Dicintai Pria Tampan

Dicintai Pria Tampan
Malam yang merenggut kebahagiaan


__ADS_3

"Jalannya hati-hati, ya! Nanti ada mobil lewat lagi! " seorang wanita memperingati gadis kecil yang tangannya tengah ia genggam.


"Iya, Bunda, " balasnya.


Gadis kecil berumur delapan tahun itu adalah Egy. Egy bersama dengan Ayah dan Bundanya tengah berjalan santai di pinggir jalan. Mereka baru saja pulang dari membeli martabak, bahkan tangan sang ayah masih menenteng kantong plastik yang berisi martabak.


Jalanan tempat mereka berjalan menuju pulang ini memang sangat sepi karena malam yang telah larut, juga jalanan ini memang jarang ramai akan kendaraan.


"Maafin, Bunda, ya? Gara-gara Bunda, Ayah sama Egy harus kesusahan, " ucap Bunda Egy. Sang Bunda nampak merasa bersalah. Gara-gara dia yang ngidam kepingin makan martabak malam-malam, anak dan suaminya harus rela nahan kantuk berjalan di tengah malam.


Ayahnya Egy tersenyum. "Nggak apa-apa, Bun. Ini, 'kan permintaan dari adiknya Egy. Lagian ayah yang harusnya minta maaf. Maaf, ayah belum bisa bahagiain kalian. " Ayahnya Egy merunduk, mencium perut istrinya yang mulai membuncit.


"Ah, Egy juga mau cium! " pinta Egy dengan antusias.


Ayah dan Bundanya tertawa kecil, mereka menatap haru Egy kecil. Gadis kecil itu terlihat sangat menyayangi calon adik yang ada dalam kandungan bundanya.


"Nanti kalau dedek udah keluar, Kakak yang akan gendong adek pertama kali sebelum ayah. Pokoknya harus! " seru Egy.


Ayahnya membelai kepala Egy. "Iya, sayang. Dedeknya pasti senang digendong sama Kakak yang cantik, " balas Ayahnya.


Egy tertawa bahagia, sangat bahagia memiliki ayah dan bunda yang begitu menyayanginya. Apalagi akan hadir adik kecil. Egy merasa hidupnya benar-benar paling sempurna, ya, meskipun keluarganya tidaklah kaya. Egy senang memiliki ayah dan bunda. Mereka jauh lebih berharga dari harta manapun.


Sayangnya, kebahagian Egy itu terenggut malam juga. Mereka yang tangah bercanda ria di pinggi jalan tak menyadari ada mobil yang berjalan dengan cepat dan ugal-ugalan menuju ke arah mereka.


Ayah Egy yang melihat sorot lampu mobil ke arah mereka pun melongok ke belakang. Matanya membola saat melihat mobil mewah mewah melaju kencang ke arah mereka.


Brak!


Belum sempat menghindar, mobil itu telah menabrak mereka bertiga. Ayah Egy hanya bisa merengkuh anaknya itu dalam pelukan erat untuk melindunginya. Setidaknya ia telah berusaha melindunginya. Penyesalannya kini adalah ketika ia tak mampu melindungi istri dan calon anaknya.


Mereka bertiga terpental dan terkapar di jalanan dengan bersimbah darah. Ayah Egy yang masih setengah sadar masih tetap memeluk Egy, bahkan dengan sangat erat. Sedangkan ia juga dapat melihat istrinya yang tak jauh darinya jatuh berlinang darahnya. Ia menangis, menangis melihat wajah istrinya hanya penuh darah. Hantaman kuat dari tabrakan itu benar-benar membuat mereka sekarat.

__ADS_1


Terlihat mobil yang menabrak mereka berhenti, dari dalamnya turun empat orang pria dan wanita. Tak lama kemudian berhenti juga satu mobil, empat orang juga turun dari dalam mobil.


"Astaga! Kenapa kalian bisa menabrak mereka? " Seorang wanita yang turun dari mobil kedua nampak syok melihat satu keluarga kecil itu terkapar dengan bersimbah darah. Ia bahkan sampai menutup mulut tak percaya.


"Kalian benar-benar mabuk? Sudah kubilang lebih baik menunggu supir datang! " Seorang pria yang merupakan suami dari wanita tadi nampak sangat cemas.


Empat orang yang ada dalam mobil yang menabrak Egy itu terlihat berdiri dengan tak kokoh. Mereka terlihat sempongan. Jujur saja mereka baru saja minum-minum. Mereka, delapan orang itu baru saja pulang dari sebuah pesta besar. Dari delapan orang itu, hanya dua orang yang tidak mabuk.


Empat orang dalam mobil penabrak itu nampak ketakutan dan panik. Di sela-sela kesadaran mereka, mereka sadar mereka telah salah. Salah karena mengemudi dalam kondisi mabuk dan alhasil menabrak orang.


"Ini hanya kecelakaan! Ini bukan salah kita! " Wanita mabuk berbaju ketat itu menyalkan dan berdalih dengan alasan itu hanyalah sebuah ketidaksengajaan.


"Ya, ini bukan salah kita. Ayo, kita pergi dari sini! " Pria lain bersetalan jas yang telah acak-acakan ikut menyangkal. Ia bahkan dengan tega mengajak teman-temannya pergi tanpa bertanggung jawab.


"Tunggu! Kita tidak menolong mereka? Mereka mungkin belum mati! Kita harus menolongnya! "


Perempuan yang tidak mabuk tadi membentak. Ia merasa teman-temannya itu tidak manusiawi hingga tega meninggalkan Egy dan ayah bundanya yang sekarat.


