
Tibalah hari di mana perkemahan dilaksanakan setelah kemarin melakukan pemilihan ketua dan wakil ketua serta anggota osis baru. Tepatnya, perkemahan ini dilaksanakan selama tiga hari, yaitu hari jumat, sabut, dan minggu.
Perkemahan ini hanya dilakukan di lingkungan sekolah karena perkemahan ini dilakukan hanya untuk pendasaran dan pelantikan anggota osis baru.
Waktu menunjukkan pukul delapan lebih sembilan. Sekolah sudah ramai oleh anggota osis serta peserta pelantika. Beberapa di antaranya ada murid-murid yang sengaja di pinta untuk ikut perkemahan seperti Egy. Terlihat juga beberapa guru wira-wiri mengawasi murid-muridnya. Sedangkan untuk murid-murid yang tidak ikut perkemahan untuk sementara diliburkan.
Semua orang nampak sibuk membangun tenda. Egy yang mendapat regu cewek-cewek calon osis baru pun merasa sangat sial. Mereka tidak ada satupun yang mau membantu Egy membangun tenda. Mereka sengaja menyuruh Egy membangun sendiri, mereka sangat kesal pada Egy yang menjadi rebutan idola mereka, Four Star.
Regunya yang berisi cewek semua itu adalah fans berat dari Four Star. Mereka tidak menyukai Egy. Mereka berpikir Egy lah yang kecentilan terhadap idola mereka.
"Si alan! Tahu gini Gue benar-benar nggak akan ikut! " gerutu Egy.
Egy semakin mengeram kesal saat ia tidak bisa membangun tenda. Ia tidak bisa melakukannya karena dia memang belum pernah membangun tenda. Egy sangat-sangat kesal, terlebih lagi anggota regunya sengaja meninggalkannya sendiri.
Egy rasanya ingin menangis saat melihat regu lain sudah selesai mendirikan tenda di lapangan.
Dari kejauhan, Farel dan Galih yang berdiri berdampingan terkekeh melihat ekspresi kesal Egy. Kedua remaja itu sudah mengamati Egy dari tadi. Dan soal teman seregu Egy yang sudah mengerjai Egy, Farel dan Galih sudah menyiapkan balasan yang istimewa untuk mereka.
Mereka berdua berniat menghampiri Egy dan membantuny tetapi belum sampai mereka melangkah, mereka melihat kehadiran Rizky dan Davit di sana. Mereka melotot lebar melihat itu.
"Kok, Kak Davit sama Kak Rizky, ada di sini? " tanya Egy menatap Davit dan Rizky bergantian.
"Ya, ada aja gitu! " jawab Rizky santai.
"Loh, mana ada kayak gitu? Kalian di undang juga? " tanya Egy dengan polosnya.
Rizky dan Davit tertawa.
"Kalau kita mau, kita tinggal datang. Siapa yang berani melarang? " seru Davit dengan pongahnya.
Egy mencibir, " dasar semena-mena! "
Davit dan Rizky hanya tertawa.
"Sini biar Gue bantu! " seru Davit. Ia mengambil alih tenda dari tangan Egy.
"Lo duduk aja, ya! " ucapnya lagi. Egy mengangguk dengan berbinar, akhirnya ada pahlawan yang datang membantunya.
"Biar Gue aja! " Rizky tak mau kalah, ia berusaha merebut tenda itu. Davit menatap tajam.
__ADS_1
"Apaan, sih! Lo, duduk aja sana! " ketus Davit.
"Gue aja, Gue lebih pintar! " terang Rizky, mereka berdua kini saling tarik menarik tenda membuat Egy bingung melihat keduanya.
"Nggak mau! Gue duluan yang mau bantu tadi! "
"Gue aja! "
"Gue! "
"Gue ajalah! "
"Nggak usah, Gue bisa sendiri! "
Egy menghela nafas dan memijat pangkal hidung. Ia benar-benar pusing melihat mereka. Bukannya membantu, mereka justru membuatnya tambah stres. Mereka bertengkar tidak melihat tempat, semua orang kini menatap ke arah mereka. Lagian, mereka seharusnya bisa, 'kan bekerja sama membangun tenda itu tanpa harus berdebat seperti ini. Huh....
Sebenarnya ada dua tenda yang harus Egy dirikan, jika mereka mau, mereka bisa, 'kan berbagi tugas tanpa harus bertengkar seperti ini. Memang dasarnya mereka cari Perhatian di depannya.
