin kita segera punya pacar dan sekarang gadis yang kita incar adalah orang yang sama. Apa yang harus kita lakukan sekarang? " bingung Farel.
Apa mungkin Gue harus ngalah? pikir Davit.
Mereka terdiam sesaat. Sama bingungnya seperti Farel. Ini tidak pernah ada dalam bayangan mereka. Mencintai gadis yang sama? Hahaha.... Yang biasanya terjadi adalah cinta segitiga. Tapi yang terjadi dengan mereka sekarang disebut apa?
"Gue nggak akan ngalah. Gue nggak peduli setelah ini kalian bakal musuhin Gue! " lantang Davit.
"Apalagi Gue. Pantang bagi Gue buat nyerah sebelum perang! " sahut Galih.
Jika Davit saja tidak akan mengalah, lalu apa Galih akan menyerah? Tidak! Dia bukan pecundang.
"Gue juga nggak mau ngalah! Gue yakin bisa mendapatkan Egy! " Rizky 'pun tak mau mengalah. Meski memiliki sifat lemah lembut tapi dia bukan tipe orang yang mudah melepaskan apa yang ingin ia genggam. Lebih-lebih jika sudah berada dalam genggamannya, sampai kapanpun tidak akan ia lepaskan.
"Kalau gitu Gue juga nggak mau. Egy bakal jadi milik Gue, " tekad Farel akhirnya. Dia juga tidak akan melepaskan Egy. Bagaimanapun, dia juga tidak ingin menyerah sebelum berperang.
"Gue nggak akan segan untuk urusan ini, " ujar Rizky, mengingatkan pada teman-temannya itu bahwa dia tidak akan berlemah lembut. Tidak ada rasa sungkan untuk berjuang, meski musuh adalah teman sendiri.
"Lo pikir Gue akan segan? Jangan nangis nanti pas Egy jadi milik Gue, " balas Davit tersenyum miring.
"Gue emang nggak bakal ngalah gitu aja, tapi Gue harap persahabatan kita tetap baik-baik aja setelah ini. Kalau akhirnya Egy milih salah satu di antara kita dan itu bukan Gue, Gue rela. Setidaknya Gue udah berjuang buat dapatin dia, " seru Farel. Ia menatap teman-temannya itu dengan senyuman.
__ADS_1
Baginya, memang penting memperjuangkan cinta. Tapi dia juga tidak rela memustuskan banyak hubungan baik hanya demi menjalin hubungan baru. Persahabatan mereka bukan kisah baru, namun kisah lama yang ia harapkan bisa tuntas sampai maut memisahkan. Farel menganggap Davit, Rizky, dan Galih layaknya saudara kandung. Dia akan bahagia jika mereka bahagia.
*
*
*
Egy memasuki sebuah rumah sederhana dengan dominasi warna putih. Ia masuk tanpa permisi, hal biasa baginya masuk rumah itu bahkan tanpa izin si pemilik rumah.
Egy sampai di ruang tamu, ia dapat melihat seorang wanita paruh baya yang nampak asik menonton televisi. Egy tersenyum lebar menghampiri wanita itu.
"Bibi! " seru Egy duduk di samping wanita itu.
Itta, nama dari wanita paruh baya itu. Ia menoleh menatap Egy di sampingnya.
"Ada apa? " tanya Ita.
"Kak Agil mana? Kenapa kemarin nggak sekolah? " balas Egy dengan sebuah pertanyaan.
"Jadi di mana dia sekarang? "
"Ada di kamar! "
Setelah mendapatkan jawaban dari Itta, Egy melenggang menuju sebuah kamar di sudut ruangan. Tanpa meminta izin, ia langsung masuk ke dalam.
Ceklek!
Egy berdecak kesal begitu ia membuka pintu. Di atas ranjang, ia dapat melihat seorang pemuda yang tidur telentang. Egy berjalan mendekat, ia bekacak pinggang di samping ranjang.
"Enak banget, ya! Padahal Aku butuh banget saran dia. Eh, malah ngirim-ngirim pesan nggak jelas, ditelepon nggak diangkat. Sok misterius banget, anj**g! " omel Egy.
Seringai miring tiba-tiba muncul di bibir Egy. Otaknya kecilnya itu dengan licik merencanakan niat jahat. Ia menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya dengan seringai lebar menyeramkan.
Egy mundur beberapa langkah mengambil ancang-ancang.
"Hiyaak! "
__ADS_1
Bruk!
"Uggh! Bangs*t! " pemuda itu memekik kala Egy dengan tanpa perasaannya menjatuhkan diri di atas tubuhnya.
"Empuk, Kak! " Egy tertawa girang.
"EGY! " pekik pemuda itu.
Jika ingin tahu siapa dia, maka ingatkah tentang pemuda misterius penyebar rumor dan pengirim pesan pada Egy itu? Dia lah orangnya. Agil Ramadhan, si tetangga Egy namun merangkap menjadi saudara. Egy menganggap Agil layaknya kakaknya sendiri. Sebagai tetangga, Agil lah temannya sejak kecil. Jadi bisa dikatakan mereka adalah sepasang sahabat. Rumah mereka juga bersebelahan.
"Ugh! Pinggang Gue, mau patah! " keluh pemuda itu namun justru membuat Egy semakin tertawa riang.
"Enak tau! " ejek Egy.
"Minggir! "
"Nggak mau! "
"Minggir, Egy!"
"Nggak mau, Kakak! "
"Egy, kamu itu berat! "
"Iya, Egy tahu kok! " sahut Egy santai.
Agil memilih mengalah, ia membiarkan Egy di atas tubuhnya dan memeluk tubuhnya. Sekarang ia tersenyum dan mengusap dengan lembut kepala Egy.
"Gimana? Rencana kamu berjalan lancar? " tanya Agil.
"Ya! " jawab Egy singkat, ia mendongak menatap Agil. "Kak Agil kenapa nggak sekolah kemarin? Pake kirim-kirim pesan misterius, ditelepon nggak diangkat, apa maksudnya coba? Sok-sok an kirim pesan akan kembali ke sekolah. Emang udah berapa abad Kakak, nggak masuk sekolah? Setelah pertemuan di koridoor waktu itu, besoknya Kakak nggak berangkat. " cerocos Egy.
Agil tertawa. " Kenapa? keren, 'kan kayak di sinetron-sinetron, " ucapnya.
"Dasar korban sinetron! " Egy mengerucutkan bibirnya kesal.
Pengirim pesan-pesan itu bukanlah orang misterius. Sejak awal Egy sudah tahu bahwa Agil lah pengirim pesan itu, meskipun Agil mengirimkan pesan dengan nomor tak dikenal. Siapa lagi jika bukan Agil yang membantu trik-trik kecilnya itu? Agil, si tetangganya itu tidak pernah berdiam diri jika menyangkut tentang Egy.
__ADS_1