"Kau, gila? Kau ingin orang-orang tahu kalau kita sudah menabrak orang? Aku tidak mau reputasiku hancur! " Wanita berbaju ketat tadi balik menyentak. Bahkan yang lainnya hanya diam melihat. Mereka di selimuti ketakutan yang sangat besar.


Sepasang suami istri yang dalam keadaan waras itu masih terdiam ketika teman-temannya telah berlalu menuju mobil. Mereka berdua masih kalut, mereka juga sangat takut.


"Ayo, kita tinggalkan tempat ini! "


Pada akhirnya, sang suami menarik lengan istrinya meninggal Egy dan kedua orang tuanya yang dalam kondisi mengenaskan. Sepasang suami istri itu tidak punya pilihan lain, mereka masih sayang keluarga, mereka tak ingin keluarga mereka hancur.


"**--to--long.... " Suara ayah Egy tercekat, ia berusaha meminta tolong pada mereka agar mereka mau bertanggung jawab.


Di dekapan ayahnya, Egy menangis. Tubuhnya yang terluka tak ia rasakan sakitnya. Ia sangat takut. Sorot matanya penuh kebencian melihat para pelaku itu berlalu ke dalam mobil. Egy, gadis kecil itu akan mengingat baik-baik wajah mereka.


"E--gy. Egy, dd--dengar Ayah! Egy harus hidup dengan baik dan bahagia, ya? Ayah sama Bunda sayang sama, Egy. K--kita selalu ada dalam hati Egy! "

__ADS_1


Itulah kata terakhir ayahnya sebelum menutup matanya untuk yang terakhir. Ayah Egy telah pergi, ia ikut menyusul bunda dan adiknya yang telah pergi lebih dulu. Bunda dan adik Egy meregang nyawa sesaat setelah ditabrak.


Sejak saat itu hidup Egy menjadi suram. Ia histeris dan depresi selama berbulan-bulan. Gadis itu begitu trauma bahkan ia tak segan-segan mencoba bunuh diri. Menurutnya ia lebih baik ikut mata bersama ayah dan ibunya.


Keluarga Egy yang lainnya berusaha menyembuhkan gadis kecil itu dari trauma. Mereka sampai-sampai membawa Egy ke rumah sakit untuk berobat kepada dokter psikiater terbaik. Beragam upaya mereka lakukan untuk menyembuhkan Egy.


Hingga akhirnya Egy sembuh, gadis itu kembali ceria seperti dulu. Dengan dibantu obat-obatan, Egy selalu merasa kepalanya sakit ketika bayangan kejadian itu terekam ulang. Hanya dengan obat-obatan dari dokterlah yang membantunya menghilangkan rasa sakit.


Egy telah kembali seperti dulu, menjadi gadis yang ceria dan manis. Sayangnya semua itu hanya kamuflase, dirinya yang asli penuh ambisi balas dendam. Masih teringat jelas siapa-siapa saja orang yang telah membunuh kedua orang tuanya. Egy berjanji akan membalaskan dendam di hatinya.


*


*


*


Saat ini Four Star dan juga Egy tengah berada di rumah sakit. Luka di kepala Rizky cukup parah, ia harus di rawat sementar. Dan untuk Egy sendiri, luka lecet di tangan dan kakinya juga sudah diobati.


Egy menunduk dihadapan keempat pemuda itu. Saat ini mereka tengah berada di dalam ruang rawat Rizky. Rizky yang berbaring di ranjang dengan kepala yang diperban. Sedangkan Egy dan tiga lainnya duduk di sofa.


Egy belum mengangkat wajah sama sekali ketika mereka menatapnya dengan lekat. Bukan apa-apa, Egy cuman merasa malu saja karena tadi menangis begitu kencang, apalagi sampai memeluk Rizky.


"Tangan, Lo, masih sakit? " tanya Galih meniti tangan Egy yang ada perbannya. Luka lecetnya memang kecil, tapi ada banyak dan berembuk.


"Nggak! " singkat Egy tanpa bergeming.


Egy menunduk juga untuk menetralkan emosi dan perasaannya. Jujur saja, melihat wajah mereka membuat Egy teringat akan para pelaku pembunuh ayah dan bundanya. Egy tidak ingin meledak sekarang. Belum saatnya mereka mendapatkan balasan, tunggu sampai rencananya berjalan lancar.


Kadang Egy merasa bersalah pada ayah dan bundanya. Ia bersalah karena kini ia justru sangat dekat dengan anak-anak dari para pembunuh itu. Namun Egy juga tak bisa apa-apa, hanya dengan begini maka dendamnya akan terbalaskan. Rasa sakit dihatinya mungkin tak akan pernah hilang meski dendam ini terbalas, tapi yang jelas ia akan merasa puas jika melihat mereka hancur.


Egy ingin menghancurkan mereka hingga para pelaku pembunuhan itu akan segan untuk hidup namun mati juga tak mau.

__ADS_1


"Oh, iya. Lo, kenapa nangis tadi? Padahal jelas-jelas yang luka parah si Rizky. Gue nggak nyangka, sih, bakal lihat, Lo, nangis untuk pertama kalinya, " celetuk Galih lagi. Jiwa julidnya pada Egy kembali muncul.


"Ho'oh. Emangnya kenapa, Lo, kok nangis histeris kayak gitu? "


__ADS_2