"Yak! Kal---"
"Kalian kenapa bisa ada di sini? "
Serempak Davit dan Rizky menoleh. "Kenapa memangnya? " tanya mereka kompak.
Galih berdecak, " ck! Acara ini, tuh, cuman buat anggota osis aja! "
Rizky balas mencibir. "Egy juga bukan osis kali! "
Kali ini Egy setuju dengan ucapan Rizky.
"Tapi dia, Gue yang undang! " sahut Farel.
Davit balas tersenyum sinis. "Gue nggak butuh undangan apapun! Gue bisa datang kapan saja, terserah Gue! " tandasnya begitu sinis.
Egy maraup muka dengan kasar. Empat pemuda itu sama-sama berkuasa, siapa yang berani menghentikan pertengkaran mereka? Guru-guru saja malah asyik menonton.
Farel berpikir bahwa dengan mengajak Egy ikut perkemahan, ia bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan gadis itu. Ia lupa bahwa ada Galih yang pasti juga ikut karena dia adalah wakil ketua osis. Farel juga melupakan Davit dan Rizky yang bisa datang seenaknya tanpa ada yang melarang. Siapa yang berani melarang mereka, jika berani maka siap-siap saja mendapat masalah.
Ini jauh dari ekspektaxi Farel.
__ADS_1
"Kalian mengganggu acara ini! " ucap Galih.
"Mengganggu gimana? Gue, 'kan cuman mau membantu Egy! " balas Rizky yang mendapatkan anggukan setuju dari Davit.
"Nggak perlu! Gue sebagai ketua osis di sini yang akan bantu dia! " cetus Farel, ia maju mendekat dan merebut tenda itu.
"Lo, itu udah mau di ganti! " sengit Davit. Ia menarik tenda berwarna merah itu kembali.
"Iya mau tapi, 'kan belum, " santai Farel.
"Gue aja, sih! " Rizky ikutan berebut.
Egy benar-benar frustasi melihat pertengkaran mereka sekarang. Egy menepuk jidat, tingkah mereka benar-benar seperti anak kecil. Jangan lupakan bagaimana wajah Egy yang memerah menahan malu karena orang-orang yang berada di lapangan membangun tenda kini menatap ke arahnya.
Galih tak tinggal diam, ia ikut merebutkan tenda itu. "Gue aja! Kalian, tuh, duduk aja diam! Biar Gue tunjukkan skill mendirikan tenda yang benar! Nih, Gue ahlinya, " semprot Galih dengan pongahnya.
Davit, Rizky, dan Farel menarik sudut bibir, menyeringai. Begitu Galih maju memegang tenda, tiga pemuda itu mengangkat tangan ke atas layaknya maling yang tertangkap basah oleh polisi. Awalnya Galih mengernyit bingung, tapi akhirnya ia tersenyum senang karena teman-temannya itu mau mengalah.
"Nah, git---"
"Oke, deh! Egy, kalau gitu, ayo, kita duduk saja. Biarkan Galih yang mendirikan tenda, " seru Rizky dengan santainya berjalan mendekati Egy, diikuti Farel dan Davit di belakangnya.
Mereka bertiga menarik Egy untuk duduk di bawah dan melihat Galih yang akan mendirikan tenda. Heum, biarkan Galih yang mendirikan tenda sedangkan mereka bertiga duduk santai bersama Egy.
Galih melongo memegang tenda, ekspresinya benar-benar mirip seorang idiot. Sedangkan Egy menahan tawa melihat bagaimana wajah cengo Galih saat dibodohi teman-temannya sendiri.
Detik berikutnya Galih baru paham. Sahabat-sahabat laknatnya itu mengerjainya. Di antara mereka bertiga, memang Galih lah yang sering dibodohi dan ditindas. Galih memang kadang-kadang sangatlah polos, itulah sebabnya tiga temannya itu sering kali memanfaatkan kepolosannya itu.
"Si alan! " umpat Galih.
_____
Hai, guys. Teruntuk kalian yang udah mampir dan like serta fav cerita ini, makasih banget, ya! Aku senang banget tahu kalau kalian pencet tanda love uang kisah Egy ini.
Gimana nih, seru nggak? Seru dong, ya. Kasihan si Galih, ganteng sih, tapi rada bodor.
Buat readers terbayang, komen yuk! Aku butuh kritik dan saran kalian, kalian mau curhat di kolom komentar juga nggak papa. Aku tunggu jejaknya di kolom komentar, ya!
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan.
__ADS_1
Salam manis dari aku, bye-bye.... muach😘